Oleh: Muhammad Sadar*
Hingga hari ini, dalam situasi di planet bumi yang kita diami dengan cuaca panas yang sangat ekstrem, pertarungan lapangan untuk penanganan upaya penyelamatan komoditas pangan khususnya tanaman padi dilakukan oleh para pemangku kepentingan terutama petani dan pemerintah. Ditengah cekaman musim kering yang berkepanjangan dan ketika sumber air menjadi bahan langka, reaksi para pendekar musim tanam ketiga justru akan menjajal kembali penanaman padi, yakni indeks pertanaman akan ditingkatkan menjadi tiga kali tanam dalam setahun pada bidang lahan sawah yang sama.
Sejak program OPIP (Optimalisasi Peningkatan Indeks Pertanaman) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian tahun 2022 di Kabupaten Barru, telah mewariskan aura kegiatan yang sangat berkesan dalam membuka wawasan dan memperkuat minat petani untuk melanjutkan penanaman padi pada musim tanam ketiga pada lahan sawah yang memungkinkan ditanami padi. OPIP telah menjadi media meningkatnya kesadaran sikap petani didalam mewadahi dan mengefisienkan waktu tanam yang tepat, penggunaan sarana benih bermutu serta pemanfaatan varietas padi unggul berumur genjah yaitu Inpari 13 yang sudah melegenda di kalangan petani pelaksana musim tanam ketiga.
Program OPIP merupakan strategi untuk menyiasati masa tanam yang tersedia sebelum memasuki fase musim tanam pertama. Pelaku usaha tani padi yang telah terlibat dalam OPIP sudah sangat mampu menyesuaikan waktu tanam ketiga yang tepat. Mulai petani dari Mallusetasi, Soppeng Riaja, Balusu, Barru, Tanete Rilau hingga Tanete Riaja, pada setiap menjelang akhir musim pertama dan kedua telah memiliki starting point didalam perencanaan masa tanam ketiga pada tahun berjalan.
Kecintaan petani terhadap MT.III di Kabupaten Barru hingga salah satu tokoh kuncinya diberi emblem “Pendekar MT.III Turun Gunung” yaitu Abd Jabbar. Ia digelari demikian karena sangat konsen pada penyelenggaraan musim tanam ketiga di lokasinya. Ia sudah khatam dan fokus terkait siasat cinta MT.III yang dilakoninya selama lima tahun terakhir. Ia berpredikat ketua kelompok tani Abbekkae yang mengelola lahan sawah anggotanya hingga mengoperasikan sendiri mesin pompa air miliknya.
Perspektif tentang cinta pada kaum tani pelaksana MT. III dibawah panji kelompok tani Abbekkae, sesungguhnya kata CINTA menurut makna lokal orang Bugis adalah Cindolo na Tape. Sebutan cindolo atau cendol adalah minuman tradisional khas Indonesia yang terbuat dari tetesan adonan tepung beras berwarna hijau. Adonan ini dicetak menggunakan saringan khusus, lalu disajikan bersama santan, cairan gula merah, dan es serut. Karakteristik cindolo berbentuk bulir atau tetesan lonjong kenyal. Warnanya hijau dari pewarna alami dengan rasa manis gula aren, dan gurihnya dari santan kelapa.

Pasangan favorit minuman cendol atau cindolo yaitu tape. Tape pada umumnya berwarna hitam yang berasal dari beras ketan hitam yang proses pembuatannya melalui mekanisme fermentasi menggunakan ragi. Penganan khas ini memiliki warna ungu kehitaman, tekstur lembut berair, serta rasa manis legit dengan sedikit sensasi asam dan berkomposisi alkohol alami. Suguhan cinta atau cindolo na tape pada setiap kali penyelenggaraan tanam padi dikalangan petani, seakan menjadi menu wajib untuk selalu disiapkan dan dinikmati bersama.
Makna simbolik suguhan makanan atau minuman cindolo na tape yang kerap kali dihadirkan pada event pelaksanaan penanaman padi adalah, agar setiap pertumbuhan malai padi menghasilkan bulir-bulir padi yang banyak berisi dan bernas bijinya sebagaimana butiran atau bulir cindolo dan penganan tape yang dinikmati bersama. Pandangan filosofis ini dari kalangan petani mengharapkan adanya produksi panen padi yang tinggi. Ia menghendaki dalam menuai padi yang melimpah seiring dengan performa buliran cindolo bersama tape.
Parade musim tanam padi ketiga di Kabupaten Barru pada saat ini, bukan hanya dilakukan oleh Abd Jabbar bersama perjamuan cinta, namun MT.III sudah menyebar mulai dari Desa Corawali yang telah mulai menanam sejak 10 Juli lalu, kemudian Desa Palakka seluas 10,0 hektare tanggal 24 Juli, disusul sebulan kemudian tanggal 21 Agustus pada acara gerakan tanam nasional 10,0 hektare di Desa Bojo, dilanjutkan di Desa Lempang 24 Agustus di areal tanam 5,0 hektare, seterusnya di Desa Siddo dan Kiru-Kiru tanggal 23-27 Agustus dengan luas tanam 20 hektare. Segenap lokasi tanam ketiga tersebut diintegrasikan kepada metode PM-AAS sebagai suatu model pengembangan padi dengan strategi optimalisasi lahan dan sumber daya lainnya.
Usaha tani padi yang dilanjutkan dengan cara lain khususnya dalam penerapan metode PM-AAS terutama pemanfaatan jumlah benih dan sistem tanam berbeda dibanding cara lain, serta intensifikasi penggunaan sarana berbagai macam pupuk untuk mengungkit optimalisasi produktivitas tanaman. Integrasi metode tanam tersebut turut diwujudkan pada MT.III 2026 di wilayah ini seperti di lokasi PM-AAS Desa Binuang dan Desa Kamiri seluas 10,0 hektare yang ditanami antara 12-29 Agustus yang turut dihadiri oleh Tenaga Ahli Menteri Pertanian Dr.Ir. Haris Bahrum, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian
BPPSDMP Dr. Muhammad Amin selaku Pj.Swasembada Pangan Barru dan Direktur Polbangtan Gowa Dr.Ismaya Nita Rianti Parawansa.
Nuansa pelaksanaan MT. III di Kabupaten Barru sebagai wilayah binaan segenap pimpinan eselon atas Kementerian Pertanian merupakan cerminan perhatian yang sangat tinggi terhadap penyelenggaraan kebijakan dan program swasembada pangan berkelanjutan di setiap daerah. Ekosistem swasembada dibangun untuk memberi ruang kreativitas kepada pelaku usaha tani padi agar memanfaatkan waktu masa tanam yang tersisa tanpa jeda musim. Dukungan moril dan materil dari pemerintah penting diwujudkan sebagai bagian motivasi besar kepada petani agar terus berusaha tani padi sepanjang angin moonson bertiup.
Kemeriahan musim tanam tahun 2026 di Kabupaten Barru tak lepas dari dukungan para pendekar alami musim tanam pertama, kedua dan ketiga. Ia harus terus disugesti atas capaian prestasi selama ini. Intervensi dan sokongan berbagai fasilitas budidaya dan insentif harga pasar komoditas wajib digelontorkan oleh pemerintah untuk mensukseskan program swasembada. Militansi petani berjibaku dengan tekanan alam patut diapresiasi hingga ia mempertaruhkan pikiran, tenaga hingga material cinta yang setiap waktu disiapkan ketika kerja-kerja tanam padi di lahan sawah dimulai.
Barru, 30 Agustus 2026
*Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Pangan, TPHBun
Kabupaten Barru
