Judul film       : Uang Passolo (2026)
Sutradara       : Andi Burhamzah
Genre              : Drama/Komedi
Tayang           : Mulai 8 Januari 2026 di bioskop
Waktu             : 95 menit
Pemeran         : Imran Ismail, Mashita Asapa, Jade Thamrin, Godfred Oriendod, dkk.
Lokasi syuting: Desa Parintunan, Kecamatan Segiri, Kabupaten Pangkajene Kepulauan

Bahasa            : Indonesia dialek Sulawesi Selatan

Tradisi pernikahan di masyarakat Bugis dan Makassar Sulawesi Selatan diangkat oleh sutradara Andi Burhamzah melalui film dengan judul Uang Passolo dan tampil di bioskop sejak 8 Januari 2026. Cerita ini menggabungkan tradisi dua generasi berbeda, yaitu keinginan keluarga untuk tampil mewah, dan niat generasi milenial yang penting sah, kalau perlu cukup di KUA.

Para pemain sukses menguras emosi penonton dengan tampil maksimal dan all out dalam menjiwai perannya masing-masing. Imran Ismail dan Mashita Asapa yang berperan sebagai Rizky dan Biba, pasangan bersebelahan rumah yang sudah enam tahun pacaran, menginginkan pernikahan yang sederhana. Ini dikenal luas sebagai intimate weddingyang biasanya dihadiri undangan terbatas sekitar 20 sampai 100 undangan. 

Keinginan sejoli tak lepas dari kondisi ekonomi keduanya. Rizky sebagai fotografer event seperti acara pernikahan, sedangkan Biba adalah guru honorer di sebuah Sekolah Dasar. Keduanya adalah anak tunggal yang bapaknya sudah meninggal. Rizky tinggal bersama ibunya, sedangkan Biba dan ibunya tinggal bersama paman dan bibinya yang dipanggil ‘puang’.

Bertolak belakang dengan keinginan calon pengantin, paman dan bibi Biba, terutama bibinya, menginginkan pesta digelar semewah mungkin dan harus paling mewah di kampung itu. Setelah diskusi panjang kali lebar, diwarnai perasaan hara-harap cemas pasangan, disepakati dana yang harus disiapkan Rizky adalah 60 juta rupiah.

Di tengah persiapan, ternyata dana itu tidak cukup, karena banyak permintaan sang puang yang di luar budget, sehingga kebutuhan membengkak. Seperti dekorasi, baju pengantin dan makan minum. Berkali-kali keduanya protes, namun puang terus-menerus menekan Biba dan ibunya untuk menurut. Juga harga diri Rizky sebagai seorang laki-laki menuntut untuk mau tidak mau memenuhi harapan puang.

Untuk menutupi kekurangan dana, ada dua pilihan logis lagi instan tapi sama-sama sulit. Pertama, menggadaikan rumah yang ditinggali Rizky. Ibunya tidak setuju, meski Rizky menjelaskan bahwa mereka tetap tinggal di situ. Kedua, menjual tanah warisan bapaknya Biba. Ini ide ibunya, dan puang tidak setuju. Kedua warisan ini adalah peninggalan almarhum bapak mereka.

Akhirnya, Rizky diam-diam menggadaikan rumah. Dengan harapan, setelah pernikahan rumah itu ditebus dengan menggunakan uang Passolo, yaitu uang dalam amplop yang diberikan oleh tamu yang datang. Ibunya tahu karena sertipikat hilang di laci. Sedangkan Biba tahu setelah melihat uang yang banyak dibawa Rizky saat mereka berteduh dari hujan. Meski awalnya kurang setuju, Biba dengan berat hati menerima uang hasil gadai rumah dengan memastikan semua kebutuhan pasca pernikahan akan diusahakan mereka berdua.

Di film ini, kedua puang sangat dominan dalam pengambilan keputusan. Ibarat kata, merekalah pengantin sesungguhnya. Ini terlihat saat persiapan, prosesi pernikahan dan pembukaan uang Passolo. Sepanjang acara, puang yang berpenampilan glamour terlihat wara-wiri menerima dan mengarahkan tamu dengan wajah sumringah. Dan saat pembukaan amplop uang Passolo secara terbuka dan disaksikan banyak kerabat, mereka berdua jadi aktor utama. Bibi membuka amplop, mengumumkan nilai dan memberi komentar. Paman bertugas mencatat.

Klimaks dari cerita ini ada pada pengumuman uang Passolo yang dinanti-nantikan oleh semua pihak, terutama pengantin. Namun harapan mereka terlalu besar, karena lagi-lagi puang lah yang menentukan ke mana uang itu bermuara. Sebagian besar diambil oleh mereka karena diklaim sebagai tamunya, dan hanya sedikit yang diserahkan kepada pengantin. Artinya, uang yang diharapkan untuk menebus rumah Rizky di pegadaian, tidak ada alias zonk. Melihat Rizky yang jatuh sakit setelah itu, ibu Biba akhirnya menjual tanah warisan suaminya.

Akhir cerita mereka berempat hidup bahagia. Namun agak kaget ketika ada undangan pernikahan datang dari tamu yang sebelumnya memberikan amplop berisi uang Passolo tertinggi, yaitu 8 juta rupiah.

