Oleh: Lolita Eka Putri

Malik memiliki bakat yang tidak dimiliki semua orang di Desa Makmur: ia adalah pendengar yang sangat baik.

Sayangnya, apa yang ia dengar tidak pernah berhenti di telinganya.

Baginya, informasi adalah bidak catur, dan warga desa adalah papan permainannya.

Pagi itu, Malik duduk di warung kopi bersama Pak RT.

Sambil menyeruput kopi hitamnya, ia berbisik, “Pak RT, saya dengar Pak Haji Umar bilang kalau pembangunan gapura itu cuma akal-akalan Bapak buat cari untung. Katanya, semennya dikurangi.”
Pak RT tersedak.

Mukanya merah padam.

Padahal, Pak Haji Umar hanya pernah berkata bahwa ia berharap semen yang digunakan berkualitas bagus agar awet.

Sore harinya, Malik menemui Pak Haji Umar yang sedang menyiram bunga.

“Aduh Pak Haji, saya sedih dengar Pak RT bilang Pak Haji itu sok tahu soal proyek desa.

Katanya, lebih baik Pak Haji fokus urus masjid saja, jangan ikut campur urusan teknis.”
Malam itu, Desa Makmur pecah.

Di balai desa, Pak RT dan Pak Haji Umar yang biasanya bersahabat karib, terlibat adu mulut hebat.

Kata-kata kasar terlontar, emosi meluap, bahkan warga pengikut keduanya hampir saja baku hantam.

Di pojok ruangan, Malik berdiri dengan wajah prihatin yang dibuat-buat.

Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil berbisik kepada orang di sebelahnya, “Astagfirullah, kenapa mereka jadi begini ya?

Padahal berteman sudah lama. Seram sekali kalau orang sudah emosi.”
Malik pulang dengan perasaan puas yang aneh.

Ia merasa berkuasa karena bisa menggerakkan orang lain hanya dengan beberapa kalimat.

Ia merasa aman karena tak ada yang menunjuk hidungnya sebagai biang keladi. Namun, ia lupa bahwa ada mata yang tak pernah tidur.

Bahaya Namimah

Apa yang dilakukan Malik dalam Islam disebut dengan Namimah (adu domba). Ini bukan sekadar “gosip” biasa, melainkan perbuatan menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka.

  1. Pelakunya Tidak Masuk Surga

Rasulullah SAW bersabda dengan sangat tegas mengenai pelaku adu domba:
“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba (Nammam).” (HR. Bukhari & Muslim)

  1. Siksa Kubur yang Pedih

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW pernah melewati dua kuburan dan bersabda bahwa penghuninya sedang disiksa. Salah satunya disiksa karena:
“…suka berkeliling menyebarkan namimah (adu domba).” (HR. Bukhari)

  1. Lebih Bahaya dari Sihir
  2. Ulama menjelaskan bahwa kerusakan yang ditimbulkan oleh seorang pengadu domba dalam satu jam, bisa lebih besar daripada apa yang dilakukan penyihir dalam satu bulan. Adu domba mampu menghancurkan rumah tangga, memutus tali silaturahmi, hingga memicu pertumpahan darah.
  3. Cara Menghadapinya
    Jika kita mendengar seseorang datang membawa berita miring tentang orang lain (seperti yang dilakukan Malik), Islam mengajarkan langkah berikut:

Jangan percaya: Karena pengadu domba adalah orang fasik yang beritanya tidak boleh diterima mentah-mentah (Tabayyun).

Jangan ikut menyebarkan: Berhenti di telinga kita agar fitnah tidak meluas.

Nasihati pelakunya: Ingatkan bahwa perbuatannya sangat dibenci Allah.

Orang yang suka mengadu domba mungkin merasa menang karena berhasil mengecoh orang lain, namun di mata Allah, ia adalah perusak di muka bumi.

Luka yang disebabkan oleh lidah seringkali lebih sulit disembuhkan daripada luka karena pedang.

(Visited 2 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.