Di pinggiran hutan Bukit Togang, tumbuhan itu tumbuh subur di antara semak belukar. Masyarakat mengenalnya sebagai Katidiang Boghuak—si kantong semar yang unik.
Bagi Tek Ses, tumbuhan ini bukan sekadar tanaman hias, melainkan “panci alami” yang diberikan Tuhan untuk dapur mereka.
Pagi itu, Tek Ses pergi ke perbatasan hutan untuk memetik Katidiang Boghuak yang sudah cukup besar dan kuat. Ia memilih yang coraknya cantik dan kantongnya masih kokoh.
Sesampainya di rumah, Katidiang Boghuak dicuci bersih, dibuang bagian tutup atasnya, lalu dibersihkan bagian dalamnya.
Tek Ses kemudian memasukkan adonan Limpiang (pisang dan tepung) atau beras ketan (Sipuluk) langsung ke dalam kantong-kantong tanaman tersebut.
“Memasak dengan Katidiang Boghuak ini ada seninya,” kata Tek Ses sambil menata kantong-kantong berisi adonan itu ke dalam kukusan. “Kulit kantong semar ini tipis tapi kuat.
Dia akan mengunci uap di dalam, dan getah alaminya memberi rasa manis yang sangat khas pada Sipuluk.”
Ketika waktu salat tiba, Tek Ses sudah siap dengan nampan besar. Di atasnya berjejer puluhan Katidiang Boghuak yang sudah matang.

Bentuknya yang unik—bulat lonjong dengan warna yang sedikit berubah setelah dikukus—membuat anak-anak di Masjid An-Nur langsung berkerumun.
Kami duduk melingkar di teras masjid. Cara makannya pun unik: kami mengupas kulit Katidiang Boghuak itu seperti mengupas kulit telur rebus, menampakkan Sipuluk atau Limpiang yang sudah padat dan berbentuk persis mengikuti bentuk kantong tersebut.
“Rasanya lebih lemak (gurih) dan wangi hutan,” celetuk salah seorang kawan sambil mengunyah Sipuluk hangat.
Tek Ses hanya tersenyum melihat kami lahap. Di teras Masjid An-Nur, kearifan lokal dari Bukit Togang itu menyatukan kami. Katidiang Boghuak—si kantong semar yang sederhana—telah berubah menjadi hidangan istimewa yang merayakan kekayaan alam Baluang dan Lontiak.
