Dalam perjalanan saya sebagai pembaca, editor, dan praktisi penerbitan, saya semakin sering menjumpai satu gejala yang menggelisahkan; semakin banyak tulisan yang ingin terlihat hebat, dan semakin sedikit tulisan yang benar-benar ingin bertahan. Kalimat-kalimat dirapikan hingga nyaris steril, metafora dipoles agar terdengar cerdas, dan gagasan dibungkus sedemikian rupa supaya tampak “layak pasar”. Namun, justru di situlah sering kali ruh tulisan perlahan menghilang.
Di banyak ruang publik daring, jumlah tulisan meningkat tajam, tetapi kualitas naratif yang menyentuh dan reflektif justru terasa langka. Misalnya, sebuah tulisan opini populer menyebut fenomena ini sebagai “penulis brutal”; penulis yang menulis secara serampangan, mengejar eksistensi, atau popularitas instan tanpa memperhatikan kedalaman isi. Tulisan yang lahir seperti itu memberi kesan ada banyak tulisan, tetapi makna yang benar-benar dirasakan oleh pembaca justru minim.
Di media digital, strategi clickbait yang memprioritaskan judul sensasional untuk menarik klik telah menjadi praktik umum. Fakta menunjukkan bahwa penggunaan clickbait pada judul berita sering kali meningkatkan interaksi pembaca, tetapi juga menimbulkan kritik karena pemenuhan konten tidak sesuai janji judul. Ini merefleksikan fenomena tulisan yang ingin menarik perhatian daripada bertahan lewat kualitas konten
Studi menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang tinggi berpengaruh negatif terhadap kemampuan menulis mendalam pada siswa; karena konten media sosial cenderung cepat, dangkal, dan instan. Akibatnya, generasi muda terbiasa dengan bentuk tulisan yang singkat dan kurang reflektif, sehingga kualitas tulisan sebagai bentuk ekspresi bermakna menjadi tergerus.
Dalam dunia akademik pun perkembangan tren publikasi menunjukkan adanya peningkatan penggunaan hiperbola dalam tulisan ilmiah dengan tujuan menarik perhatian atau bersaing untuk publikasi. Analisis terhadap jutaan artikel menunjukkan bahwa sejak 2000 hingga dekade terakhir ada kecenderungan meningkatnya referensi panjang dan bahasa hiperbolik yang justru menurunkan keterbacaan dan objektivitas. Hal ini mencerminkan tekanan industri akademik untuk tampil impresif, namun bukan selalu menghasilkan tulisan yang benar-benar bertahan sebagai kontribusi jangka Panjang.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di media digital atau media sosial, itu juga terekam dalam kritik budaya literasi yang menyebut banyak orang mampu berkomentar atau “menjadi penulis” di ruang publik daring, tetapi tanpa karya kontemporer yang matang atau reflektif. Disebut sebagai “penulis tanpa tulisan”, fenomena ini menggambarkan kritik yang hingar-bingar tetapi tanpa produk tulisan yang substansial, yang menunjukkan paradoks dalam budaya literasi: banyak bicara, sedikit menulis.
Sebaliknya, saya justru sering dihadapkan pada tulisan-tulisan yang secara teknis tidak sempurna, bahkan kadang nyaris ditolak oleh logika industri: bahasanya sederhana, strukturnya belum mapan, dan temanya dianggap terlalu personal atau terlalu kecil untuk layak dipasarkan secara luas. Namun tulisan-tulisan inilah yang diam-diam bertahan. Ia tidak memamerkan kepiawaian, tidak berambisi menjadi besar, dan sering kali lahir dari suara-suara yang belum “diasah” oleh standar profesional. Ia hanya ingin jujur. Barangkali justru karena itulah ia hidup lebih lama.
Di laman Pena Anak Indonesia, misalnya, kita menemukan puluhan reportase harian dan cerita mini sederhana dari anak-anak yang menulis tentang hari mereka: pengalaman mengikuti upacara 17 Agustus, mendeskripsikan kegiatan sebagai panitia sekolah, atau bahkan pengalaman pribadi kecil seperti “Wisuda Kakak” yang ditulis dengan bahasa yang spontan dan jujur oleh Aisyah Shafira Yunus. Cerita-cerita ini bukan dibuat untuk memenuhi standar estetika tinggi atau dikurasi demi tren pasar, tetapi lahir dari narasi pengalaman hidup anak, yang pada banyak pembaca justru menumbuhkan rasa akrab dan nostalgia terhadap masa kecil atau pengalaman serupa. Tulisan-tulisan sederhana seperti ini, meskipun dalam struktur naratifnya jauh dari “sempurna” dalam ukuran industri, bertahan dalam kenangan pembaca karena keterhubungannya pada pengalaman riil mereka.
