Oleh: [Hildayanti Yunus, SE]
Berbagai survei nasional maupun global belakangan ini memotret satu fenomena yang mengkhawatirkan: Generasi Z (Gen Z) di Indonesia menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kecemasan (anxiety) dan gangguan mental. Di media sosial, label “Generasi Stroberi”—yang bermakna lunak dan mudah hancur—kerap disematkan kepada mereka oleh generasi di atasnya.
Namun, benarkah mereka lembek? Ataukah kecemasan itu adalah reaksi yang sangat rasional dari sebuah generasi yang dipaksa hidup dalam sistem dunia yang sedang rusak?
Jika ditelisik lebih dalam, fenomena stres massal ini justru sedang bermutasi. Di tengah abainya negara dan derasnya stigma negatif, muncul gelombang resistensi (perlawanan) dari anak-anak muda ini. Sebuah titik balik yang potensial membawa mereka bangkit dari depresi menuju perubahan hakiki.
Fakta Hari Ini: Impitan Ekonomi dan Krisis Kesehatan Mental Nyata
Kecemasan Gen Z bukanlah sekadar perasaan subjektif, melainkan didorong oleh angka-angka realitas yang mencemaskan. Data dari GoodStats mengungkapkan bahwa mayoritas Gen Z di Indonesia, yaitu sebesar 60%, secara terang-terangan mengaku cemas akan masa depan mereka. Di balik persentase yang besar itu, ada faktor ekonomi yang mendominasi isi kepala mereka. Sebanyak 29,2% dari mereka paling mencemaskan masalah finansial dan kestabilan ekonomi, disusul oleh ketakutan tidak mendapatkan pekerjaan (18,8%), serta ketidakpastian karier (15,6%).
Kondisi psikis yang terimpit ini juga dipertegas oleh sorotan media massa nasional. Lewat tajuk rencana bertajuk “Di Ambang Krisis Kesehatan Mental Remaja“ yang dirilis oleh harian Kompas, problem ini diakui telah mengancam tumbuh kembang generasi penerus bangsa secara masif. Data dari riset berskala nasional Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pun menunjukkan potret senyap yang luar biasa kelam: 1 dari 3 remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental, dan sekitar 2,45 juta remaja terdiagnosis mengalami gangguan mental berdasarkan panduan klinis internasional. Ironisnya, karena tebalnya stigma dan keterbatasan layanan, hanya 2,6% dari mereka yang berhasil mengakses bantuan konseling profesional.
Krisis ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar. Di daerah seperti Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, kecemasan Gen Z berwujud nyata dalam benturan ekologi dan ekonomi. Anak-anak muda di daerah dihadapkan pada pilihan karier yang sempit di tengah masifnya industri ekstraktif, sembari dihantui kecemasan lingkungan (eco-anxiety) akibat ancaman banjir dan kerusakan alam. Minimnya ruang kreasi positif di daerah akhirnya membuat sebagian pemuda rentan pelarian ke arah destruktif seperti judi online dan pinjaman online. Ironisnya, fasilitas penanganan kesehatan mental di tingkat kabupaten jauh lebih terbatas dibanding kota besar
Fakta-fakta ini menegaskan bahwa Gen Z sedang tumbuh di atas tanah ketidakpastian. Secara psikologis mereka terombang-ambing oleh algoritma media sosial yang melahirkan budaya
pamer (flexing) dan ketakutan tertinggal (FOMO). Di dunia nyata, mereka menghadapi fenomena jobless growth—di mana ekonomi tumbuh tetapi lapangan kerja menyusut. Syarat kerja entry-level yang tidak masuk akal, ancaman PHK massal, hingga beban menjadi sandwich generation (menanggung hidup orang tua sekaligus adik) menjadi makanan sehari-hari.
Sialnya, dalam kondisi tertekan ini, negara kerap absen memberikan pengurusan (ri’ayah) yang nyata. Layanan kesehatan mental publik masih minim, tidak merata, dan sulit diakses. Di sisi lain, alih-alih dirangkul dan dibimbing, jeritan minta tolong Gen Z terkait kesehatan mental sering kali didepak oleh generasi tua dengan stigma sekadar “kurang ibadah”, “manja”, atau “lemah”. Gen Z dibiarkan bertarung sendiri di arena yang tidak adil.
