Oleh: Sumardi

Rabu malam tanggal 30 Juni 2021 cuaca di bilangan  Pramuka Jakarta Timur terasa agak panas. Malampun terus berlari kencang menemui pagi. Kurang lebih pukul 23.00 penulispun akhirnya masuk kamar dengan pendingin udara sesuatu yang sesungguhnya kurang nyaman bagi penulis karena memang tidak terlalu suka dengan dinginnya AC. Tidak lama kemudian  Kamis dinihari  kurang lebih pukul 01.30 kutariklah kasur keluar dan tidurlah penulis di luar kamar untuk menghindari udara dingin dari mesin pendingin udara. Terasa lebih enak tidur di luar kamar. Sebelum adzan Subuh Masjid At-Taqwa di belakang rumah berkumandang terjagalah aku dengan perasaan badan pegal, demam dan sedikit rasa malas. “Tubuhku memberi sinyal negatif, ini pertanda bahwa  badanku hari ini sedang tidak bagus”, gumamku saat itu juga.    

Tanpa berfikir panjang Kamis pagi saya ke dokter langganan penulis di sebuah Klinik Kesehatan di bilangan Rawasari Jakarta Pusat untuk berobat. Setelah menyampaikan berbagai keluhan kesehatanku saat itu juga langsung aku diperiksa oleh dokter dan diberi obat penawarnya. Dengan langkah mantab  pulanglah penulis ke rumah. Dengan membaca Bismillahirohmanirrohim obat itu aku minum sesuai dengan petunjuk dokter. Sebagaimana kebiasaan sebelumnya bahwa untuk sakit ringan seperti masuk angin, demam dan batuk umumnya sembuh dengan obat-obatan dari klinik tersebut. Dokter yang menangani juga dipastikan telah melihat secara kronologis catatan medik (CM) penulis yang berada di klinik tersebut. Sebuah optimisme yang didasarkan kepada pertimbangan riwayat pengobatan selama ini.    

Kamis seharian, Kamis malam sampai dengan Jumat pagi ternyata tidak ada progress yang berarti mengenai kondisi kesehatan penulis. Demam, sakit kepala dan batuk bercampur menjadi satu. Bahkan sangat terasa kondisi badan bukannya semakin baik. Suatu hal yang lain dari hari biasanya. “Apakah saya terkena Virus Covid-19”, sebuah pertanyaan menyelidik mencurigai diri sendiri. Setelah sholat Jumat tanpa berlama-lama penulis mendatangi sebuah Klinik Kesehatan di bilangan  Rawamangun Jakarta Timur. Klinik tersebut memang biasa penulis kunjungi ketika membutuhkan Surat Keterangan tidak terpapar Virus Covid-19 sebagai  persyaratan menggunakan moda transportasi udara atau darat ketika penulis melakukan perjalanan dinas. Sayapun ditanya oleh seorang dokter perempuan belia mengenai riwayat sakit saya termasuk obat yang telah dikonsumsi dan kondisi saat ini. Dokter itu setengah membujuk penulis agar melakukan swab antigen untuk memastikan  kondisi saya apakah positif atau negative terhadap Virus Covid-19. Dengan setengah keberatan, saya sampaikan, “dokter…kondisi  fisik saya sehat dan bagus hari ini jadi saya pikir tidak perlu dilakukan swab antigen”.  Namun pada akhirnya saya mengikuti nasihat dokter untuk terlebih dahulu dilakukan swab antigen. Setelah diambil sample melalui dua lubang hidung tak lama kemudian keluar hasilnya. Benar bahwa penulis positif terpapar Virus Covid-19. Petugas juga menyampaikan juga bahwa jika masih kurang yakin dengan akurasi hasil swab antigen, penulis dipersilahkan untuk melakukan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) yang tingkat akurasinya kurang lebih sampai dengan 95%. Penulispun berusaha tenang dan tidak emosional menanggapi hasil tes ini. Kondisi fisik penulis saat itu memang fit, sehingga tidak perlu terlalu khawatir. Setelah diberikan satu paket obat, vitamin dan antibiotik penulis diminta untuk melakukan isolasi mandiri di rumah selama 14 (empat belas) hari dengan tidak lupa makan dan minum yang bergizi, minum obat dan vitamin serta tidak lupa untuk rutin berolahraga.      

