Pesta sepakbola dunia empat tahunan, Piala Dunia (PD) selalu memberikan hiburan kepada penduduk bumi, terutama pencinta sepakbola. Banyak catatan dari PD 2026, kali ini penulis mengangkat tentang status pemain dan bagaimana mereka memposisikan diri antara cinta kepada negara dan kelangsungan hidup sehari-hari. Banyak dari mereka yang bermain di liga luar negaranya.

Dilansir oleh FIFA, dari pemain yang terdaftar di 48 negara peserta PD 2026, sekitar 200 orang yang saat ini merumput di Liga Inggris, 109 di Jerman, 86 di Perancis dan Spanyol, 71 di Italia, 49 di Saudi Arabia, 46 di Belanda, 45 di Turki, 42 di Amerika Serikat dan masing-masing 36 di Brasil dan Portugal. 

Lalu bagaimana perasaan para pemain ini ketika harus membela negaranya melawan negara tempat klub mereka? Tempat mencari nafkah? Jika ditanyakan, jawabannya satu. Yaitu profesional. Tapi apakah benar demikian?

Untuk menjawab ini, kita tengok dulu Piala Dunia 2002 yang berlangsung di Korea Selatan dan Jepang. Khussnya babak 16 besar antara Korea Selatan dan Italia. Saat itu kedudukan 1-1 waktu normal 90 menit dan harus dilanjutkan dengan perpanjangan waktu, di mana pemain Korea Ahn Jung Hwan menyundul bola pada menit ke-117, merubah skor jadi 2-1, sekaligus menyingkirkan Italia.

Di sinilah masalahnya. Ahn Jung Hwan saat itu berstatus sebagai pemain AC Perugia, salah satu klub Serie A Liga Italia. Seketika reaksi masyarakat Italia waktu itu bermunculan di media, menyerang Ahn. Diduga terdesak oleh opini masyarakat yang menyebut ‘Ahn merusak persepakbolaan Italia’, Presiden Perugia Luciano Gaucci tidak memperpanjang kontraknya, dan pemain itupun pindah ke Liga Jepang, bermain di Shimizu S-Pulse.

Fenomena Ahn ini tidak terjadi di setiap PD. Bahkan bisa jadi, ini adalah yang pertama dan terakhir, yang muncul di permukaan. Meski demikian, hal serupa selalu terjadi dalam skala kecil. Atau tidak jadi besar karena tidak di-blow up oleh media.

Ada doktrin yang berlaku secara universal, bahwa membela negara adalah harga mati. Lihatlah ketika sebuah negara tersingkir di PD. Secara kasat mata, air mata yang keluar rata-rata air mata kekecewaan karena tidak (belum) berhasil mengangkat negaranya di bidang sepakbola. Rasa kecewa ini campur aduk dengan pelukan antara pemain, terutama yang berasal dari klub yang sama meski berbeda negara. Contoh playmaker Kroasia Luka Modric yang tersingkir oleh Portugal, terlihat sangat kecewa dan menangis, namun tersenyum saat berpelukan dengan Rafael Leao, winger kiri Portugal. Saat ini mereka satu tim di AC Milan.

Dan lihatlah tatkala pemain mewakili negaranya melawan negara tempat dia bermukim. Erling Haaland yang begitu perkasa di pertandingan sebelumnya sampai mencetak 7 gol, bahkan menyingkirkan juara 5 kali Brasil, terlihat lemah saat melawan Inggris di perempat final. Bukan hanya Haaland pemain Manchester City. Rekan-rekannya pun mengalami hal yang sama. Seperti penyerang Alexander Sorloth (Crystal Palace), gelandang Sander Berge (Fulham), dan bek Kristoffer Ajer (Brentford). Juga penyerang Martin Odegaard (Arsenal) terkesan main setengah hati meskipun membuat satu asis untuk gol Andreas Schjelderup.

Tengok pertandingan lain, saat Spanyol menyingkirkan Portugal di babak 16 besar. Beberapa pemain Portugal, yang meskipun katanya profesional, tetap saja bawa perasaan alias baper. Seperti bek kanan Joao Cancelo (Barcelona) yang diberi rating oleh Google di bawah rata-rata, yaitu 4.8. Dia akhirnya diganti oleh Diogo Dalot pada menit 71. Paling parah, Cristiano Ronaldo, yang memble di hadapan para pemain belakang Spanyol. Memang dia 10 tahun main La Liga Spanyol yaitu di Real Madrid. Tapi itu sudah lama, 2009-2018.

Sekarang kita lihat pertandingan Perancis dan Maroko. Dari 4 pemain tim nasional Maroko yang saat ini berstatus sebagai pemain aktif di Ligue 1 Perancis, 3 dimainkan oleh pelatih Mohamed Ouahbi, dan ketiganya kurang maksimal jika dibandingkan dengan penampilan mereka di pertandingan-pertandingan sebelumnya, di babak grup, juga saat mengalahkan Belanda dan Canada. Mereka adalah bek kanan Achraf Hakimi (PSG), gelandang Ayyoub Bouaddi (LOSC Lille), dan Gessime Yassine (RC Strasbourg Alsace).

Terakhir, penyerang Paraguay Julio Enciso yang saat ini satu tim dengan Yassine di Ligue 1. Menghadapi Jerman di babak 32, dia cetak 1 gol. Di babak grup, dia berikan 1 asis untuk gol Matia Galarza. Juga saat dikalahkan Amerika Serikat 4-1, dia beri asis untuk gol Mauricio. Di tiga pertandingan ini, nilainya di atas rata-rata.

Tentunya, penampilan mereka ini bukan satu-satunya penyebab kekalahan timnya. Begitu juga jika menuduh mereka terlalu baper, adalah penilaian yang subjektif. Namun mereka juga manusia. Hatinya adalah hati manusia. Jadi wajar, jika saat bermain menghadapi negara yang jadi tempat bermata pencaharian dan hidup bertahun-tahun di situ, apalagi menghadapi rekan yang selama ini senasib-sepenanggungan, mereka berada di persimpangan: antara baper dan profesional.

Kisah Ahn Jung Hwan mungkin tidak akan terjadi lagi. Namun itu tetap menghantui pemain. Diakui atau tidak. Seandainya bisa bicara face to face dengan nama-nama di atas, satu per satu, maka mereka akan mengakui hal itu, meski tersimpan rapi di hati yang paling dalam. Dan off the recordWallahu a’lam bish-shawab.

By the way, semi finalis Piala Dunia 2026 adalah 4 negara di peringkat 1-4 FIFA dengan urutan per 10 Juli 2026: Perancis, Argentina, Spanyol, dan Inggris. Katanya, ini pertama kalinya terjadi di sejarah Piala Dunia.

Paser, Kalimantan Timur, 13 Juli 2026

(Visited 3 times, 3 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.