Oleh: Fitri Niati*

Kali ini, tidak ada manusia yang benar-benar mengerti arti memiliki, ketika diri bukanlah milik sendiri. Apalah arti kehilangan, ketika sebenarnya kita tidak menghargai sesuatu saat bersama.

Apalah arti cinta, ketika kita menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah. Bagaimana mungkin, kita terduduk diam dengan patah hati atas sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Hening, bukan berarti tak sesak. Bising, bukan berarti tak lega. Kita bukan bertambah bahagia, hanya saja rapih dalam menyembunyikan luka.

Sejatinya, untuk mendapatkan kesempurnaan yaitu dengan saling menyempurnakan satu sama lain. Banyak manusia tidak ingin prosesnya tapi hasil. Namun, jika kecewa menganggap dunia tidak adil, padahal yang terbaik bisa dibentuk bukan dicari.

Mau sekuat dan sehebat apa pun berjuang, kalau yang diperjuangin itu manusia yang lahir dengan hati masih tertinggal di rahim ibunya, perjuangan itu ibarat nasi sudah menjadi bubur, alias sia-sia.

Orang yang mencintaimu memang bukan hanya aku, tetapi yang tetap mencintaimu di saat kamu mencintai orang lain itu hanya aku. Aku menangis bukan karena tidak bisa meluapkan emosiku, tapi aku menangis betapa luar biasanya rasa yang kudapatkan saat aku berusaha menahan segalanya untuk belajar sabar, dan ikhlas saat amarah di atas puncak. Sesungguhnya kesedihan yang paling sedih ialah kesedihan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata sedikit pun.

Pada akhirnya, sang petualang akan sampai di mana ia berhenti mencari dan menetapkan pilihan. Merasa cukup dan menemukan tempat yang ia sebut sebagai rumah.

*Mahasiswi Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol Unes

(Visited 34 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.