Oleh: Gugun Gunardi*

Ungkapan yang berupa akronim Guru “Digugu dan Ditiru”, hingga saat ini masih berlaku. Penulis sudah menjadi seorang kakek masih mendengar ungkapan tersebut. Ungkapan tersebut seolah-olah melekat tidak lekang oleh zaman. Ia sampai saat ini, masih hidup dan masih digunakan oleh masyarakat. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh yang muncul berhubungan dengan guru.

Seperti yang tercermin di dalam Hymne guru:

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
S’bagai prasasti t’rima kasihku ‘tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa
Pembangun insan cendekia.

Ungkapan bagaimana seorang guru sangat berjasa membawa anak didiknya dengan pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui, tergambar jelas pada untaian lirik tersebut. Tanpa kehadiran seorang guru, insan cendekia tidak akan ada. Insan cendekia tak akan dilahirkan. Melalui sentuhan kasih sayang gurulah, insan-insan yang menguasai ilmu pengetahuan dilahirkan. Masyarakat pun beranjak menjadi manusia cerdas, memiliki wawasan yang lebih jauh, dan tajam. Guru adalah sosok yang membawa perubahan masyarakat ke arah lebih baik.

Seperti yang terungkap di dalam peribahasa Jawa “Guru Ratu Wong Atua Karo” yang artinya guru itu nomor satu sedangkan orang tua berada di urutan kedua adalah betul adanya. Sebab begitu berat tugas seorang guru yang mendapat titipan dari orang tua, yang berharap anaknya mendapatkan pengetahuan yang lebih baik lagi, demi bekal hidupnya di masa depan. Karena investasi teraman dan berkepanjangan adalah ilmu pengetahuan. Maka, berbagai upaya akan ditempuh oleh orang tua, agar anaknya menguasai ilmu pengetahuan lebih baik lagi, dan untuk tujuan tersebut membutuhkan kehadiran para Guru.

Tak sedikit dari para siswa yang mengidolakan guru mereka. Ini tercermin dalam kegiatan hari-hari ketika bermain-main, anak-anak sangat banyak yang ingin memerankan tokoh guru. Hal ini menunjukkan betapa tinggi dan terhormatnya sosok seorang guru di dalam imajinasi anak-anak. Maka tak salah jika Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru. Oleh karena itu, kehati-hatian seorang guru ketika bertindak akan menjadi perhatian masyarakat. Jangan muncul karakter guru yang lekat dengan ungkapan “Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari”.

Selamat Hari Guru. Semoga guru-guru Kita menjadi sosok pembawa perbaikan ke masa yang akan datang lebih baik lagi. []

*Dosen Unfari Bandung

(Visited 118 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.