Oleh: Rosmawati

Merdeka, semoga bukan hanya sekadar kata yang maknanya terkubur dalam ilusi. Bagai suara gemuruh di malam sepi membahana, namun tak mengusir lengang.

Hari ini 17 Agustus 2024 usia negeriku genap 79 tahun, usia yang sudah mapan dan mampu mandiri, itu harapan kami sebagai anak negeri.

Hari ini di bawah kibar bendera gagah melambai, kami berharap semoga tak ada lagi jelata merintih di negeri ini, ratapi nasib yang tak menentu. Harga meroket tak mampu terbeli lagi, seperti salah satu syair lagu Iwan Fals.

Lapangan kerja terhimpit, kalah saing dengan tenaga luar negeri hingga penduduk lokal tak mampu bertahan di tanah pijak. Merantau sebuah pilihan demi berrtahan hidup.

Sebagai pejuang pena, meski lisan tak mampu berteriak, namun kami tak kehabisan tinta untuk terus mengobarkan semangat kemerdekaan fisik dan jiwa.

Semoga senjata pena ini mampu menembus jantung penghuni negeri, seperti kata Sang Inspirator sekaligus founder Bengkel Narasi dan Pena Anak Indonesia, Ruslan Ismail Mage yg biasa disapa Bang RIM bahwa senjata pena itu buta, memiliki mata elang, cengkraman harimau dan penciuman ngengat sutera. Sekali tinta bisanya keluar, publik memberikan penghukuman.
Mari kita menjadi pahlawan Pena mengisi kemerdekaan dengan semangat juang tanpa pamrih.

Jangan pikirkan yang mau ditulis, tapi tulislah apa yang dipikirkan. Semangat terus, jadilah pendekar pena di negeri ini hingga pembenci pun tersipu malu (RIM).

Dirgahayu Indonesiaku!
Jaya negeriku

(Visited 18 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.