Oleh: Sesbania grandiflora*

Jika memperhatikan peta kepulauan negeri kita, maka Center Point of Indonesia tepat berada di Pulau Sulawesi yang bermodel huruf K. Sepanjang jalan negara yang dimulai dari arah selatan ibukota Provinsi Sulawesi Selatan menuju arah utara, terbentang sebuah wilayah kabupaten yang berjarak antara 100-150 kilometer dari Makassar. Diantara perbatasan Kabupaten Pangkep dan Kota Parepare terletak Kabupaten Barru sebagai poros area yang memiliki luas wilayah 1174,72 kilometer persegi.

Menandai momentum peringatan hari jadi Kabupaten Barru ke-66 tahun yang diperingati setiap tanggal 20 Februari sekaligus setahun pemerintahan Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, S.H.,M.Si dan Wakil Bupati Barru DR.Ir.Abustan Andi Bintang, M.Si, maka masyarakat Barru merasa patut bersyukur atas berdirinya sebuah daerah kabupaten yang mengatur pemerintahannya sendiri. Sejarah telah mencatat bahwa, pada mulanya Barru merupakan wilayah swapraja dalam masa penjajahan kolonial Belanda dan beberapa daerahnya berstatus distrik dibawah pemerintahan afdeeling Kota Parepare pasca Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia hingga tahun 1959. Melalui mandat Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 Tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi, sehingga wilayah Barru terbentuk menjadi pemerintah daerah otonom pada tanggal 20 Februari 1960.

Pada awal berdirinya menjadi daerah otonom, Kabupaten Barru memiliki 5 wilayah kecamatan, namun dengan pertimbangan sejarah, kapasitas perkembangan daerah dan jumlah penduduk yang semakin bertambah serta fungsi pelayanan pemerintahan kepada masyarakat semakin diperkuat, akhirnya jumlah kecamatan diperluas menjadi 7 wilayah yang terdiri atas 54 desa/kelurahan. Di antara kecamatan tersebut antara lain Mallusetasi, Soppeng Riaja, Balusu, Barru, Tanete Rilau, Tanete Riaja dan Pujananting.

Keadaan geografis Kabupaten Barru merupakan daerah bertipologi perairan dengan garis pantai sepanjang 78 kilometer yang berhadapan langsung dengan laut selat Makassar di sebelah barat. Bentang alam yang lain terdiri atas wilayah dataran rendah, menengah dan wilayah pegunungan yang dihuni oleh penduduk sebanyak 195,38 ribu jiwa dengan kepadatan 160 jiwa perkilometer. Potensi sumber daya alam yang lain meliputi sektor pertanian secara luas (tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, peternakan dan kehutanan) serta sektor perikanan dan kelautan yang berkontribusi terhadap pembangunan daerah Barru selama ini.

Lapangan usaha dan jasa lain yang menjadi pekerjaan hajat hidup penduduk Barru seperti perdagangan dan konstruksi, real estate, energi, pertambangan/galian, industri atau pengolahan, informasi dan komunikasi, transportasi, konveksi/percetakan, UMKM, hotel/cafe/restoran, katering dan rumah makan, perbankan atau jasa keuangan lainnya, pelayanan jasa medis, pariwisata maupun perbengkelan/otomotif.
Masing-masing sektor tersebut memiliki keunggulan absolut dan relatif didalam mensupport pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus membentuk PDRB Kabupaten Barru yang berkembang setiap tahun.

Dengan letaknya yang sangat strategis dan berada pada poros nasional sepanjang 67 kilometer sebagai ruas jalan utama penghubung sektor barat Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Barat, Tengah dan Utara, membuat daerah Barru memiliki keunggulan komparatif wilayah dengan memanfaatkan ruang terbuka sepanjang jalan sebagai rest area bagi para pelintas antar kabupaten/kota atau provinsi. Mobilitas penduduk dengan intensitas tinggi sangat memungkinkan penyiapan suatu tempat representatif untuk meluangkan waktu istirahat perjalanan. Pada kondisi traveling tersebut, maka dibutuhkan berbagai pelayanan makanan atau minuman untuk mengurai keletihan perjalanan para traveller.

Atas potensi akses jalan nasional tersebut, maka menjadi inisiatif peluang usaha produktif bagi masyarakat di dalam penyediaan olahan food and beverage sepanjang area pelintasan Kabupaten Barru. Mulai perbatasan Kota Parepare pada bagian utara ibukota Barru atau wilayah Kecamatan Mallusetasi hingga bagian selatan di Kecamatan Tanete Rilau yang berbatas dengan Kabupaten Pangkep, telah tersebar berbagai spot dan rest area atau tempat persinggahan kendaraan yang menyiapkan aneka ragam kuliner khas daerah Barru. Kapasitas dan kelas pelayanan termasuk harga dan ketersediaan fasilitas pendukung bisa dilihat dari kemampuan SDM, legalitas usaha maupun kepadatan kunjungan konsumen.