Hal serupa dapat dilihat di Bengkel Narasi, sebuah komunitas literasi yang membuka ruang bagi siapa saja untuk menulis tanpa harus terkekang oleh standar teknis yang ketat. Di platform ini, kita bisa menemukan artikel-artikel reflektif dan narasi harian yang lahir dari tulisan pengguna biasa, seperti kisah “Menguji Kebodohan” atau “Di Atas Langit, Masih Ada Langit”; tulisan yang tidak selalu tampak sempurna dari segi struktur atau diksi, tetapi mampu menyentuh pembacanya dengan ketulusan dan kedalaman makna yang tidak dibuat-buat.
Contoh-contoh tersebut mengilustrasikan bahwa nilai sebuah tulisan tidak semata dari kepiawaian teknis yang spektakuler, tetapi dari kapasitasnya untuk terhubung, menjangkau, dan tinggal bersama pembaca waktu yang lebih lama. Tulisan sederhana, jujur, dan personal sering mengambil jalur paling langsung menuju empati pembaca; suatu hal yang tidak selalu dicapai oleh tulisan yang hanya ingin terlihat hebat menurut standar industri.
Di sinilah persoalan literasi dan industri buku mulai berkelindan. Ketika standar “layak terbit” semakin ditentukan oleh tren, algoritma, dan selera pasar jangka pendek, literasi perlahan bergerak menuju wilayah yang elitis. Bahasa harus tertentu, tema harus relevan secara komersial, penulis harus memiliki daya jual. Tanpa disadari, banyak suara tersisih bukan karena tidak bermakna, melainkan karena tidak kompatibel dengan logika industri.
Padahal, literasi tidak pernah lahir sebagai ruang eksklusif. Ia tumbuh dari kebutuhan manusia untuk bercerita, memahami, dan dimengerti. Ketika literasi menjadi terlalu elitis, ia kehilangan fungsinya sebagai jembatan, dan berubah menjadi pagar.
Dalam konteks ini, saya semakin yakin bahwa tulisan tidak harus selalu mengubah dunia. Narasi heroik tentang tulisan yang “mengguncang peradaban” sering kali terlalu dibesar-besarkan dan pada akhirnya membebani penulis. Tidak semua tulisan ditakdirkan menjadi manifesto. Tidak semua buku harus menjadi tonggak sejarah. Dalam praktik penerbitan, tuntutan semacam ini justru kerap mematikan keberanian menulis.
Kadang, cukup jika sebuah tulisan mengubah satu pembaca. Satu pembaca yang merasa dipahami. Satu pembaca yang menemukan keberanian untuk bertahan. Satu pembaca yang akhirnya percaya bahwa suaranya pun layak dituliskan.
Dampak semacam ini memang tidak tercatat dalam laporan penjualan atau grafik distribusi. Ia tidak viral. Ia tidak spektakuler. Namun justru di sanalah literasi menjalankan fungsi sosialnya yang paling jujur.
Sebagai praktisi penerbitan, saya memahami bahwa industri buku harus bertahan. Ada biaya, ada rantai produksi, ada realitas ekonomi yang tidak bisa diabaikan. Namun, persoalannya bukan pada keberadaan industri, melainkan ketika logika industri menjadi satu-satunya penentu nilai sebuah tulisan. Saat itu terjadi, kita tidak hanya menyaring naskah, justru kita sedang menyaring kemungkinan.
Menjaga harapan di tengah industrialisasi buku berarti berani membuka ruang alternatif. Memberi tempat bagi penulis-penulis baru. Menerima tulisan-tulisan yang belum rapi, tetapi hidup. Mengakui bahwa antologi, komunitas literasi, dan gerakan menulis akar rumput bukan hanya pelengkap ekosistem, melainkan penopang utamanya.
Setiap penulis baru yang diberi ruang adalah bentuk perlawanan sunyi terhadap penyeragaman. Setiap tulisan jujur yang diterbitkan adalah investasi jangka panjang bagi kebudayaan. Dan setiap pembaca yang disentuh adalah alasan etis untuk terus melanjutkan pekerjaan ini.
Buku antologi “New Day New Hope” berdiri di persimpangan itu: antara industri dan idealisme, antara standar dan keberanian, antara pasar dan harapan. Ia mengingatkan kita bahwa masa depan literasi tidak hanya ditentukan oleh buku-buku besar, tetapi oleh ruang-ruang kecil yang terus kita jaga.
Selama masih ada satu pembaca yang tersentuh, harapan belum selesai. Selama kita masih bersedia memberi ruang bagi suara-suara baru, literasi akan terus menemukan jalannya; meski perlahan, meski tanpa sorak-sorai.
Selamat Tahun Baru 2026. New Day New Hope! []
