Oleh : Hamsah*

Piala dunia sebagai agenda empat tahunan yang telah menjadi tontonan menarik bagi penikmat, pecinta ataupun penggemar bola sejak tahun 1930. Artinya ada yang tidak terlalu suka dengan sepak bola tetapi suka atau ngefans dengan salah satu pemain bola, maka ia pasti juga tak akan ketinggalan dengan piala dunia.

Kalau penulis justru tidak masuk dalam ketiga kategori tersebut hanya saja suka dengan emosi para penggemar bola. Karena itu, penulis sangat minim pengetahuan tentang kontestasi piala dunia yang berlangsung di Qatar 2022.
Tidak mengikuti, menonton dan membaca news tentang piala dunia maka sudah pasti kita tidak punya pengetahuan tentang piala dunia. Ini seperti kata Aristoteles, manusia mempunya lima indera sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan. Maka barangsiapa yang kehilangan satu indera maka ia akan kehilangan satu potensi pengetahuan.

Namun berbeda pada situasional piala dunia, meskipun kita lengkap dengan indera kita tetapi tidak digunakan untuk sekedar menonton dan menyimak perkembangan bola, maka sudah pasti kita sedikit atau tidak memiliki pengetahuan tentang piala dunia. Sekedar tahu siapa pemenang, mungkin iya. Tetapi kita tidak memiliki struktur pengetahuan secara detail tentang piala dunia.

Seperti penulis, hanyalah memiliki beberapa informasi bukan struktur pengetahuan. Sekedar tahu siapa pemenang tetapi tidak mengetahui tentang jumlah gol setiap pemain, gol dicetak dari menit ke berapa, gaya tendangan seperti apa dan lain-lainnya. Berakhirnya piala dunia maka akan nampak dua wajah, berseri karena yang dijagokan menang, dan murung karena yang diperjuangkan ternyata tidak sesuai harapan.

Namun, semua itu adalah konsekuensi dari pilihan dan konsistensi kita dalam mengidola. Piala dunia sebagai ajang kompetisi namun tak luput juga sebagai nalar pengetahuan yang bisa memberikan berbagai pembelajaran. Penampilan dari kesebelasan Argentina menjadi pembelajaran bagi kita semua. Di mana tim tersebut pada awal-awal pertandingan ia harus kalah lebih awal dari kesebelasan Arab Saudi, tapi itu tidak membuat Argentina terpuruk, justru itu menjadi spirit bagi tim Argentina untuk mengevaluasi kelemahan dan akhirnya bisa tampil lebih ekstra dan memberikan permainan yang lebih cantik. Ibarat film laga, seorang bintang biasanya terlihat kalah di awal, akan tetapi sesungguhnya itu hanyalah bentuk untuk memainkan emosi penggemar, menyolidkan, dan menguji kesetiaan para fans, dan pada akhirnya bintang pasti menang.

Begitu pun dengan kekalahan kesebelasan Prancis pada babak final piala dunia tak kalah pentingnya dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran kepada kita semua. Dalam pertandingan tidak semua harus menang. Dalam kontestasi seperti ini berlaku teori biner. Ada siang ada malam, dalam pertandingan piala dunia pasti ada kalah dan menang. Namun, tidak juga harus kalah sebelum bertanding. Yang terpenting adalah usaha telah dilakukan, tapi proses akhir dalam pertandingan tidak bisa dikendalikan.

Euphoria piala dunia yang dirasakan oleh seluruh dunia dapat menjadi pemantik keilmuan kepada kita semua. Melalui kejuaraan piala dunia kita melihat ada kedewasaan dalam berkompetisi. Selama berlangsungnya proses piala dunia kita bisa hidup berdampingan dengan pilihan dukungan yang berbeda. Tidak ada gesekan-gesekan antar suporter meskipun mungkin ada tetapi luput dari pengamatan penulis. Hal ini betapa indahnya jika nalar piala dunia terbawa kepada kontestasi politik, di mana pilihan yang berbeda kita tetap bisa merasakan kerukunan tanpa harus saling menjatuhkan satu sama lain.

*Akademisi Universitas Negeri Manado

(Visited 38 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Hamsah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.