Jeratan Peradaban Sekuler-Kapitalistik
Melihat data bahwa keuangan, lapangan kerja, dan karier menjadi tiga hulu utama kecemasan Gen Z, jelas ini bukanlah kegagalan personal, melainkan produk gagal sistemik dari peradaban sekuleristik-kapitalistik.
Sistem kapitalisme hari ini memandang pemuda sebatas “mesin pencetak uang”. Nilai kemanusiaan mereka direduksi hanya seberapa produktif mereka menghasilkan materi bagi industri. Dari sinilah lahir budaya kerja paksa modern (hustle culture) yang menguras fisik dan mental.
Sifatnya yang sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) juga merusak jati diri pemuda. Kebahagiaan diukur dari kepemilikan barang bermerek. Ketika uang menjadi tuhan baru, anak muda yang buntu akhirnya terjebak dalam lingkaran setan instan: pinjaman online (pinjol) hingga candu judi online yang dikemas foya-foya. Guna meredam kekritisannya, sistem ini terus menyuapi mereka dengan hiburan yang melenakan agar mereka abai terhadap urusan umat, seperti korupsi dan kerusakan lingkungan.
Namun, daya kenyal idealisme pemuda tidak bisa ditekan selamanya. Rasa cemas dan gelisah yang dialami Gen Z sebenarnya adalah “alarm alami” yang membuktikan sistem imun sosial mereka menolak normalisasi kerusakan ini. Rasa cemas itu kini berubah menjadi kemarahan kolektif, memicu resistensi khas anak muda: menolak eksploitasi kerja (quiet quitting), mendobrak stigma mental health, hingga menggunakan jempol mereka di media sosial untuk menegakkan keadilan lewat viralitas.
Mengubah Keresahan Menjadi Kebangkitan
Harian Kompas mengingatkan bahwa tanpa penanganan yang tepat, krisis mental ini akan menghambat masa depan dan visi Indonesia Emas. Agar gelombang resistensi Gen Z tidak berakhir sebagai riak kecil yang sesaat, gerakan ini membutuhkan jangkar yang kuat. Di sinilah mabda (ideologi) Islam hadir sebagai solusi fundamental atas krisis dunia hari ini, menawarkan tatanan yang membawa Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat bagi semesta alam).
Menyembuhkan Jiwa (Ketenangan Spiritual): Islam mendobrak standar kapitalis. Dalam Islam, kemuliaan manusia diukur dari ketakwaannya, bukan materi atau isi dompet. Konsep ikhtiar maksimal yang dibarengi tawakal (berserah diri) adalah obat penawar terbaik bagi kecemasan masa depan. Rezeki telah diatur, sehingga pemuda tidak perlu depresi atau menghalalkan segala cara.
Merombak Aturan Main (Keadilan Ekonomi): Islam melarang keras sistem riba dan spekulasi keuangan—akar dari suburnya pinjol dan judi online yang merusak pemuda. Prinsip “Bayarlah upah pekerja sebelum keringatnya mengering“ adalah perlawanan nyata terhadap eksploitasi kerja. Ekonomi Islam memastikan harta berputar merata (lewat zakat dan wakaf), membebaskan pemuda dari impitan ekonomi struktural.
Mengembalikan Peran Negara (Ri’ayah yang Amanah): Dalam Islam, politik adalah kepengurusan rakyat. Negara wajib menyediakan pendidikan tinggi yang berkualitas secara gratis atau terjangkau, layanan kesehatan (termasuk kesehatan jiwa), serta lapangan kerja yang luas tanpa mempersulit generasi muda.
Merebut Masa Depan Emas
Menyadarkan pemuda hari ini untuk mengemban mabda Islam dan peduli pada kondisi umat adalah kunci perubahan. Tugas generasi saat ini adalah merangkul Gen Z, memvalidasi keresahan mereka, dan mengarahkan energi resistensi mereka menggunakan bahasa serta media digital yang mereka kuasai.
Kecemasan Gen Z adalah energi kinetik yang dahsyat. Ketika kreativitas dan keberanian digital mereka disatukan dengan kejelasan ideologi Islam, mereka tidak lagi sekadar menjadi korban zaman yang meratap lewat doomscrolling. Mereka akan bangkit menjadi arsitek peradaban baru yang membawa ketenangan dan keselamatan hidup. Dengan begitu, visi masa depan emas Indonesia bukan lagi sebatas angan-angan utopis, melainkan sebuah realitas yang sedang dijemput. Wallahualam bsshawab.