Jika memulai persinggahan dari arah utara ibukota Barru tepatnya di wilayah Mallusetasi maka akan dijumpai beragam rumah makan (RM) dalam berbagai type, nuansa tempat, daya tampung maupun sediaan menu. Pada area ini tercatat beberapa rumah makan antara lain RM Dua Tujuh, RM Kasogi 02 dan RM Raja Ikan 03 yang khusus mengandalkan menu palekko dan aneka sea food seperti ikan bakar parape, atau ikan masak pallumara dengan pengunjung dari berbagai golongan. Suguhan suasana laut lepas turut membersamai pengunjung menikmati kuliner pada rest area di kawasan ini.

Lain lagi spot Kupa Beach Restaurant yang terkemas dalam layanan restoran dan cafe yang spesial dioperasikan oleh Pacebo tour and travel dengan segmen khusus pengunjung yaitu pelancong manca negara dan MICE event. Habitat yang masih asri meliputi rimbunan pohon kelapa yang menyelimuti ruang pelayanannya yang didalamnya telah terbangun gazebo atau cafe lounge serta lingkungan pantai sebagai pencirinya. Ada lagi Kios Citra Kupa, Setuju Beach, dan RM Mallusetasi sebagai lokus rest area plus view laut lepas dengan parkiran luas yang ditujukan bagi pengendara roda dua dan roda empat hingga grup wisata. Rest area ini menyajikan beragam makanan berat atau snack dan olahan juice buah tropis.

Masih dalam wilayah Kecamatan Mallusetasi yang merupakan domisili penulis, spot kuliner yang memanjakan para pengendara dalam pelintasannya yaitu RM Karang Puluh dan RM/Hotel Arum Pala dengan kategori pengunjung spesial yaitu bus-bus AKAP yang melakukan perjalanan antar kota antar provinsi disamping minibus dan mobile van. Tak jauh dari titik tersebut terdapat deretan usaha penganan masyarakat yang telah berusia hampir setengah abad lamanya. Output produknya dikenal dengan identitas lokal gogos, yaitu olahan pangan beras ketan hitam yang dibakar dalam bungkusan daun pisang yang serupa dengan lemper namun bahan lauknya menggunakan telur asin masak. Pada kawasan ini, berdiri pula jenis rumah makan dengan brand Resto and Cafe Pesona Bahari dan RM Empangku yang memantulkan spot kulinernya dalam nuansa pemandangan laut-selat Makassar.

Pada pemandangan laut dari spot area kuliner Pesona Bahari atau RM/Hotel Arum Pala sekaligus tampak pula dikejauhan sebuah pulau eksotis yakni Dutungan Island. Pulau fantastis berbentuk gunungan yang terlepas dari daratan Pulau Sulawesi ini menjadi destinasi wisata bagi pengunjung setiap hari dan pada hari libur nasional atau akhir pekan tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan lokal maupun manca negara. Dari dalam pulau tersebut telah tersedia berbagai sarana atau wahana seperti hotel dan berbagai kelas tempat inap eksklusif. Arena permainan flying fox, banana boats, plus area bebas swim, scuba diving and snorkeling turut menjadi pelengkap fasilitas pulau. Tak ketinggalan pula tentunya beragam pilihan menu kuliner untuk mendukung aktivitas liburan para pengunjung di Pulau Dutungan.

Pilihan spot rest area lain yang meliputi out let prasmanan ala lokal khusus menyiapkan makanan dan minuman bagi driver truck dan mobil kontainer atau kendaraan minibus lainnya juga tersedia di kawasan Mallusetasi yang sandaran lokasi pelayanannya diliputi lautan sejauh mata memandang. Lalu berbeda dengan penyajian menu yang ada di Kecamatan Soppeng Riaja yang berlatar hamparan sawah yang luas seperti RM Dapo Indo dengan variasi paket hidangan ikan, cumi, udang, kepiting dan lainnya, termasuk RM Mas Bagus dengan suasana alami dan klasik tradisionalis yang menghiasi ruang interior penyajian. Sementara RM Zona Rasa dalam model prasmanan atau lesehan jajaran penyediaan jagung QPM rebusan yang memanjang di sisi jalan nasional di Desa Lawallu.

Memasuki kawasan Kecamatan Balusu khususnya pada area Takkalasi, Barru, dan Tanete Rilau, baik warung, kedai modern atau rumah makan dan sejenisnya, sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Pada zona ini sejak lama telah terbangun image sebagai tempat persinggahan untuk beristirahat dalam perjalanan panjang, bahkan di wilayah ini sudah melegenda pada sejarah kuliner masyarakat terdahulu yang sering melintasi kawasan tersebut. Hidangan makanan khas yang sering menjadi favorit para konsumen adalah ikan bakar spesial bandeng atau ikan baronang dengan kombinasi sop saudara atau introduksi menu coto Makassar dan Pallubasa lokal Barru.

