Oleh : Ruslan Ismail Mage*
Dalam masa pergerakan bangsa menuju kemerdekaan, suatu waktu Bung Karno ditangkap kompeni untuk dipenjarakan membatasi pergerakannya. Dalam penjara Bung Karno berkata, “Kalian boleh memenjarakan fisik Bung Karno, tetapi tidak akan mampu membatasi gagasan dan ide-ide besarku dalam memerdekakan bangsaku. Selama ada celah udara selama itu ide-ide besarku akan keluar menembus batas ruang dan waktu. Karena sesungguhnya yang besar itu bukan Bung Karno, tetapi idenya”.
Pada lain waktu dan kesempatan, Bung Karno di depan para pemuda pergerakan berorasi dengan nada lantang, “Selama ada jiwa kaum muda di dadaku selama itu Indonesia tidak akan goyah diterpa badai dari luar, selama ada semangat muda dalam jiwaku selama itu jangan pernah coba-coba mengusik bangsaku dari luar, karena dengan pemuda aku sanggup memindahkan Gunung Semeru.

Bisa jadi dua pernyataan Bung Karno di atas yang menginspirasi Anies Rasyid Baswedan beberapa waktu lalu menggagas gerakan #Bawa Idemu. Gerakan cerdas bawa idemu ini diploklamirkan untuk seluruh pemuda Indonesia. Gaungnya menggema di angkasa, getarannya membangunkan kesadaran pemuda negeri ini untuk membawa idenya ke Jakarta.
Dari 34 provinsi seluruh Indonesia terkumpul 5000 ide kaum muda milenial, yang kemudian diseleksi menjadi 100 ide terbaik untuk dicatatkan dalam sejarah pergerakan ide kaum muda untuk bangsanya. 100 orang anak muda kreatif dan visioner pemilik ide itu diundang ke Jakarta bertemu dengan sang penggagas gerakan bawa idemu Anies Rasyid Baswedan.

Dalam pertemuan itu, tidak sedikit kaum muda pembawa ide itu tidak mampu menahan tangisnya, ketika Anies mengatakan, “Yang membawa kalian sampai di sini adalah idenya, bukan anak siapa, statusnya apa, darimana, dan memiliki apa, tapi ide dan gagasan kalianlah membawanya kesini, karena sesungguhnya negara besar ini dibangun oleh ide dan gagasan tentang masa depan”.
Adalah Matilda yang pembawa ide kreatifnya dari Nusa Tenggara Timur menyampaikan pendapatnya sambil terisak. Katanya setelah berkunjung ke Kampung Akuarium dan mendengarkan secara langsung kesyukuran warga bisa hidup layak setelah mengalami berbagai intimidasi pemimpin sebelumnya, ia tidak sanggup menahan tangis. Air mata Matilda semakin deras, karena tidak pernah membayangkan di balik kemegahan ibu kota Jakarta di layar televisi, ternyata masih ada saudara kami di Jakarta mengalami intimidasi dan penggusuran karena mempertahankan tempat tinggalnya.

Sambil menghapus air matanya, Matilda mengatakan, kami yang tinggal jauh di Nusa Tenggara Timur walaupun belum didukung infrastruktur tetapi kami berbahagia karena masih memiliki lahan dan rumah tinggal tanpa diintimidasi. Berbeda dengan saudara kami di Kampung Aquarium yang mengalami intimidasi pemimpim sebelumnya. Terima kasih kepada bapak Anies yang telah menyiapkan hunian layak Kampung Susun Aquarium kepada saudara-saudara kami warga berekonomi lemah di Jakarta.
Begitulah Anies menjawab fitnah dan hinaan dari segala penjuru mata angin untuk mendegradasi kualitas kepemimpinannya. Semua fitnah, nyinyiran, sampai hinaan tidak diladeni dengan kata-kata, tetapi dengan kerja nyata dan karya fakta yang tidak bisa terbantahkan. Anies bukan tipe pemimpin yang gemar bersilat lidah mengelak dari tuduhan, tetapi dengan data yang dimiliki dan kemampuan menjelaskan data serta pembuktian karya nyata adalah karakternya.
Itulah bedanya dengan pemimpin lain, yang menurut Matilda semua pemimpin bisa berorasi, berargumen, tetapi menjanjikan omong kosongnya, tidak mengayomi masyarakatnya. Pernyataan Matilda ini membuatku teringat dengan pernyataan Deng Xiaoping, pemimpin besar China yang dijuluki sebagai Bapak China Modern, yang menancapkan tonggak bagi pertumbuhan ekonomi China pada akhir abad ke-20.
Pernyataan terkenalnya yang membawa China menjadi raksasa ekonomi dunia ini adalah, “Jangan pernah menyimpulkan kebenaran dari harapan, tetapi simpulkanlah kebenaran dari fakta”. Kalau pernyataan ini dijabarkan, bisa dikatakan, “Jangan pernah percaya janji-janji pemimpin dan politisi yang mencari dukungan rakyat, karena pasti akan mengalami kekecewaan. Janji pemimpin atau politisi itu sesungguhnya adalah memberi harapan. Kalau harapan itu dianggap sebuah kebenaran, bersiaplah mengalami kekecewaan tingkat dewa. Itulah sebabnya Anies Rasyid Baswedan memberikan fakta kinerjanya selama menjadi Gubernur DKI Jakarta. Semua hasil kinerja nyatanya berangkat dari ide dan gagasan untuk menunaikan harapan rakyat. Jadi bawa idemu, eksekusi idemu.
*Akademisi, inspirator dan penggerak, penulis buku-buku motivasi dan politik
