Allahu Akbar …Allahu Akbar … Allahu Akbar… Laa ilaaha illallah wa llahu akbar Allahu Akbar walilillah ilham. Gema takbir berkumandang silih berganti di setiap masjid. Menggetarkan, membangkitkan rasa yang bersemayam di sudut hatiku yang terdalam.Air mata sudah tak terbendung lagi.Gembira menyambut lebaran Idul Adha yang sebentar lagi, namun dibalik itu, ada rasa sedih yang menyelinap, menghampiri kehampaan hati yang merindu.
Terbayang 2 bulan yang lalu saat Lebaran Idul Fitri, perasaan yang sama itu terulang lagi.Aku berharap keluarga kecilku dapat berkumpul di momen yang suci ini. Namun harapan tinggallah harapan. Aku dan putriku merayakan lebaran dipisahkan jarak dan waktu.Sepi,hampa tanpa tawa dan candanya. ”Rindu”, itulah rasa yang ada di hatiku saat ini. Perasaan itu mendera batinku,sehingga apapun yang aku lakukan terasa hambar. Makanan khas Bugis pada saat lebaran” burasa dan nasu lekku” sepertinya tidak bersantan. Kue brownies kegemarannya hanya terpajang di atas meja tanpa ada yang menyentuhnya. Memandangi fotonya yang berparas cantik dengan senyum manis tersungging, membuat rindu itu semakin membuncah.Ingin sekali memeluknya, berdekap raga, menumpahkan semua rasa yang selama ini sudah tak terbendung lagi. Wahai ruang dan waktu, kepadamu aku hanya bisa berpasrah diri.
Putriku tercinta yang berada di tempat pengabdiannya, Ibu rindu nak. Pandemi Covid-19 ini telah membuat jarak diantara kita semakin tak terjangkau. Doa Ibu selalu mengiringi langkah- langkahmu. Pangabdianmu untuk Bangsa tercinta semoga membawa berkah. Ibu ingin setiap langkah pengabdianmu menjadi bermakna. Tugas yang kamu emban sungguh mulia nak. Keikhlasan dan ketulusan hati menjalani semuanya akan menjadikanmu manusia yang sempurna. Tetaplah kuat, tangguh dan rendah hati dalam menjalani kehidupan ini. Jadilah sosok yang selalu dirindukan. Walaupun engkau jauh, namun selalu terpatri di lubuk hati, dekat di doa. Itulah arti hadirmu nak.
Semoga waktu akan berpihak pada kebersamaan kita. Ibu rindu anakku sayang.
Watansoppeng, 19 Juli 2021
