Malaysia, 2020

“Kringgggg…. Kringgggg….”

Suara alarm handphone membangunkanku pagi ini. Jam di handphone menunjukan jam 7:30. Tuhan… aku telat!

Bergegas aku mengambil handuk dan langsung mandi. Setelah mandi dan berpakaian rapi, sesegera mungkin laptop kumasukan ke dalam tas, sepatu aku tenteng dan kupakai sembari berjalan, karena jika aku terlambat sedikit saja, tentu akan ketinggalan bus kampus dan akan terlambat sampai ke kampus.

Sesampai di halte, kulihat bus kampus kami melaju dengan pelan.

“Pak cik…” aku berteriak memanggil supir bus kampus kami itu

Cepat sikit lah…”1

Segera aku mengambil tempat dan duduk di kursi paling belakang, karena corona jadi dalam satu set kursi hanya boleh diduduki satu orang. Kurebahkan badan dan kuhela napasku yang baru saja bertarung dengan waktu.

Pukul 8:10 aku sampai di kampus. Aku berjalan menuju bangunan perpustakaan yang memiliki ruangan yang unik dan menjadi ruang kesayangan mahasiswa semester akhir. Tapi karena aku harus menyelesaikan kuliahku di semester tiga, jadi ruangan ini menjadi ruang kesayangku juga. Ruangan tersebut bernama bilik tessis2.  Bagaimana tidak, karena ruangan tersebut memiliki keunikan tersendiri bukan hanya karena di ruangan tersebut  merupakan ruangan sejuta tesis, tapi yang menjadikannya unik karena musiknya. Bukanlah musik k-pop Korea, tapi musik yang berasal dari suara ketukan keyboard  laptop,  heehe, menjadi irama musik yang menghibur siapa saja yang ada di ruangan ini.

Sehari menunda tesis maka sehari juga aku menunda untuk berjumpa dengan ibu dan ayah. Itulah mottoku. Seluruh tenaga aku kerahkan supaya mampu menyelesaikan tesisku di semester tiga ini, supaya bisa segera berjumpa dengan ibu dan ayah di rumah. Selain itu, aku memiliki tekad bahwa harus lulus tepat waktu supaya bisa membanggakan keluargaku.

Jemariku sudah mulai lelah mengetik.A ku lihat hp, ternyata sudah jam 3 sore. Kubaca kembali tulisanku. Namun, ternyata masih banyak yang harus dikerjakan. Lelah sudah pasti namun, ada satu kalimat yang yang selalu membuatku termotivasi yaitu:

“Ain karanta ne,e sakolah labo da eda ngaha” (Mau sekolah padahal untuk makan saja tidak mampu). Kalimat yang selalu terngiang dan menjadi motivasiku.

Sontak aku teringat saat itu, saat di mana aku mengutarakan keinginanku untuk lanjut kuliah kepada orang tuaku.

“Ina…mada ku ne,e kuliah ku” (ibu saya mau kuliah).

“Iyo anae, sakolah mpa, pala andu pu wara piti ke ana e, kone di ngaha ndai ke susa…” (Iya nak, nanti sekolah, tapi sekarang belum ada uang, bahkan untuk makan saja kita kesusahan).

Ternyata ada tetangga yang mendengar perihal keinginanku itu. Dengan wajah sinis dan mulut yang terlatih dia berkata,“ Ain karanta ne,e sakolah labo da eda ngaha.” (Jangan mau sekolah padahal untuk makan saja nggak ada).

 Hatiku sedikit hancur kala itu. Iya..benar, untuk makan saja keluargaku masih kesusahan”, gumamku dalam hati. Saat itu aku dilanda kegalauan. Aku punya cita-cita besar tapi aku berasal dari keluarga sederhana. Aku ingin bisa menggapai cita-citaku tapi harus bagaimana ?

