Oleh: Muhammad Sadar*

Laksana memanggil nama seseorang yang berjarak dengan kita. Ibarat memuji seorang sahabat yang memiliki daya tarik dan pesona diri yang memukau. Padahal Cavendish memang nama seseorang, yaitu William Cavendish, warga negara berkebangsaan Inggris yang memperoleh kiriman buah pisang dari rekannya di Mauritius Afrika pada abad ke-17 lampau dan sukses membudidayakan pisang tersebut di negaranya. Akhirnya, komoditas ini dinisbatkan menjadi nama pisang Cavendish atas jasa pembudidayanya, William Cavendish.

Pusat Kajian Buah Tropika IPB(2009) melaporkan bahwa Indonesia merupakan tanah kelahiran pisang pada 4.000 ribu tahun lalu. Tidak heran, jika pisang menjadi bagian penting dalam konteks pangan,
budaya, dan kesehatan masyarakat Indonesia. Pisang dalam bahasa latin disebut Musa paradisiaca yang berarti buah surga. Di Indonesia terdapat banyak nama dan jenis pisang tergantung daerah berkembangnya. Sudah 15 jenis varietas yang dilepas pemerintah sebagai pisang unggulan nasional dari sekitar 300 lebih jenis pisang potensial yang ada di negeri ini.

Indonesia pada tahun 2021 memproduksi buah pisang sebanyak 8,74 juta ton. Produksinya meningkat 6,82 persen dari tahun 2020 sebesar 8,18 juta ton. Sedangkan konsumsi pisang tingkat rumah tangga berkontribusi 47,7 persen terhadap konsumsi pisang dalam negeri (BPS, 2021). Bahkan, FAO menyebut bahwa jenis pisang yang paling banyak diperdagangkan antar negara adalah pisang jenis Cavendish yang menyumbang sekitar 47 persen dari produksi global.

Adalah Dr. Bahtiar Baharuddin, M.Si sejak dilantik pada 05 September 2023 selaku Penjabat Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan, menetapkan beberapa kebijakan prioritas pembangunan, di antaranya program ketahanan dan kedaulatan pangan. Beliau melakukan terobosan program sebagai bagian dari pengentasan kemiskinan ekstrem di daerah dan perdesaan. Implementasi program tersebut melalui Gerakan Gemar Menanam Pisang disingkat G2MP.

Jenis pisang yang menjadi domain utama program adalah pisang Cavendish. Dalam perkembangannya, program ini telah dilakukan berbagai kegiatan pembahasan baik berupa sosialisasi rapat koordinasi,
bimbingan teknis, dan pelatihan bagi petugas yang disebut dengan Training of Master (TOM) dan Training of Trainer (TOT) hingga pelatihan tingkat lapang berupa Sekolah Lapang (SL) serta aksi lapangan melakukan penanaman pisang Cavendish bersama para pemangku kepentingan.

Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan dalam gerakannya sangat intensif melakukan penjajakan kerja sama dan kolaborasi dengan pihak lain sekaitan pengembangan pisang Cavendish. Bahkan, pada 27 November 2023 lalu antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melakukan Memorandum of Understanding bersama PT. Yas Exports Internasional tentang pembelian hasil budidaya pisang cavendish. Beliau menegaskan,”Ekosistem bisnis telah dibangun dan ada contract farming. Kita telah membangun sistem bisnisnya dari hulu sampai hilir.”

Sebagai informasi, Gubernur mentargetkan luas tanam pisang Cavendish di Sulawesi Selatan seluas 500 ribu hektare dengan estimasi populasi tanaman sebanyak 2.000 pohon per hektare. Sehingga setahun ke depan populasi Cavendish berpotensi menjadi 1 miliar rumpun dengan rentang masa tanam dan panen selama 8-9 bulan.

Obsesi Gubernur menghendaki Sulawesi Selatan sebagai penghasil terbesar buah tropis favorit dunia ini karena Cavendish merupakan komoditas bisnis global dan masyarakat saat ini setiap waktu mengonsumsi Cavendish sebagai kebutuhan nutrisi.

Gubernur mendorong setiap pemerintah daerah kabupaten/kota untuk mendukung pengembangan pisang Cavendish di daerah masing-masing dengan menggunakan lahan atau kebun yang belum maksimal pemanfaatannya. Pembinaan, pendampingan, dan pengawalan kegiatan akan melibatkan semua komponen agriculture expert, para pemandu lapang, dan kegiatan ini akan berbasis di masyarakat.

Implementasi berikutnya, pada hari Selasa, 12 Desember 2023 oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan cq. UPT Pelatihan SDM Pertanian menyelenggarakan Sekolah Lapang Pengembangan Budidaya Pisang di Kabupaten Barru. Hadir dalam acara ini Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru, para PPL dan BPP wilayah kerja Kecamatan Barru,
para trainer pisang Cavendish, serta perwakilan petani tujuh kecamatan sebanyak 22 orang. Acara pelatihan SL difasilitasi dan diatur oleh Fungsional Penyuluh Pertanian UPT Pelatihan SDM Pertanian Provinsi Sulawesi Selatan, Ardy Nasruddin, S.P.

Pada sesi pembukaan acara, panitia pelaksana Ardy Nasruddin, S.P. menyampaikan laporan, “Sekolah Lapang hari ini secara serentak dilaksanakan pada 15 lokasi SL dari 13 kabupaten/kota peserta. SL ini akan dipandu oleh para instruktur yang telah mengikuti pelatihan TOM dan TOT, baik di provinsi maupun di kabupaten. Penyampaian materi akan dipanel selama 15 menit per narasumber dan dilanjutkan sesi diskusi maupun sesi lapangan.”

