Oleh: Pusvitasari*
Dia menyimpan banyak beban. Namun, tak mudah dia utarakan. Dia menyimpan banyak kepedihan. Namun, seringkali dia memilih diam.
Tertawa sekeras mungkin untuk menghibur diri. Mengokohkan bahu dan pundaknya di hadapan orang lain.
Kesadarannya terkontruksi, mengeluh baginya adalah kelemahan. Tak berguna dan masalahnya tak terselesaikan.
Maka dalam kesendiriannya dia menangis di ke gelapan. Di hadapan Yang Kuasa dia utarakan seluruh kepedihan. Tidak mengeluh, tetapi memohon dikuatkan daya kesabarannya.
Dalam sendiri dia mencari solusi. Dia tak akan bergantung pada siapapun. Maka dia berjuang keras memecahkan masalahnya sendiri. Memilih menjadi dokter sendiri untuk kesehatan tubuhnya. Memilih menjadi inspirator sendiri untuk ketabahan jiwanya.
Wajahnya yang penuh dengan ketenangan, tak akan mudah menampakkan luka batinnya yang begitu dalam. Ia berdamai dengan air matanya, kepedihan dan deritanya. Ia yakin di ujung derita ada senyum menunggunya dengan kasih.
Namun, dia memanglah anak pertama. Tak akan dengan mudah menyerah begitu saja. Berapa kali pun dia terjatuh, dia akan berjuang keras untuk segera bangun, bangkit, dan berlari.
Dia tau ada banyak yang mengharapkan. Maka tak akan dengan mudah dirinya mengecewakan. Dia paham banyak menunggu, jadi ia berproses menguatkan jiwanya untuk berbagi senyum kebahagiaan. Tanggungjawab baginya adalah sebuah kewajiban yang harus ditunaikan.
Maka, sekalipun batinnya terluka dalam, tangis di hatinya menyayat kalbu, hidupnya penuh derita, dia akan tetap tersenyum setegar mungkin di hadapan orang lain, dan berjuang untuk tak mengecewakan siapa pun.
Bukan begitu wahai engkau anak pertama perempuan?
Stay strong for everything. Engkau dilahirkan menaklukkan badai.
*Mahasiswi Jurusan Ekonomi Unes Padang