Beberapa pekerjaan telah aku lakukan. Menjadi buruh ladang, buruh cuci baju, semua aku lakukan, tapi hanya dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Waktu terus berlalu. Hari-hariku tetaplah sama. Aku hanyalah anak buruh tani dan pedagang kue keliling. Hari-hariku hanyalah bekerja membantu ibu dan ayah dengan tujuan kebutuhan sehari-hari tetap tercukupi. Namun, mimpi besarku terus membayangi. Yah, aku harus kuliah. Aku harus bisa sekolah tinggi. Aku harus membuktikan bahwa tidak harus kaya untuk bisa mengenyam pendidikan yang layak. Aku yang dari keluarga miskin ini harus mampu sekolah tinggi dan juga bisa berprestasi layaknya anak-anak orang kaya bagaimanapun caranya.

Aku menyemangati dan terus meyakinkan diriku bahwa selalu ada jalan untuk setiap hamba yang mau berusaha karena pilihan hidup harus diputuskan. Merantau merupakan jalan keluar dari permasalahan yang kuhadapi. Menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) adalah pilihan yang tepat. Aku harus menjadi seorang gadis yang kuat demi orang-orang yang aku cintai.

“Dengan bekerja di sana mungkin dapat membantu untuk meringankan beban orang tua, dan bisa membawaku untuk menggapai mimpi besarku,” bisikku meyakinkan diri.

Tanpa ada keraguan, aku menghampiri wanita itu untuk menawarkan diri menjadi TKW. Kemudian aku bergegas mengisi formulir pendaftaran. Aku mencermati syarat-syarat satu persatu. Akhirnya isian formulir dan berkas yang dibutuhkan kembali ke tangan wanita paruh baya tersebut.

“Setelah ini, kamu akan di chek up yah, tunggu 3 hari lagi. Jika hasilnya bagus, satu minggu lagi kamu sudah boleh berangkat ke Malang  untuk melaksanakan pendidikan sebagai buruh migran. Ya, paling belajar ngosek WC, belajar ngurus anak, belajar masak. Yah, namanya juga bakal jadi babu, halusnya TKW, ha ha ha,” ujarnya dengan canda dalam wajah serius.

Tiba hari yang dinanti, wanita berperawakan pendek serta gemuk itu datang menjemputku untuk melakukan tes kesehatan, dan kami pun berangkat. Setelah melakukan pengecekan, aku dinyatakan sehat. Alhamdulillah, aku menarik napas dalam-dalam. Untuk memastikan langkah kakiku ke negeri Beton itu, aku menyampaikan keinginanku pada ibu dan ayah, dan tentu saja mereka sangat terkejut setelah mengetahui maksudku. Hal ini sudah kuduga karena saat mendaftar aku tidak memberi tahu mereka terlebih dahulu. Awalnya mereka tidak setuju dan melarang, tapi dengan keterpurukan yang kami rasa, membawa kepasrahan bagi semuanya. Tekadku telah bulat, hingga mereka melarang pun tidak aku gubris.

“Aku harus menjadi pengobat asa keluargaku, agar mereka tidak lagi mengalami kesusahan, dan aku harus rajin menabung supaya bisa kuliah. Itulah janjiku di hari keberangkatan. Suasana saat itu bagaikan sebuah film, di mana ayah menangis tersedu-sedu, sedang ibu menarik tanganku hingga bus langsung indah berlari kencang dan wajahku samar untuk mereka lihat lagi. Mulai dari situlah aku benar-benar hidup tanpa orang-orang yang aku cintai.

Dua hari tiga malam di perjalanan cukup melelahkan. Tepat jam 5 Subuh aku sampai di asrama MSS Malang, tempat di mana berkumpul dan belajarnya para TKW, alias tukang ngosek WC. Tak lupa sebelum masuk ke tempat tersebut, aku menghela napas dan mengucap ‘Bismilllah. Kulangkahkan kaki dengan penuh keyakinan. Aku dan teman-teman disambut baik oleh sesama calon TKW yang sudah ada sebelumnya. Setelah diberi waktu istrahat tiga hari, waktunya untuk mulai belajar dan mengikuti pelatihan. Seorang guru masuk dan memberi salam dengan bahasa Cantonis atau bahasa sehari-hari orang Hongkong.