Pada sambutan dan arahan, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru menyampaikan beberapa poin prospek pisang Cavendish. “Telah ada jaminan kepastian pasar dan terjalin kerja sama off taker yang akan langsung menyerap hasil panen pisang petani. Lokasi SL ini sebaiknya nanti dijadikan tempat percontohan atau pilot project.” Beliau juga menguraikan beberapa manfaat pisang Cavendish dengan mengemukakan komposisi nutrisi yang dikandungnya, seperti vitamin A, B6, C, serat, protein, kalium, folat, dan magnesium. Beliau menambahkan bahwa pisang bagian dari budaya masyarakat kita, simbol kejantanan, dan identik dengan pekerja keras.

Beliau menutup arahannya dengan menyebut tantangan penyakit pisang, yaitu penyakit darah dan berharap petani bisa mengatasinya. Oleh karena itu, beliau minta kepada peserta SL untuk memperhatikan materi para trainer dan menerapkan ketika di lokasi masing-masing.”

Selanjutnya, para pelatih menyampaikan materi yang diawali oleh Bapak Umar Pawiloi. Suplemen materinya adalah perbanyakan pisang secara konvensional. Beliau memperagakan teknik perbanyakan pisang selain perbanyakan melalui cara kultur jaringan, namun cara tersebut berteknologi tinggi dan hanya dikerjakan di laboratorium standar bioteknologi.

Narasumber menjelaskan perbanyakan tanaman pisang melalui bonggol melalui tiga metode, antara lain metode BIT, PIF, dan Split. Selanjutnya, beliau mempraktikkan cara persiapan bonggol pisang untuk penanaman dengan kelengkapan bahan, yaitu air bersih, fungisida, ZPT, dan perlakuan lain berdasarkan SOP.

Materi kedua disampaikan oleh trainer Hamisah, S.P., M.P. terkait agroekologi tanaman pisang dengan menguraikan syarat tumbuh yang meliputi ketinggian tempat, kemiringan lahan, rejim suhu, serta beberapa tips pemeliharaan tanaman pisang Cavendish. Termasuk juga di dalamnya beliau uraikan persyaratan mutu, grade, dan prospek pasar Cavendish.

Berikutnya pemaparan materi oleh TOM Cavendish, masing-masing Bapak Yoyok Bhakti Sugiyo, S.P. dan Andi Bahtiar, STP., M.P. Secara detail TOM Yoyok mengawali materinya dengan aksi lapangan, mengajak peserta untuk mengidentifikasi gejala permulaan kerusakan fisik tanaman pisang yang disebabkan oleh gangguan hama atau penyakit tanaman.

Di bawah tenda SL kembali TOM Cavendish Yoyok secara eksplisit menguraikan berbagai jenis virus, bakteri, patogen, serangga, nematoda, serta cara pengendalian penyakit pisang. Terutama penyakit layu fusarium dan penyakit darah yang menjadi momok bagi petani. TOM Yoyok menekankan deteksi dini awal gangguan penyakit serta penggunaan bahan trichoderma dalam pencegahan.

Sedangkan TOM Cavendish Andi Bahtiar menuntun peserta dalam materi panen dan pascapanen Cavendish. Beliau menegaskan komoditas ini bukan pisang biasa seperti yang ditanam petani saat ini. Butuh kehati-hatian dalam penanganannya. Faktor lingkungan dan sikap petani menjadi penentu keberhasilannya.

TOM Andi Bahtiar juga menyampaikan skema kredit usaha rakyat dan rencana plafond biaya usaha tani pisang. Melalui kebutuhan modal 100 juta rupiah per hektare, petani sudah bisa memulai penanaman pisang Cavendish.

Pada masyarakat di Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Barru, pisang telah menjadi bagian hidup masyarakat. Tiada hari tanpa jamuan pisang, baik olahan mentah maupun olahan jadi. Namun, bukan pisang jenis Cavendish.

Dalam bahasa lokal, pisang disebut loka atau utti. Penyebutan dan nama olahannya pun beragam. Jenis pisang terkadang disebut loka barangeng,loka manurung, loka tanru, loka batu, loka dadi, loka panasa, atau loka-loka. Sedangkan hasil olahan pisang pun bervariasi, antara lain sanggara loka, sanggara jemmu, sanggara peppe, sanggara balanda, anjoro, jepa loka/tunu loka, barongko, pallubutung, pasau loka/lapisi loka atau pisang ijo, dan pisang epe yang lebih keren istilahnya.

Pada akhir acara, penulis yang berkapasitas sebagai penguji perbibitan tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan mewakili Kepala Bidang TPHBun didaulat oleh panitia untuk melakukan closing ceremony.
Penulis berharap kepada petani peserta SL Cavendish untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan praktik budidaya yang baik terhadap pisang Cavendish. Suatu komoditas pisang yang berbeda dari pisang yang lain. Oleh karena itu, penanganannya harus maksimal. Terkait petunjuk teknis akan lebih lanjut dibuat draf dan akan menjadi rujukan kepada petani dan para agriculture expert dalam pengawalan dan pendampingan.

Penulis merilis pantun untuk komoditi pisang ini.

Cavendish… ooh…
Cavendish kualitasmu setara dengan hargamu.

Cavendish…ooh…
Cavendish hargamu selevel dengan khasiatmu.

Cavendish…ooh…
Cavendish khasiatmu menyehatkan konsumenmu…

Cavendish…ooh…
Cavendish pembudidayamu kau jadikan masyarakat sejahtera.

Cavendish…ooh…
Cavendish menjadilah pisang yang tetap tumbuh, tegak, dan bertahan lama di liang tanam petani Barru.

Barru,12 Desember 2023

*Penguji Perbenihan dan Perbibitan TPHBun Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru

(Visited 232 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.