Air mata ini pernah derai, saat hati begitu ruai, serta rindu yang membadai, karena jarak yang sukar tuk berdamai.
Tapi, saat langkahmu kian semu, dan kau menghilang dari lamunanku, aku berjanji untuk tak merintikkan sendu, karena kau bukanlah siapaku.
Terima kasih pernah menjelma asa, di waktu yang cukup lama. Akhirnya, cerita ini berakhir pada tahap wacana, tanpa kebersamaan yang pernah terlaksana.
Dan kini mata ini benar-benar terbuka lebar, bahwa berharap dalam ketidak-pastian yang wajar, adalah pilihan sakit hati dengan sadar.
Maaf jika pernah ada sajak yang membuat sesak, atau sikap serta kata tak sedap yang menjejak. Mungkin hati ini bolehlah retak, namun kupastikan ia tak akan rusak, dan akan menjelma lembah rindu yang kian semarak, tentunya untuk seorang yang akan mendampingiku kelak.
Imam Abdullah El-Rashied
Peternak Rindu.
Mukalla, 11 Okt 2022.