Rest area mutakhir saat ini yang terletak di sisi barat jalan nasional di ibukota Barru adalah kawasan masjid Zam-Zam Center dalam arsitektur masa kini dengan nuansa tampilan serba putih. Lokasi masjid yang dibangun bersama dengan lembaga pendidikan Islam terpadu, nyaris tanpa jeda disinggahi pengunjung yang melintasi Barru. Nilai lebih dari persinggahan ini adalah sebagai tempat untuk menunaikan shalat berjamaah setiap lima waktu yang dilalui di daerah ini. Kombinasi penyelesaian kewajiban ibadah shalat fardhu di masjid zam-zam sekaligus melengkapinya dengan menikmati makanan atau minuman pada arena food court yang telah disiapkan oleh pemilik masjid tentunya dengan pilihan menu yang bermutu dan harga yang terjangkau.

Spot kuliner berikut yang paling mudah dinikmati adalah area stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU. Jajaran SPBU yang tersebar di sepanjang jalan nasional dan ruas provinsi di Kabupaten Barru yang berjumlah 9 unit, 4 unit diantaranya telah menyiapkan tempat istirahat sekaligus wahana kuliner makanan berat dan minuman bagi penumpang atau driver yang sedang mengisi BBM kendaraan. SPBU yang nyaman dengan kelengkapan sarana pendukung tentunya akan menjadi pilihan perkiraan tempat mengaso dalam melakukan perjalanan jauh.

Selain sajian makanan berat atau snack ringan di sepanjang wilayah memasuki ibukota kabupaten hingga Tanete, kudapan lokal tradisional khas Barru yang mewarnai berbagai warung atau kedai baik berskala kecil, menengah hingga toko besar turut menyiapkan kebutuhan kuliner harian masyarakat meliputi apang, bandang loka, bannang/karasa, barongko, bua seppang, bella boddi, bingka, cucuru te’ne, cangkuneng, jadde, cindolo, didara, jompo-jompo, ganefo, kadoppe, kaddo boddong, kope langi, putu pesse, putu risae, onde-onde, tarajju, sanggara talemme, sikaporo, surabeng, sokko pulu bolong, dan sebagainya.

Penganan lokal tersebut diatas pada umumnya tersirat berbagai makna dan sarat dengan kandungan filosofis maupun klasifikasi jenis event atau ritual tertentu dalam penyajiannya. Namun kue-kue tradisional tersebut tetap bisa dijumpai pada on the spot warung atau rumah produksi yang menangani jenis olahan pangan yang dimaksud, baik yang bersifat transaksi langsung, via kurir atau pre order. Berbeda dengan salah satu spot pendukung kuliner di Barru yang menyiapkan olahan cake modern yaitu Kantin Rengganis yang telah puluhan tahun berkarya dalam usaha layanan food and beverage dengan beragam jenis produk bakery, muffin dan chocolate donut di area jantung poros Kabupaten Barru.

Oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Barru sejak pertengahan tahun 2025 lalu, sangat tepat meluncurkan tagline “Singgah di Barru” sebagai bagian dari promosi daerah dalam memperkenalkan setiap potensi wilayah utamanya spot kuliner khas Barru dan menjadi penciri daerah yang memiliki kekayaan kearifan lokal dalam memproduksi penganan pangan berkualitas. Usaha penyediaan kue tradisional daerah yang telah lama menjadi usaha produktif masyarakat sekiranya terus didukung dan diberi ruang layanan, promosi hingga pemasaran. Singgah di Barru sebagai suatu ajakan persaudaraan dan persahabatan untuk menikmati kekhasan kuliner orang Barru.

Spot kuliner yang telah tersebar di sepanjang jalan negara di Kabupaten Barru sebagai penciri yang spesial di daerah ini. Variasi kuliner yang dijumpai pada setiap lokasi jajanan adalah merupakan warisan metode dan cara pengolahan dari para leluhur orang Barru atau asimilasi cooking science dari hubungan kekerabatan dari komunitas luar. Dalam keadaan demikian akan melahirkan aroma atau rasa sebagai keunggulan spesifik tertentu pada wilayah ini. Oleh karena itu, segenap masyarakat Barru berpesan dan berkata bahwa jika melintas di Barru, singgahlah, karena tiada kesan perjalanan yang indah tanpa Singgah di Barru.

Singgah di Barru telah menjadi brand mark baru sebagai bagian dari ajang memperkenalkan seluruh kekuatan ekonomi daerah dalam rangka menopang pembangunan yang sedang digalakkan oleh pemerintah. Ekosistem kuliner lokal yang dilakoni masyarakat akan turut berkembang sebagai sebuah usaha prospektif, sekaligus sebagai upaya melestarikan nilai-nilai warisan budaya yang terkandung dalam sebuah trend kuliner masa kini.

Barru, 15 Februari 2026

*Warga Ikasemtani yang pernah bermukim di kawasan Pondok Bumi Janda Ciro-CiroE

(Visited 81 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.