Jumat malam dan seterusnya sampai dengan Minggu malam kondisi penulis terus menurun. Demam, sakit kepala, panas dan batuk bercampur menjadi satu. Kepala terasa seperti dipukul oleh sebuah benda besar. Terasa sakit sekali dan memang tidak seperti biasanya. Makanpun terasa hambar sehingga harus dipaksa untuk makan. Penulispun sempat kehilangan daya penciuman selama dua hari namun berangsur-angsur pulih kembali dan mampu  merasakan bau minyak kayu putih. Alhamdulillah penulis tidak menagalami permasalahan pernafasan sebagaimana para penderita Covid-19 lainnya. Dalam kondisi demikian penulis yakin bahwa memang benar Virus Covid-19 itu benar-benar ada di sekitar kita dan penulispun merasakannya.  Untuk lebih meyakinkan lagi maka Senin pagi tanggal 5 Juli 2021 penulis melakukan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) di sebuah klinik di bilangan Haji Ten, Jakarta Timur. Sampel itu kemudian diuji oleh Pusat Riset Virology dan Pathobiology Kanker Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Lagi-lagi hasilnya memang penulis positif mengidap Virus Covid-19 memperkuat hasil swab antigen sebelumnya.

Setelah selama kurang lebih seminggu dengan menerapkan disiplin istirahat, disiplin makan yang bergizi, minum obat serta vitamin juga menerapkan pola pikir positif dan optimis serta tidak lupa terus berdoa secara perlahan-lahan penulis merasakan perkembangan kondisi kesehatan yang semakin membaik. Demam, panas dan sakit kepala sudah mulai menjauh tinggal batuk-batuk kecil saja yang masih sering mengganggu di malam hari. Nafsu makan juga semakin membaik seiring dengan perkembangan kesehatan yang juga semakin membaik.     

Dari sharing pengalaman pribadi di atas, penulis berepesan kepada pembaca budiman bahwa Virus Covid-19 sekali lagi memang benar-benar ada di sekitar kita. Oleh karena itu sebagai bentuk ikhtiar kita sebagai hamba Allah SWT perlu kiranya kita semua menjaga kesehatan masing-masing dengan tetap memakai masker, menjauhi kerumunan, menjaga jarak atau social distancing, selalu mencuci tangan, serta mengurangi mobilitas kecuali untuk hal-hal yang sangat penting sekali. Tidak lupa untuk selalu berfikir positip dan selalu optimis. Jaga imunitas tubuh kita masing-masing dengan tetap bergembira dan berbahagia. Seandainyapun terpapar Virus Covid-19 hendaknya tidak perlu panik. Yakinlah bahwa Allah SWT akan menyembuhkan hambaNya. Berprasangka baiklah kepada Allah Yang Maha Kuasa. Tetap berikhtiar dan pasrahkan hasilnya kepada Allah SWT. Segera hubungi dokter atau rumah sakit jika dari isolasi mandiri tidak menampakkan perkembangan yang menggembirakan. Selamat beraktivitas Saudaraku semua. Salam sehat.  

Matraman, 14 Juli 2021

Penulis: Praktisi Manajemen SDM Aparatur

(Visited 51 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sumardi

One thought on “Virus Covid-19 Ada di Sekitar Kita”
  1. Semoga pak Sumardi sudah sembuh total. Amin. Saya dan keluarga juga pernah kena gejala2 seperti Covid-19, badan meriang hilang penciuman dan perasa, agak sesak nafas. Terjadi bulan januari lalu. Tapi istriku yg juga tenaga medis, tidak menganjurkan kami ke RS untuk periksa, cukup dirumah saja, minum air hangat, gosok badan dengan minyak kayuputih, minum vitamin, berjemur….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.