Kekeringan tengah melanda negeri, akibat musim kemarau panjang dan fenomena El Nino. Rumput-rumput dan semak belukar kering dan mudah tersulut api. Saat ini kebakaran hutan dan lahan (karhutla), juga pemukiman sedang terjadi di mana-mana. Termasuk Pulau Kalimantan, yang berpenghuni sekitar 16,3 juta jiwa penduduk Indonesia, atau sekitar 6 persen dari jumlah penduduk negeri ini.

Kondisi darurat kini terjadi di hampir semua wilayah di Kalimantan. Metro TV melalui akun instagram mencatat lebih dari 8 ribu titik panas atau hotspot yang tersebar di seluruh pulau, dan terbanyak di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Kalimantan Tengah mencatat 2 ribu lebih titik panas dan ini tertinggi se-Indonesia. Kalimantan Barat sedikit di bawah dengan jumlah sekitar 2 ribu titik. Tiga Provinsi lain juga mencatat banyak titik panas akibat cuaca kering.

Laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan data yang sama, meski mereka menyebutkan bahwa titik api lebih banyak terjadi di Kalimantan Barat.

Akan tetapi di sini bukan tentang berlomba untuk menunjukkan diri siapa yang lebih banyak mempunyai titik api. Nyatanya, di Kalimantan Timur yang katanya titik apinya lebih sedikit, dampak luar biasa juga melanda masyarakat. 

Di Kabupaten Paser, dengan 313 ribu penduduk, karhutla terjadi siang dan malam. Setiap hari sirene mobil Pemadan Kebakaran (Damkar) dan Daerah Operasional (Daops) Manggala Agni Kalimantan XII/Paser kedengaran meraung-raung, membelah wilayah pemukiman, masuk ke semak belukar, merambah hutan belantara.

Jarak pandang setiap hari hanya beberapa ratus meter. Kadang bahkan kurang dari 100 meter akibat kabut asap tebal. Di dalam kabut asap itu beterbangan jelaga berwarna hitam pekat. Mengganggu pemandangan pengendara di jalan.

Penggunaan masker harus sampai dua lapis jika ingin benar-benar menjaga agar asap itu tidak terhirup sampai masuk ke paru-paru. Belum termasuk rasa panas yang menyengat. Dari hutan yang terbakar, dari asap yang pekat dan jelaga yang lengket di badan serta mengotori rumah.

Di beberapa jalan yang kiri dan kanannya berupa semak belukar, apabila dilewati pada malam hari, terasa berkendara di jalan shiratal mustaqim. Kiri kanan merah menyala.

Ada Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup Republik Indoensia, lalu imbauan para petinggi di daerah untuk tidak membuka lahan dengna cara membakar, belum menunjukkan tanda-tanda akan terlaksana. 

Salat istisqa (salat minta hujan) terjadi di mana-mana. Seperti Polres dan Kodim yang secara bergantian melaksanakan salat ini dengan mengundang masyarakat luas. Kegiatan yang sama terlaksana di banyak masjid.

Lalu ada berita dari negeri tetangga, Malaysia yang terganggu dengan kiriman asap dari Indonesia. Mereka membantu memadamkan api di dekat negara itu, dengan menggunakan pesawat. Ini terlihat cukup efektif, namun tentu saja Indonesia tidak mungkin mengandalkan negara lain untuk mengatasi masalah dalam negeri.

Ada pula berita dari Provinsi Lampung. Untuk memadamkan api yang membakar Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Pemerintah menggunakan penerjun payung yang diberi nama Tim Alpha. Namun sayang sekali ini hanya terjadi di Lampung. Padahal bisa saja berhasil juga jika dilakukan di Kalimantan. Tapi hati-hati, karena menerjunkan personil ke lahan yag sedang terbakar hampir sama maknanya dengan menerjunkan manusia ke dalam api neraka.

Sebenarnya penanggung jawab negeri ini tidak kehabisan ide. Bencana kebakaran justru melahirkan banyak inovasi. Seperti penggunaan Hartindo AF31 dan F351 oleh Kapolda Kalimantan Timur Irjen Pol Endar Prianto untuk memadamkan Karhutla di Kalimantan Timur. 

Media-media nasional ramai memberitakan ini. Detik com (28/8/2026) menulis cairan berbasis kimia ini digunakan oleh Polda bekerja sama TNI Angkatan Udara, Kodam VI Mulawarman dan BPBD untuk mempercepat pendinginan sekaligus menhghambat api kembali menyala.

Media Indonesia juga menulis bahwa lintas instansi terkait di Kalimantan Timur memperkuat strategi penanganan dan pencegahan Karhutla di tengah cuaca ekstrim dengan penggunaan bahan semikimia Hartindo AF31 dan F351.

Bagaimanakah hasilnya? Hingga akhir Agustus kabut asap masih memenuhi ruang terbuka. Jelaga masih beterbangan. Bola raksasa matahari tampak masih merah pekat akibat hamburan debu halus dan aerosol di atmosfer.

Warga Kalimantan masih berharap hujan segera turun. Hanya itulah satu-satunya harapan warga agar Karhutla bisa berhenti. Sebagai umat beriman, tentu saja kita sangat mengharapkan doa yang dipanjatkan oleh jamaah salat istisqa bisa segera dikabulkan oleh Allah, Swt.

Namun bagaimana jika itu tidak kunjung terjadi. Maka tidak ada pilihan selain menikmati udara yang membuat sesak di dada. Kadang bersikap skeptis sambil membayangkan keajaiban datang dari hal-hal yang tidak masuk akal. Seperti, menanti bantuan Avatar, yaitu Aang si pengendali udara.

Alkisah dalam film fiksi Avatar, bahwa dalam upaya Aang memadamkan api yang membakar seluruh kota akibat serangan Raja Api, Aang mendapatkan bantuan dari Unagi. Yaitu sebutan dalam bahasa Jepang untuk ikat sidat air tawar. Di film ini dikisahkan Unagi merupakan mahkluk raksasa yang hidup di perairan sekitar Pulau Kyoshi. Dia mampu menyemburkan air yang banyak dengan kecepatan tinggi dari mulutnya.

So, sampai kapan warga Kalimantan harus menunggu Aang dan Unagi untuk menghilangkan titik panas dan memadamkan api yang membakar pulau ini. Jawabannya, adalah, sampai hujan datang. Karena berharap pananganan dari manusia, ternyata merupakan hal yang hampir mustahil terjadi.

Paser, Kalimantan Timur, 30 Agustus 2026

(Visited 34 times, 34 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.