Oleh : Salsabila Mulya*

Sentuhan kasih sayang dan perhatian orang tua sangat dibutuhkan pada saat tumbuh kembang anak, terkhusus dalam perkembangan psikologisnya seperti pembentukan karakter, daya tangkap, dan kesehatan mental. Untuk itu dibutuhkan sebuah keluarga yang harmonis dalam menjaga tumbuh kembang anak, dan itu tanggungjawab orang tua yang tidak bisa diwakilkan.

Hal ini menjadi sangat penting, karena seorang anak jika tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya akan berdampak pada perkembangan mentalnya, stres, kecemasan, ceroboh, sulit berkonsentrasi, sulit dalam berinteraksi, takut melakukan sesuatu, masa bodoh, rendah diri, bahkan tidak percaya diri menapaki masa depannya.

Berdasarkan pengalaman yang pernah kualami ketika berumur delapan tahun. Waktu itu ayah pergi untuk selamanya meninggalkan aku dan Ibu. Sejak saat itu keluarga besar dari pihak Ibu berusaha membesarkanku dan membantu kehidupanku bersama ibu dengan sebaiknya. Namun, kasih sayang dari sosok ayah tidak dapat aku rasakan kembali, dan mengalami banyak tekanan.

Dari sinilah aku mulai mengalami gangguan mental dengan merasakan kecemasan berlebihan, ketakutan, dan sulit berinteraksi. Namun, seiring bertambahnya usia, sedikit demi sedikit aku mulai menerima kenyataan. Ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) aku tidak ingin lagi larut dalam gangguan mental seperti itu. Aku mulai bertekad ingin membanggakan keluarga dan membuktikan bahwa aku bisa seperti anak-anak yang lainnya.

Aku mulai melakukan berbagai cara agar menghilangkan gangguan mental ini. Salah satunya dengan memperkuat iman, berpikir positif, berusaha membuat keluarga dan orang sekeliling bangga dengan usaha yang aku lakukan. Hingga saat ini aku masih berusaha memperbaiki atau menetralisir gangguan mental yang ada di dalam diriku.

Dari sinilah aku mulai sadar bahwa hidupku berbeda dengan anak-anak yang lainnya. Kondisi membuatku harus berpikir lebih dewasa dari usia dalam menerima kenyataan tentang latar belakang, yang kemudian membentuk karakterku seperti ini. Namun, apa pun yang terjadi, aku harus bangkit merawat dan memupuk mimpiku membahagiakan ibu dengan segala kemampuanku.

Dari apa yang kualami dan rasakan dalam usia pertumbuhan, aku kemudian mengambil kesimpulan bahwa, “Seorang anak sangat membutuhkan sosok ayah dan ibu dalam tumbuh kembangnya, karena inilah awal mulanya perilaku dan mental seorang anak dibentuk”. Masih banyak anak-anak yang sama sepertiku di luar sana. Aku berharap semua orang dapat ke luar dari fase ini, dan mengucapkan, “Terima kasih pada diri sendiri” telah mampu berdiri kuat dan kokoh dalam melewati gelombang kehidupan.

*Mahasiswi Universitas Negeri Padang

(Visited 165 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.