Foto: Dihimpun dari berbagai sumber di Medsos

Dari balik keluguan seragam putih biru, tersungging senyum polos, dan harapan masa depan. Rupanya menyimpan kisah menyayat hati yang terjadi di sebuah ruang kelas di Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah. Seorang siswi MTs menjadi korban perundungan oleh tiga teman sekelasnya, dalam sebuah insiden yang tidak hanya menyisakan luka fisik, tapi juga trauma psikologis mendalam.

Sebuah video pendek yang memperlihatkan kejadian tersebut tersebar luas di media sosial dan memicu kemarahan publik. Dalam rekaman tersebut, terlihat jelas korban dianiaya secara fisik oleh ketiga pelaku. Bahkan, terdapat upaya untuk menelanjangi korban, tindakan yang sangat tidak manusiawi dan jauh menyimpang dari nilai-nilai pendidikan serta kemanusiaan.

Kejadian memilukan ini terjadi di ruang kelas, saat para pelajar masih mengenakan seragam sekolah. Ironisnya, tempat yang seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk belajar justru berubah menjadi tempat yang mencederai martabat dan keamanan seorang siswi.

“Siapa yang tidak hancur hatinya melihat anaknya diperlakukan seperti ini?” ucap salah seorang warga. Masyarakat pun menyesalkan terjadinya kekerasan di lingkungan sekolah, yang semestinya menjadi tempat tumbuhnya nilai-nilai kebersamaan, kasih sayang, dan saling menghormati.

Perundungan bukan hanya persoalan luka di badan, tapi juga luka batin yang bisa menetap seumur hidup. Anak-anak seharusnya saling merangkul, bukan memukul. Mereka harus saling melindungi, bukan menyakiti.

Insiden perundungan ini terjadi pada Rabu, 10 September 2025, namun videonya baru tersebar luas pada Sabtu, 13 September. Publik dibuat geram, terlebih saat para pelaku terlihat meninggalkan kantor Polsek Sindue dan disambut teriakan hujatan dari warga sekitar.

Pihak kepolisian bersama aparat desa kemudian memfasilitasi mediasi antara kedua belah pihak. Hasilnya, kasus tersebut diselesaikan secara damai di Polsek Sindue, ditandai dengan jabat tangan dan pelukan antara korban dan pelaku. Namun, penyelesaian ini justru menuai kontroversi dan ketidakpuasan dari publik.

Banyak netizen menyuarakan kemarahan mereka di media sosial. Akun @thtafdhla22 menulis, “Kasih kembali ke orang tuanya, suruh didik sendiri. Kalau tidak, akan makin banyak korban.”

Akun @tasyaivanaang mengungkapkan, “Kasih lebih malu lagi supaya tahu rasa. Bukan cuma korban yang rasakan trauma dan sakit hati. Perbuatan seperti ini seharusnya tidak ditoleransi!”

Sementara akun @_mayah.saidi meminta ketegasan dari pihak sekolah, “Hukuman sosial tidak cukup. Sekolah dan guru kelas harus menunjukkan sikap tegas!”

Kritik juga datang dari akun @rahmawaty_176, yang mempertanyakan, “Serius ini tidak ada sanksi dari sekolah? Teman-teman yang mengeroyok malah terlihat bangga di atas mobil, tidak ada rasa bersalah sedikit pun!”

Akun @ronxxdt14 menyoroti kemungkinan korban terpaksa menerima perdamaian karena tekanan, “Cuma jabat tangan dan pelukan damai? Tidak masuk akal. Korban pasti sudah takut dan terintimidasi.”

Akun lain, @a.raturatname, menegaskan bahwa penyelesaian damai bukan solusi jangka panjang, “Kalau terus dibiarkan damai seperti ini, kasus bullying akan terus berulang. Harus ada sanksi tegas agar jadi efek jera bagi pelaku dan pelajaran bagi yang lain.”

Kasus ini menjadi peringatan serius bagi semua pihak, orang tua, sekolah, dan Masyarakat, bahwa kekerasan di lingkungan pendidikan adalah ancaman nyata yang harus ditangani dengan tegas. Damai bukan berarti selesai. Tidak ada ruang toleransi bagi perundungan, terlebih jika menyasar anak-anak yang masih dalam masa tumbuh dan belajar.

Sekolah harus menjadi tempat yang aman, ramah, dan mendidik. Bukan arena kekerasan. Saatnya kita bersatu dan bersikap! Stop bullying di sekolah! Lindungi anak-anak dari kekerasan teman sebaya!.

Sumber: video yang beredar di medsos

(Visited 39 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.