Oleh : Imam Abdullah El-Rashied
Gerimis bimbang menghujam hati dalam keraguan. Malam-malam panjang yang enggan mendekap jiwa yang penuh kegelisahan. Meski berjam-jam lamanya telah kupasrahkan badanku di atas pembaringan. Yah, hal itu bermula 15 bulan silam saat aku selesai menamatkan pendidikan SMK di Cirebon, kota kelahiranku. Bersama beberapa kawan kami diterima bekerja di salah satu perusahaan elektronik swasta nasional di Cikarang, Bekasi. Selama hampir satu tahun di situlah ku jajaki hidupku untuk menjadi pekerja yang berkomitmen dan bersemangat sampai kontrak benar-benar selesai.
Jauh dari Abang dan Mama kadang membuatku ingin segera pulang, namun apa daya kontrakku harus tuntas jua. Suatu saat di malam yang hening, saat mata ini sedang asyik menelusuri jalanan malam Kota Bekasi, tiba-tiba terdengar riuh gemuruh Shalawat dikumandangkan dari kejauhan. Panji-panji dengan bermacam warna berkibar di hadapan panggung dengan jama’ah berjaket hitam yang tumpah ruah. Itulah awal ketertarikanku dengan Majelis Rasulullah saw.
Hari-hari sepiku di Bekasi kini mulai terpenuhi dengan kegiatan positif, menghadiri Majelis Taklim. Yah, inilah identitasku yang baru, Sang Pemburu Majelis. Di saat itu pulalah kecintaanku pada Habaib dan Ulama terpatri kuat dalam sanubariku.
Setahun tak terasa, kini Aku sudah kembali ke Cirebon, kampung halamanku. “Riski, kalau Kau mau bekerja lagi, jangan jauh-jauh dari Mama. Mama ingin dekat dengan Riski dan Abang”. Itulah pinta Mama kepadaku, begitu pula pinta Mama pada Abang. Setelah menyelesaikan kontrak pekerjaan lamanya di Batam, kini Abang mulai kembali ke Cirebon dan bekerja tak jauh dari rumah. Adapun diriku sekarang mulai bekerja di salah satu toko komputer yang hanya berjarak 20 menit dari rumah.
Ada rutinitas baru yang ku jalani selain bekerja dari pagi hingga sore hari, yaitu berburu majelis sebagaimana kebiasaan lamaku di Bekasi. Si Abdul, kawan dekatku sejak kecil itu sering mengajakku menghadiri Majelis Taklim di Masjid Raya yang diadakan setiap malam selasa. Lama-kelamaan Aku mulai mencintai Guru Mulia yang mengasuh majelis tersebut, hingga akhirnya ku putuskan untuk sering menginap di Markas Dakwahnya.
Di Markas Dakwah Aku mengabdikan diri sebagai Tehnisi Media Dakwah. Hari berganti hari, minggu berganti minggu hingga akhirnya Aku kian jatuh cinta dengan rutinitas baruku ini. Bahkan Aku berkeinginan mengabdikan lebih hari-hariku untuk membantu dakwah Guru Mulia dan meninggalkan profesiku di toko komputer.
Sayangnya harapan itu menjadi sirna saat Aku tahu bahwa harapanku berseberangan dengan harapan Mama. “Riski, Mama ingin Kau kuliah saja. Agar kelak
Kau tak susah mencari pekerjaan dan menjadi orang yang sukses. Mama tak ingin kesalahan Mama terulang pada anak-anaknya“. Harapan yang tak sejalan. “Mama ingin Riski bagahia dan kuliah di bidangnya lalu bekerja dan menjadi orang yang mapan”. Tutur Mama kepadaku saat kuutarakan keinginanku untuk tinggal dan mengabdi kepada Guru Mulia di Markas Dakwahnya.
Dalam bimbang kuutarakan semua keluh-kesahku pada Si Abdul, Motivator Dadakan yang amat piawai menasehatiku. Berhari-hari dialog kami hanya berkutat soal mencari solusi agar harapanku dan harapan Mama menjadi satu, namun hasilnya nihil. Hingga suatu ketika, di pojokan kamar Abdul berkata padaku : “Begini saja Riski, Kau bilang ke Mama Kau itu bahwa kebahagiaan Kau itu ada di Markas Dakwah, dekat dengan Guru Mulia, kalau Mama harapannya ingin Riski bahagia maka izinkanlah Riski untuk tinggal di Markas Dakwah”. Tungkas Si Abdul memberiku solusi.
Itulah gerimis bimbang yang menghujam hatiku di malam-malam panjang nan sesak pilu. Istikharah dan Musyawarah adalah sebaik-baik jalanku untuk mencari solusi. Setelah berlama-lama Mama tak mengizinkanku untuk tinggal di Markas Dakwah, akhirnya kuberanikan diri untuk mengatakan padanya sekali lagi. Penuh tumpahan air mata kulihat mengalir di pipi Mama yang mulai keriput itu. Isak tangisnya tak begitu terdengar. Namun raut di wajahnya sudah cukup mengatakan bahwa Ia kurang setuju dengan pilihanku.
Harapanku dan harapan Mama memang berseberangan. Tapi, ada satu titik yang mempertemukan jalan kami di satu persimpangan, “Kebahagiaanku“. Yah, itulah kata kunciku untuk mengetuk hati Mama. Akhirnya, walau dengan berat hati, karena melihat keinginanku yang kuat untuk hidup di Markas Dakwah, Mama pun merestui.
Satu tahun berlalu kuabdikan hidupku untuk Dakwah Guru Mulia. Karena kepercayaannya yang tinggi kepadaku, kini Aku diangkat sebagai bagian dari Manajemen Ekonomi di Yayasan Guru Mulia. Setelah berjalan beberapa waktu, melihat kemajuan dan reputasiku dalam menjalankan tugas, akhirnya Guru Mulia memberiku beasiswa S1 di bidang manajemen.
Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Tak lama setelah Aku kuliah di bidang manajemen, dalam usia yang terbilang sangat muda, ku ambil keputusan terpenting dalam hidupku untuk menikah dalam usia dini. Hal ini menimbang karena kondisi zaman yang kian termakan oleh krisis moral dan meningkatnya pergaulan bebas. Di satu sisi Aku ingin memberikan contoh kepada kawan-kawan di komunitas “Cirebon Tanpa Pacaran” yang sudah hampir satu tahun kami jalankan bersama Remaja Masjid Raya. Menikah di waktu muda? Why not!. Adalah janji Allah kepada hambaNya untuk memberi kelapangan riski bagi mereka yang menikah. Itulah salah satu doronganku untuk menikah sedini mungkin di saat Aku mulai meniti karir di jalan Dakwah. Dan penagihan atas janji Rasul-Nya untuk menyempurnakan separuh imanku.
Syukur kepada Tuhan dan terima kasihku pada Si Abdul, Motivator terbaikku. Agama, Pekerjaan, Pendidikan, Pasangan dan Kebahagiaan Mama kucapai beriringan dalam seikat harmoni dari berkah cinta dan pengabdian kepada Guru Mulia. Pepatah bilang: “Pucuk dicinta, Ulampun tiba”.
Kini aku mulai sibuk dengan organisasi yang aku bentuk bersama teman-teman untuk mengarahkan anak muda, yaitu Generasi Islam dan Pejuang Cinta. Selain sibuk mentoring anak muda dan memotivasi mereka untuk menikah, saat ini aku sibuk memberikan seminar dan bedah buku yang baru-baru ini aku terbitkan.[]
