Alya menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang remang. Di atas wastafel, berderet botol-botol kecil berisi serum, toner, hingga krim malam berlabel harga mahal.
Namun, wajahnya tetap terlihat kusam. Bukan kusam karena debu, melainkan kusam karena lelah yang menumpuk—deadline kantor yang mencekik, kurang tidur, dan hati yang terus-menerus merasa gelisah.
”Mungkin aku perlu ganti merek lagi,” gumamnya sambil menghela napas.
Tiba-tiba, suara azan Maghrib berkumandang dari masjid di ujung jalan.
Getarannya terasa sampai ke dadanya. Alya tertegun. Sudah berapa lama ia tidak benar-benar “hadir” saat menghadap Sang Pencipta? Selama ini, salatnya hanya sekadar gerakan cepat demi menggugurkan kewajiban di tengah kesibukan.
Ia menyalakan kran. Air dingin mulai menyentuh kulit tangannya.
Saat air menyentuh wajahnya untuk pertama kali, Alya teringat ucapan neneknya dulu: “Wudhu itu bukan cuma cuci muka, Al. Itu cara kita luruhkan dosa lewat tetesan air.”
Ia mulai membasuh wajah dengan perlahan. Ia tidak terburu-buru. Ia merasakan setiap tetes air menyapu sisa kelelahan di pori-porinya.
Alya membayangkan bahwa bersama air itu, luruh pula rasa iri yang sempat ia rasakan pada teman kantornya, luruh pula amarahnya pada kemacetan tadi sore.
Pada basuhan kedua dan ketiga, ia merasakan kulitnya mendingin. Secara medis, ia tahu air wudhu membantu mengecilkan pori-pori dan menjaga kelembapan alami kulit secara konstan karena dilakukan berkali-kali dalam sehari. Namun, secara batin, ia merasa ada sesuatu yang lebih besar sedang bekerja.
Basuhan Tangan: Melepaskan beban pekerjaan yang membuatnya kaku.
Basuhan Kepala: Mendinginkan pikiran yang tadinya mendidih karena stres.
Basuhan Kaki: Menenangkan langkah yang selama ini terlalu ambisius mengejar dunia.
Setelah selesai, Alya tidak langsung mengeringkan wajahnya dengan handuk. Ia membiarkan sisa-sisa air itu meresap ke kulitnya.
Saat ia kembali menatap cermin, ada sesuatu yang berbeda. Wajahnya memang masih sama, tapi matanya terlihat lebih hidup. Ada ketenangan yang tidak bisa dibeli dari botol serum mana pun. Wajahnya tidak hanya bersih, tapi tampak bercahaya—sebuah binar yang datang dari rasa ikhlas dan pasrah.
Ibunya masuk ke kamar dan tertegun melihat Alya yang sedang mengenakan mukena. “Kamu pakai skincare apa, Al? Kok kelihatan segar sekali?”
Alya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sudah lama tidak ia tunjukkan.
“Hanya air kran, Bu. Ternyata wudhu itu skincare paling mahal yang pernah aku punya, tapi gratis.”
Malam itu, Alya tidur dengan nyenyak. Tanpa beban di pundak, tanpa gelisah di hati. Ternyata, rahasia kecantikan sejati bukanlah tentang apan yang kita tempelkan di wajah, melainkan tentang apa yang kita bersihkan dari dalam jiwa.