Causan ! (selamat pagi)

Aku hanya duduk terdiam, bahasa yang cukup asing buatku karena hari itu merupakan hari pertamaku mendengar bahasa orang-orang bermata sipit. Guru pembimbing memberikan arahan kepada kami supaya memanggilnya dengan sapaan Lutsi (Guru dalam bahasa Hongkong). Pada bagian inti pelatihan kami dipanggil oleh Lutsi untuk maju satu-satu untuk menghafal bahasa Cantonis, begitu pun dengan pelatihan bekerja atau praktik bekerja.  Ambisiku untuk mensejahterakan keluarga membuatku terus semangat belajar, meski pada bulan kedua di sana harus merasakan puasa dan idul fitri tanpa keluarga tercinta. Beberapa tahap evaluasi telah kulalui, mulai dari ujian kecakapan berkomunikasi menggunakan bahasa Cantonis, tes bekerja, hingga interviu dengan calon majikan, Alhamdulillah aku lulus. Keluarga yang mewawancaraiku merasa cocok hingga memilihku, dan aku langsung menandatangani kontrak.

 Tiga bulan masa pelatihan telah kulalui, asrama MSS menjadi saksi perjuanganku untuk bisa menggapai tujuan. Sedih bercampur senang, karena akan meninggalkan tanah air tercinta. Tapi tidak mengapa, ini semua demi keluargaku tercinta. Burung  besi bernama Cahtay Pacific itu membawaku menuju negeri Beton. Membawaku ke tempat di mana aku akan mengadu nasib.

“Juriatina?” sambut salah seorang petugas agency yang menjemputku menuju loket pencatatan penduduk. “Come on…” sahutnya mengajakku untuk pergi menuju tempat penginapan dan di sanalah aku akan dijemput majikanku.

Keesokan harinya, seorang wanita berkulit putih dengan  potongan rambut sebahu menyapaku dengan senyum, ternyata dia adalah majikanku yang datang menjemput. Perempuan itu bernama Nge Man Lai. Dengan senyuman yang sedikit takut, aku pun membalas senyumannya. Setelah kami mengenal satu sama lain, akhirnya majikanku membawa aku ke rumahnya. Di sana ada bobo (nenek), kangkung (kakek),  sailo (adik laki-laki) dan singsang (majikan laki-laki). Setelah perkenalan berakhir, gadis kecil mungil menghampiriku dengan sahutan cece iya. Cece adalah panggilan untuk kakak perempuan, namun juga digunakan untuk menyapa kami sebagai pembantu. 

Waktu terus berlalu, aku bekerja keras penuh semangat supaya uang hasil kerjaku bisa aku kirim untuk keluarga di kampung, sisanya tak lupa aku tabung. Tidak hanya itu, keluarga majikanku sangat sayang kepadaku. Aku diajak jalan-jalan ke beberapa Negara, di antaranya Negara Macau, selain itu bila aku libur, bobo pasti memberiku uang jajan. Satu tahun tiga bulan lamanya aku bekerja, ada sesuatu yang menganjal di hatiku, padahal bekerja pada keluarga tersebut membuat aku bahagia karena diperlakukan layaknya keluarga sendiri.

Majikanku baik, gaji yang aku dapat lumayan banyak, lalu apa yang salah ?

Terus saja aku menerka  melalui pertanyaan yang sulit aku jawab sendiri. Aku kembali memikirkan keluargaku yang ada di rumah, keganjalan yang aku rasa semakin menjadi-jadi sehingga berimbas pada pekerjaanku hingga menyebabkan majikan memarahiku.

“Timkai lei coye em am ke..?, yugo em yiu coye cau lo..!(Kenapa pekerjaanmu banyak yang salah? Kalau tidak mau bekerja, lebih baik keluar saja..!)

“To emci dhadai…” (Maaf nyonya).

Majikanku terus memarahiku, dan yang kulakukan hanyalah minta maaf dan menangis.

