Oleh: H. Tammasse Balla

Nak, kamu pernah kecil. Sangat kecill, seperti embun yang bergelayut di ujung daun sebelum mentari menyapanya. Saat itu, dunia terasa begitu luas bagimu, dan Ayah adalah sepasang tangan yang selalu siap menjadi tempatmu berlindung dari segala yang menakutkan.
Ketika langkah kakimu belum mampu meniti jalan, Ayah menggendongmu. Bukan karena kuat, melainkan karena cinta membuat segala beban menjadi ringan. Di pundak Ayah, kau melihat dunia dari ketinggian yang belum mampu kaucapai sendiri.

Setiap malam, ketika matamu perlahan-lahan terpejam, Ayah menjaga tidurmu seperti penjaga mercusuar menjaga kapal yang berlayar di lautan gelap. Ayah memastikan mimpimu tumbuh setenang angin yang membelai padang rumput.

Masih segar dalam ingatan ketika jemarimu yang mungil menggenggam satu jari Ayah. Genggaman itu begitu kecil, tetapi kekuatannya mampu mengikat hati seumur hidup. Sejak saat itu, Ayah tahu bahwa hidup Ayah tidak lagi hanya tentang Ayah.

Nak, pelukan Ayah bukan sekadar lingkaran tangan. Ia adalah doa yang tidak bersuara. Ia adalah harapan yang diam-diam terbang ke langit setiap kalli Ayah memelukmu. Dalam pelukan itu, tersimpan ribuan doa yang mungkin tak pernah kaudengar.

Kini kau telah tumbuh. Tubuhmu tak lagi muat dalam gendongan Ayah. Langkahmu semakin jauh menjelajahi kehidupan. Namun dalam mata Ayah, kau tetaplah anak kecil yang pernah tertawa riang saat dikejar kupu-kupu di halaman rumah.

Ayah.tidak berharap kau membalas dengan menggendong Ayah ketika usia mulai menua. Cinta orang tua bukanlah utang yang harus dibayar. Cinta adalah sungai yang mengalir tanpa meminta kembali setetes pun air yang telah diberikannya.

Yang Ayah harapkan hanyalah satu hal sederhana, jagalah nama baikmu dan keluarga. Di dalam namamu, ada nama Ayah yang ikut berjalan. Ketika orang menyebut namamu dengan hormat, di sana ada kebahagiaan yang diam-diam menyentuh hati Ayah.
.
Ayah bangga bukan karena kau anakku.
Ayah bangga jika kau menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Kemuliaan seseorang tidak diukur dari tingginya jabatan, melainkan dari banyaknya manfaat yang ia tinggalkan bagi orang lain.

Jika suatu hari prestasimu melambung tinggi seperti elang yang menembus awan, jangan takut meninggalkan sarang. Ayah tidak pernah mendidikmu untuk tinggal selamanya di bawah sayap Ayah. Ayah mendidikmu agar mampu terbang dengan sayapmu sendiri.

Ketahuilah, Nak, setiap keberhasilanmu adalah senyum yang tumbuh di wajah keluarga. Setiap langkah baikmu adalah bunga yang mekar di taman hati. Setiap doa yang kaupanjatkan untuk orang tuamu adalah cahaya yang menerangi usia senja kedua orang tuamu.

Bila kelak waktu memutihkan rambut Ayah seluruhnya, dan langkah Ayah tak lagi setegap dulu, jangan kenang Ayah karena kekurangan yang pernah Ayah miliki. Kenanglah cinta yang pernah memelukmu tanpa syarat sejak hari pertama kauhadir di dunia.Pada akhirnya, yang tersisa bukanlah harta, bukan pula kemegahan. Yang tinggal hanyalah jejak cinta. Di antara semua jejak itu, pelukan Ayah akan tetap hidup dalam hatimu, seperti matahari yang selalu ada meski senja telah menutup langit. Pelukan itu akan terus menghangatkanmu, bahkan ketika Ayah telah menjadi kenangan yang berdiam di antara doa-doamu.

Sierra Sky View Malino, 21 Juni 2026
Pk. 13.09 WITA3

(Visited 9 times, 9 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.