Nah, peran antagonis yang nyaris sempurna oleh puang perempuan mewakili dua hal. Yaitu gengsi dan materi. Dia berambisi untuk mengadakan pesta pernihakan paling mewah di daerahnya untuk menunjukkan status sosial yang tinggi. 

Selain itu, mereka juga mengharapkan materi berupa uang Passolo yang diberikan oleh  para tamu. Istilah lain, mereka ingin meraup keuntungan materi dari pesta pernikahan keponakan. Ini dibungkus dalam bingkai pernyataan bahwa Biba dan ibunya yang selama ini tinggal dan menumpang, harus memberikan ‘terima kasih’. Karena, there is no free lunch meskipun itu saudara sendiri.

Dari sudut pandang antropologi, tradisi uang Passolo bukan sekadar transaksi ekonomi, tapi ada mekanisme resiprositas atau hubungan timbal balik untuk mempererat ikatan sosial dan menjaga solidaritas.

Ini sudah disampaikan jauh hari oleh sosiolog klasik asal Prancis, Marcel Mauss melalui esai The Gift (1925) yang menyebutkan pemberian hadiah tidak pernah bersifat sukarela atau murni altruistik, tapi kewajiban sosial yang mengikat dan menciptakan solidaritas masyarakat. Ini mencakup aspek hukum, moral, agama, mitologi dan estetika. Di sini Mauss menyebutkan tiga kewajiban utama, yaitu memberi, menerima, dan membalas.

Sementara Sumarni dkk (2024) dalam jurnal berjudul Praktik Literasi Keuangan Berbasis Nilai-Nilai Budaya Suku Kajang mengatakan bahwa Passolo adalah tabungan sosial. Artinya ada budaya gotong royong di masyarakat dalam tata kelola anggaran untuk meringankan keluarga yang sedang melakukan hajatan, sehingga pihak pelaksana tidak hanya berharap dana dari mereka, melainkan juga dari pihak lain.

Kemudian, konsep siri’ yang mencakup harga diri dan kehormatan menunjukkan bahwa Passolo merupakan salah satu sarana pertunjukan prestise dan status sosial. Ini disampaikan Ramadhani (2024) dalam skripsinya berjudul Bentuk negosiasi dalam mempertahankan harga diri masyarakat, studi kasus tradisi Passolo pada masyarakat Desa Bonto Baji Kabupaten Bulukumba.

Oleh karena itu, alasan puang mengumumkan uang Passolo usai pernikahan Rizky dan Biba adalah karena besaran nominal mencerminkan status kekerabatan dan kedudukan mereka di masyarakat. Contoh saat puang membuka amplop yang isinya 800 ribu rupiah, dan amplop tebal yang isinya 10 kali lipat: 8 juta rupiah. Lalu bandingkan dengan amplop lain yang isinya secarik kertas bertuliskan ucapan terima kasih. 

Hanya saja memang ada sisi lain yaitu ‘kewajiban’ untuk mengembalikan dengan nilai yang sama. Lihatlah ekspresi Rizky saat menerima undangan dari penyumbang 8 juta. Ini karena praktek yang asalnya budaya gotong royong, tallasa kamase-mase (sederhana dan apa adanya) dan tolong menolong mengalami akulturasi dan pergeseran fungsi. Dalam konteks masyarakat modern, Passolo sebagai entitas budaya yang dinamis dipersepsikan sebagai utang sosial atau balas budi (Ramadhani, 2024). 

Seiring berjalannya waktu, Passolo tidak harus selalu dalam bentuk uang dalam amplop. Undangan pernikahan di era milenial, baik fisik maupun digital, sering dicantumkan nomor rekening bank atau kode Qris. Ini dianggap memberikan kemudahan bagi tamu yang berhalangan hadir.

Nah, meski diangkat dari kisah nyata yang penuh dinamika, film Uang Passolo ini ‘harus dan wajib’ berakhir happy ending sesuai dengan harapan penikmat karya sastra visual. Jadi selain menjual aset berupa tanah warisan, film ini tidak menampilkan masalah pasca pernikahan yang sering muncul dalam realita, seperti konflik rumah tangga yang terpaksa meminjam uang demi mempertahankan harga diri. Empat tokoh utama ‘dipaksa’ untuk tersenyum manis di adegan penutup.

Terakhir, film ini sangat bagus untuk menambah khasanah dan wawasan terkait adat-istiadat dan budaya pernikahan di Sulawesi Selatan, terutama di masyarakat suku Bugis dan suku Makassar. Penyajiannya dalam Bahasa Indonesia dialek Sulawesi Selatan kian menambah keaslian cerita. Semoga ke depan semakin banyak cerita-cerita seperti ini yang diangkat, baik dalam bentuk audiovisual, naskah drama atau lakon, bait-bait puisi, sastra bergambar, atau prosa fiksi naratif.

AKS, Alumni Sastra Inggris UMI Makassar, Angkatan 1996

Paser-Kaltim, 19 Mei 2026

(Visited 49 times, 49 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.