Aku merasa sangat terpukul dengan apa yang kualami. Aku termenung, dan memutuskan menangis sambil menyalakan air di kamar mandi agar tangisku tak terdengar oleh majikan. Setelah beberapa menit termenung, terlintas akan ungkapan ‘sarome jap ni’ ucapan itu biasa dilontarkan ibuku di saat aku sedih . hati yang tadi sedih seketika hilang berhamburan bak kapas tertiup angin. Seluruh tenaga aku kerahkan untuk bisa memahami apa sebenarnya keinginan diri ini.

“Harus kuliah. Aku harus membuktikan keluarga miskin ini harus mampu sekolah tinggi dan juga bisa berprestasi layaknya anak-anak orang kaya .“ Sepenggal janji diri inilah yang menjadi jawaban akan kegelisahanku, dan aku telah menyadarinya.

“Yah. Menempuh pendidikan di jenjang sarjana adalah tujuan yang sebenarnya, bukan uang, juga kemewahan.

AKU HARUS KULIAH…! Ujarku meyakinkan diri bahwa memang itu adalah pilihan hidupku untuk mencapai kesuksesan yang orang tua harapkan.

Hingga akhirnya aku bergegas menemui majikan perempuanku untuk menyampaikan maksud dan permohonan maafku karena tidak bisa menyelesaikan kontrak hingga finish, dan dia pun sangat mendukung keputusan itu. Diambilnya telepon rumah dan menelpon agen TKW Hongkong yang mengurusku. Beberapa menit majikanku menanyakan perihal hari apa aku ingin pulang. Aku menjawab penuh semangat, ”Lusa nyonya”.

Beberapa menit kemudian majikanku membawa secarik kertas untuk diberikan kepadaku. Beruntungnya, ternyata majikanku juga membelikan tiket untuk pulang.

“Pulanglah. Pendidikan itu sangatlah berharga,” ujarnya. Dia meraih dan memelukku. Sontak kami berdua menangis bersama.

Selasa 8 Mei 2014, hari perpisahan dengan majikanku. Hari terakhirku mengadu nasib di negeri Beton. Pesawat Garuda membawaku kembali ke negeriku yang telah lama kurindukan. Sampai di Lombok, aku naik taxi menuju terminal Mandalika dan melanjutkan perjalanan ke kampong halamanku yaitu Bima dengan menggunakan bus Dunia Mas. Pukul 03:00 dini hari aku pun tiba di pintu rumah. Tangis haru menyelimuti perjumpaanku dengan keluarga kembali. Hari itu semakin membuatku haru, saat menyatakan pada ibu bahwa aku masih ingin melanjutkan cita-cita.

“Ina, mada ku lu’u kuliah, mada ur wara piti ra tabu ku hasil karawi ku” (ibu, saya akan masuk kuliah, saya sudah punya uang hasil tabungan dari gaji  bekerja).

Ibuku mengangguk, kulihat tetes airmata bahagia yang dia selimuti dengan senyuman manisnya. Kami menghabiskan waktu berdua di ruang tamu dengan berbagi cerita selama kami berpisah, ditengah cerita itu aku berkata pada ibuku kelak aku akan kuliah S2 diluar negeri ibu aku menjawab “ jangan mimpi terlalu tinggi, ibu taakut kamu gila nak… setelahnya ibu memelukku sembari mengkecupku. Kecupan mesra ibu di dahiku  menjadi pengantar tidurku, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Bahagia itu terasa saat aku mengisi formulir pendaftaran mahasiswa baru, rangkaian tahap seleski aku lalui hingga diterima di salah satu kampus ternama di Bima yaitu di STKIP Taman siswa Bima. Tidak berhenti disitu, setelah lulus sarjana aku memberanikan diri mendaftar program beasiswa pascasarjana (S2) NTB  tujuan Malaysia, dan lagi rangkaian tahap seleksi aku lalui hingga hingga aku dinyatakan lulus. Kini kebahagian tidak lagi kebahagianku saja tapi juga kalurga. Janjiku pada diri telah aku tunaikan.

