Antrean itu panjang. Anak-anak berseragam putih-merah berbaris rapi menunggu giliran mengambil nasi, lauk, dan sayur yang sudah dikemas. Saya berdiri di pinggir halaman sekolah itu, suatu pagi di awal tahun ini, memperhatikan. Ada sesuatu yang hangat dalam pemandangan itu: negara hadir, negara peduli, negara akhirnya memberi makan.
Tapi ada juga sesuatu yang mengganjal.
Saya mencari-cari. Di dinding, di sudut ruang makan, di atas meja, di mana pun. Tidak ada satu buku pun. Tidak ada satu lembar bacaan pun. Anak-anak itu makan, lalu selesai, lalu pergi. Dua puluh menit yang berlalu seperti sisa waktu yang tidak tahu hendak diisi dengan apa.
Sebagai orang yang berkecimpung di dunia buku, sebagai penggerak literasi, penulis, editor, dan praktisi penerbitan, saya terbiasa melihat ruang-ruang kosong yang sebenarnya bisa diisi oleh bacaan. Tapi yang saya lihat pagi itu terasa lebih dari ruang kosong. Ia terasa seperti kesempatan besar yang sedang melambai-lambai, dan tidak ada yang menyambutnya.
Sebelum saya bicara tentang peluang itu, izinkan saya jujur tentang sesuatu yang lebih dulu perlu diucapkan, sesuatu yang jarang berani dikatakan di ruang-ruang resmi.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG), dalam niatnya, adalah langkah yang mulia. Tidak ada yang bisa membantah bahwa anak-anak yang lapar tidak bisa belajar dengan baik. Namun dalam praktiknya, program ini menyimpan dua paradoks yang cukup serius, dan sebagai warga yang peduli, saya merasa perlu menyebutnya.
Paradoks pertama, program yang mengatasnamakan gizi ini, justru dalam beberapa hal, sedang mengikis fondasi gizi yang sebenarnya. Menu yang seragam dari Sabang sampai Merauke mengabaikan satu kenyataan mendasar bahwa Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman pangan lokal yang luar biasa: sagu di Papua, jagung di NTT, dan singkong di pedalaman Kalimantan. Selama berabad-abad, bahan-bahan itu bukan hanya makanan. Itu adalah ekspresi dari kearifan gizi yang tumbuh dari pengetahuan lokal tentang iklim, tanah, dan tubuh manusia.
Ketika negara datang dengan menu seragam (nasi, lauk standar, sayur yang ditentukan dari pusat) kita tidak sedang membangun ketahanan pangan. Kita sedang membangun ketergantungan. Perlahan, anak-anak belajar bahwa makanan yang ‘benar’ adalah yang datang dari luar, bukan yang tumbuh di sekitar mereka. Budaya makan sehat yang selama ini dijaga oleh ibu-ibu di dapur, yang diwariskan dari generasi ke generasi, perlahan tergantikan oleh pola makan yang ditentukan oleh logistik, bukan kearifan.
Kita tidak sedang membangun ketahanan pangan. Kita sedang membangun ketergantungan.
Paradoks kedua menyangkut prioritas. Anggaran MBG yang mencapai ratusan triliun rupiah hadir di tengah kondisi di mana anggaran pendidikan kita sudah lama tertatih-tatih. Perpustakaan sekolah berdebu. Taman Bacaan Masyarakat berjuang mencari donasi buku bekas. Program pengembangan literasi yang terbukti efektif mati karena tidak ada dana. Sementara itu, anggaran untuk memberi makan mengalir deras. Saya tidak sedang mengatakan anak-anak tidak perlu makan. Saya sedang mempertanyakan: mengapa kita seolah harus memilih antara memberi makan perut dan memberi makan pikiran?
Namun justru di titik inilah saya menemukan celah yang menarik.
Sistem distribusi MBG, lepas dari segala paradoksnya, memiliki satu hal yang tidak dimiliki oleh program literasi mana pun yang pernah ada di negeri ini: jangkauan. Program ini menyentuh jutaan anak setiap hari, di ribuan titik, dengan jadwal yang teratur dan infrastruktur yang sudah berjalan. Ini adalah jaringan distribusi terbesar yang pernah dibangun negara untuk menjangkau anak-anak secara langsung.
Dan jaringan itu, saat ini, sedang berjalan hanya setengah kapasitasnya.
Karena ia hanya mengangkut makanan. Padahal ia bisa mengangkut lebih dari itu.
Inilah yang ingin kami tawarkan: integrasikan gerakan Membaca Buku Gratis ke dalam sistem yang sudah ada. Bukan sebagai program baru yang memerlukan birokrasi baru. Bukan sebagai proyek percontohan yang akan dilupakan setelah tiga bulan. Melainkan sebagai prinsip: bahwa setiap titik distribusi MBG adalah juga titik distribusi buku.
Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), titik dapur dan distribusi MBG, bisa difungsikan sebagai pos buku berputar. Sebuah rak sederhana, tiga puluh hingga lima puluh judul, yang diperbarui setiap bulan. Buku itu tidak perlu baru. Tidak perlu mahal. Ekosistem buku bekas yang sehat, jaringan Taman Bacaan Masyarakat yang sudah ada, dan program donasi dari penerbit serta perusahaan sudah lebih dari cukup untuk mengisi rak itu.
Dan selama lima belas menit pertama waktu makan, ketika anak-anak duduk, ketika suasana paling santai dan paling egaliter dalam sehari sekolah mereka, seseorang membacakan cerita dengan suara keras. Bisa guru piket. Bisa kakak kelas yang sudah dilatih. Bisa relawan dari komunitas literasi setempat. Tidak ada kuis sesudahnya. Tidak ada penilaian. Hanya cerita yang mengalir bersama suapan makanan.
Setiap titik distribusi MBG adalah juga titik distribusi buku.
Kami menyebut ini gerakan Membaca Buku Gratis. Kami sengaja menggunakan singkatan yang sama, MBG, karena keduanya seharusnya tidak bisa dipisahkan. Makan bergizi gratis tanpa membaca buku gratis adalah program yang berjalan dengan satu kaki.
Di dunia penerbitan, saya belajar satu hal yang tidak berubah: buku hanya berguna kalau sampai ke tangan pembaca. Distribusi adalah segalanya. Selama ini, itulah masalah terbesar gerakan literasi di Indonesia. Bukan kurangnya buku yang bagus, tapi kurangnya jalan untuk mengantarkan buku itu kepada anak-anak yang membutuhkannya.
MBG, tanpa disadari, sudah membangun jalan itu.
Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menaruh buku di dalam kendaraan niaga ringan yang sudah berjalan. Secara harfiah maupun kiasan.
Teknisnya tidak serumit yang dibayangkan. Koordinator literasi bisa merangkap koordinator gizi yang sudah ada, tidak perlu rekrut orang baru. Siswa kelas atas yang menjadi Duta Baca dilatih satu kali, lalu mereka yang menjalankan sesi read-aloud setiap hari. Tema buku diselaraskan dengan kalender akademik dan nilai-nilai yang ingin ditanamkan: bulan ini tentang pangan lokal dan petani, bulan depan tentang lautan dan nelayan. Untuk sekolah dengan akses internet, perpustakaan digital berbasis aplikasi ringan bisa mengisi celah yang tidak bisa dijangkau buku fisik.
Biaya per titik distribusi untuk memulai? Tidak lebih dari tiga juta rupiah untuk rak dan koleksi awal. Angka yang dengan skema kemitraan publik-swasta dan donasi yang terorganisasi seharusnya bisa dipenuhi tanpa menyentuh anggaran MBG yang sudah berjalan.
Saya kembali ke pagi itu. Ke antrean panjang anak-anak berseragam putih-merah. Ke meja makan tanpa buku.
Ada ironi yang menyakitkan dalam pemandangan itu bagi siapa pun yang sudah lama berjuang di dunia literasi. Selama bertahun-tahun, para penggerak taman baca, para penulis buku anak, para editor yang memilih berkarier di penerbit kecil karena percaya pada kekuatan buku berjuang mendatangi anak-anak satu per satu. Mengantar buku ke pelosok. Melatih relawan. Mengetuk pintu sekolah yang separuhnya tidak membuka.
Dan kini negara membangun infrastruktur yang menjangkau semua anak itu secara serentak, setiap hari. Infrastruktur yang dengan sedikit imajinasi dan kemauan bisa menjadi kendaraan terbesar yang pernah ada untuk gerakan literasi nasional.
Sayang sekali kalau kita hanya menggunakannya untuk mengangkut nasi.
Generasi yang kenyang tapi tidak membaca adalah generasi yang sehat raganya, tapi miskin bayangannya tentang dunia.
Program MBG perlu dibenahi: mengganti menu seragam dengan kearifan pangan lokal, memastikan petani kecil dan ibu-ibu masak setempat yang mendapat manfaat, bukan hanya suplier besar. Itu pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan.
Tapi sambil membenahi, kita juga perlu mengoptimalkan. Dan mengintegrasikan gerakan Membaca Buku Gratis ke dalam sistem yang sudah berjalan adalah cara paling efisien, paling murah, dan paling berdampak jangka panjang yang saat ini ada di hadapan kita.
Dua MBG, satu misi. Satu kendaraan niaga ringan yang mengangkut dua hal sekaligus: makanan untuk tumbuh, dan cerita untuk bermimpi.
Kebangkitan Indonesia tidak akan datang dari perut yang kenyang saja. Ia akan datang dari pikiran yang dipenuhi kisah-kisah tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita bisa pergi. []
