Oleh: Parmawati

Pada suatu malam tepatnya pukul 20.20 tanggal 12-7-2021, ketika membuka handphone ternyata ada pesan dari anakku yang merantau lima tahun lalu di Provinsi Papua Barat. Isi pesannya lumayan panjang, ada tiga paragraf seperti berikut.

Mama, anakmu yang dulu hanya mengandalkan modal nekat dan keberanian meninggalkan kampung dan keluarga untuk mencari nafkah membantu papa dan mama serta biaya adik-adikku yang masih kuliah, kini mulai membuahkan hasil berkat doa tulus mama tanpa henti untukku.

Mungkin apa yang anakmu sudah capai ini, bisa membuat mama bersyukur dan bangga, tapi belum bisa memberikan apa-apa buat adik-adiku di kampung. Pencapaianku belum seberapa dibanding pengorbanan mama yang telah melahirkanku, merawatku, membesarkanku, dan menjagaku hingga remaja.

Dalam kondisi berjauhan ini anakmu hanya bisa berdoa, ya Allah ya Rabb, pertemukan aku dengan mama dan adik-adikku. Aku ingin bersyujud di kaki mama, juga bisa siarah ke makam papa dan nenekku yang sudah meninggal setelah aku pergi. Tanpa terasa mataku basah sambil menutup handphone.

Keesokan harinya Selasa 13 Juli 2021 sekitar pukul 09.20 pagi jelang siang, saya duduk sendiri di tempat kerjaku sambil mengingat anak yang lagi dirantau. Tiba-tiba pesan Watshapp di handphone masuk manyadarkanku dari lamunan. Setelah saya buka, ternyata foto selembar kertas yang bertuliskan di atasnya SURAT KEPUTUSAN BUPATI TELUK BINTUNI.

Rasa penasaranku terus berkecamuk untuk terus membaca. Ya Allah ya Rabb, ternyata itu surat keputusan Pemerintah Daerah Teluk Bintuni di Papua Barat yang menyatakan anakku lolos tes CPNS. Air mataku tumpah seketika mengalir deras , dalam bathinku mengucapkan rasa syukur kepada Allah Swt.

Apakah ini yang namanya air mata kebahagiaan?, kataku terus dalam hati, Air mata ini tidak bisa terbendung lagi sampai rekan rekan guru di tempatku mengajar tidak sengaja mendengar dan melihatku menangis. Mereka menghampiriku dan bertanya, bunda lagi kenapa? Sebelum saya menjawab air mata ini lebih deras lagi keluar dan tersedu-sedu.

Saya berusaha tenang dan menjawab, tidak apa-apa cuman aku terharu, bahagia dan bercampur sedih. Anakku yang pergi merantau di Provinsi Papua Barat lolos CPNS. Temanku langsung memelukku dan mengucapkan selamat. Alhamdullillah bunda anaknya telah lolos CPNS. Teman-teman guru berkata, itulah hasil jerih payah bunda membimbing dan keikhlasan bunda pada anaknya. Terimakasih ya Allah ya Rabb, semoga anakku selalu berjalan di atas rel kebenaran yang Engkau Ridhoi. []

(Visited 120 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.