Setelah berstatus mahasiswa hari-hariku terasa menyenangkan, namun adalah yang membuatku gelisah, yaitu uang semester. Uang tabunganku selama bekerja sebagai TKW tidak cukup untuk membiayaiku kuliah hingga lulus, hanya cukup sampai semester tiga, tapi aku tidak keilangan akal. Aku bertekat menjadi mahasiswa penghasil uang, bukan tukang habis uang !. mulai dari situ aku mulai bekerja apa saja, jualan pisang goring keliling kampus, menjual madu secara on line juga aku lakukan. Beberapa lomba di kampus aku ikuti selain untuk bisa menunjukan kemampuan diri tapi juga untuk bisa mendapatkan hadiahnya, hitung-hitung dapat beasiswa..hhehee…Aku mendapati kabar dari dosenku bahwa kampus akan melaksanakan beragam lomba dalam rangka dies natalis kampus, dan disitu aku tertarik dengan lomba mawapres dan puisi bahasa inggris. Aku terus belajar dan mengarahkan seluruh kemampuanku untuk menulis karya ilmiah, disela itu aku berlatih membaca puisi, dan hasil tidak menghianati proses, aku mendapatkan juara satu dari kedua mata lomba yang aku ikuti. Bangga campur haru karna aku bisa mendapatkan beasiswa 2 semester. Alhamdulillah beban biyaya kuliah 2 semester telah hilang. Tidak berhenti disitu, aku juga mendapat beasiswa PPA karna IPK kuliahku 3.92. mulai dari situ aku dikenal sebagai si gadis pemburu lomba bagaima tidak, saat mendengar lomba pemilihan duta pariwisata daerah yang dikenal Sampela Mbojo aku juga ikut meski tidak dapat juara tapi aku masuk nominasi sepuluh besar.

  9 september 2018.  Tiba masa aku akan dikukuhkan menjadi sarjana, aku mendapat predikat cumlaude dengan IPK 3.82. aku melihat ada senyum bangga dari ibu dan ayahku saat aku diwawancarai oleh beberapa media untuk diberitakan. Kebahagiaan itu belum berahir karena setelah tamat aku langsung diminta bekerja di sekolah yaitu di SDN Rada. disekolah itu aku menjadi guru kelas dua, hari-hariku menyenangkan Karenna aku dapat bermain dengan anak-anak. Hari senin setelah upacara bendera aku duduk di kantor yaitu di ruangan guru, hp ku berbunyi karna ada televon dari salah satu dosenku sat kuliah.

“Juria..ingat suara saya?”

“Ingat dong pak.”

“Mau lanjut kuliah luar negeri?”

Dengan mata berbinar-binar aku menjawab “Mau banget pak….”

Setelah itu dosen aku tersebut menyarankan aku untuk mendaftar beasiswa keluar negeri melalui beasiswa yang diselenggarakan oleh gubernur kami yaitu gubernur NTB  yang kerap disapa doktor zul. Sepulang sekolah aku bergegas mengurus berkas-berkas yang diperlukan. Keesokan harinya aku menemui dosenku itu untuk meminta arahanya, dan pada hari itu juga aku mendaftarkan diri sebagai peserta calon penerima beasiswa LPPNTB. Lagi, rizki kembali berpihak kepadaku dan aku dinyatakan lulus dan harus segera  memilih dan mendaftar ke kampus pilihanku. Aku memilih university pendidikan sultan idris dan mendaftar di fakultas pembangunan manusia.

Setelah melewati PDP  tiba masanya gubernur melepaskan kami para awarde untuk melanjutkan mimpi kami. 10 oktober  menjadi sejarah baru dalam hidupku. Kapal bernama air asia membawaku ke negeri jiran Malaysia. Aku menjalani hariku sebagai mahasiswa lagi, dan kini aku sudah semester 3. aku telah sampai pada tahap akhirku yaitu tessis.

Kututup laptopku. Membayangkan garis nasibku, seolah menonton sebuah cerita di layar kaca. Begitulah hidup. Terimakasih untuk hidup yang demikian bermakna ini, Tuhan…***

                                                                                                   Malaysia, 27 januari 2020

(Visited 54 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.