Oleh: Muhammad Sadar*

Kekuatan hingga euforia atas capaian swasembada pangan nasional tahun 2025 khususnya pada komoditas beras sepertinya tiada henti menghadapi tantangan produksi ke depan. Di tengah pertumbuhan penduduk domestik yang akan membutuhkan ketersediaan pangan pokok setiap waktu, ditambah gejolak geopolitik dunia yang semakin mengganggu kestabilan global yang menghendaki negara-negara produsen beras dunia menahan ekspornya untuk keamanan pasokan dalam negeri.

Selain faktor tersebut diatas, tantangan serupa yang dialami dunia dalam manajemen produksi beras antara lain sistem semesta alam berupa gangguan iklim global yaitu fase El Nino tahun 2026 yang sedang terjadi saat ini, sebagaimana telah diramalkan dan dianalisis para ahli meteorologi dan klimatologi dunia, dimana masa kekeringan berkepanjangan di belahan bumi bagian selatan maupun di bagian utara sangat berpotensi menggagalkan segenap sistem produksi padi. Kini, ekosistem standing crop pada musim kedua dan ketiga tengah menghadapi ancaman nyata kekeringan masif pada pertumbuhan tanaman padi hingga memasuki periode panen.

Memperhatikan tantangan terhadap produksi beras nasional yang capaiannya harus berkelanjutan, dan diakui bahwa budidaya padi merupakan komoditas yang sangat rentan terhadap fluktuasi perubahan iklim dan kesiapan sarana lainnya. Dengan demikian, Kementerian Pertanian menggagas suatu terobosan inovasi dengan memperkenalkan metode budidaya padi produktif dengan nama PM-AAS atau Pertanian Modern Advanced Agriculture System, yang biasa disebut Sistem Pertanian Maju. Melalui temuan inovasi dan teknologi produksi akan sanggup memberi jaminan terhadap peningkatan produktivitas, nilai tambah pendapatan petani dan kesejahteraan bagi para pelakunya.

Hasil riset Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, BRMP Kementerian Pertanian, 2025-2026 melaporkan bahwa metode PM-AAS memiliki keunggulan antara lain, (1) Lebih cepat dan efisien melalui praktik budidaya dengan memotong waktu pesemaian; (2) Hemat biaya dan tenaga dengan mengurangi beban tenaga kerja dan biaya operasional;
(3) Produktivitas lebih tinggi dengan mendorong pengelolaan jumlah rumpun tanaman yang lebih terukur dan berpotensi meningkatkan hasil disertai populasi mencapai 800 ribu hingga 1,2 juta rumpun per hektare; (4) Berbasis teknologi melalui dukungan pengambilan keputusan budidaya berteknologi alat mesin pertanian modern hingga akurasi data lapangan; (5) Lahan lebih optimal dengan memanfaatkan luas lahan yang presisi dan produktif.

Kementerian Pertanian hingga kini sampai akhir tahun 2026 menargetkan sasaran tanam dan panen budidaya padi metode PM-AAS seluas satu juta hektare. Melalui luas tanam tersebut dengan produktivitas tinggi antara 10,2- 12,0 ton per hektare, maka estimasi produksi secara nasional akan mampu dicapai 10-12 juta ton gabah kering panen. Proyeksi tersebut merupakan angka ideal jika semua strategi dan kebutuhan sarana produksi terpenuhi. Optimisme hitungan matematis diatas harus didukung oleh pengerahan segenap sumber daya pelengkap budidaya padi unggul.

Sasaran implementasi metode PM-AAS saat ini adalah ditujukan pada lahan-lahan sawah intensifikasi yang telah memenuhi syarat kualifikasi irigasi teknis atau irigasi perpompaan tahun 2024, kemudian kegiatan optimasi lahan dan cetak sawah rakyat tahun 2025 atau pada lahan konvensional lainnya yang memiliki potensi untuk digarap. Kesiapan sarana lain yang paling urgen dibutuhkan adalah varietas padi unggul berumur genjah serta berbagai jenis pupuk, pembenah tanah, organik komposit biofertilizer, maupun sarana pengendali hama penyakit tanaman. Alsintan panen juga menjadi penentu diakhir agar produksi tidak anjlok ketika fase panen terjadi pada musim hujan.

Penyelenggaraan metode PM-AAS dalam praktik budidaya padi di lapangan yang pada intinya adalah pemadatan populasi tanaman per satuan luas melalui pengaturan jarak tanam rapat yang memungkinkan tanaman tahan rebah walaupun disinyalir terjadi kompetisi penyerapan nutrisi yang secara praktis meningkatkan kebutuhan penggunaan pupuk bagi tanaman. Oleh karena itu sumber pupuk sekiranya variatif agar terjaga keseimbangan antara source and zink untuk kontribusi pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman yang optimal.

Mengintegrasikan metode PM-AAS ke dalam pelaksanaan musim tanam ketiga yang paralel dengan waktu penerapannya sekarang akan mengantarkan suatu basis ekosistem tumbuh tanaman padi yang mengakar kuat. Ditengah kegentingan musim kering yang melanda dunia, ternyata sikap petani terus menyala untuk meningkatkan intensitas penanaman padi melebihi dari kebiasaan musim selama ini. Capaian target luas tambah tanam harian hingga akhir tahun diharapkan terpenuhi dari peran gaya baru PM-AAS.

Inovasi PM-AAS yang terhubung ke tingkat petani ditengah musim kering tentunya tak lepas dari peran pengawalan dan pendampingan program dari para petugas teknis pertanian di lapangan. Komunikasi intensif yang mengajak kepada perubahan pola tanam dan penggunaan sarana teknologi budidaya mutakhir utamanya didalam pergantian varietas padi yang lebih unggul dan adaptif terhadap kondisi alam. Ketersediaan sumber daya air sebagai faktor pembatas pertumbuhan tanaman tetap dieksplorasi dengan segenap upaya oleh petani.

Sejak diseminasi dan demonstrasi usaha tani PM-AAS di arena Penas XVII Gorontalo 2026, akhirnya metode budidaya padi modern tersebut direplikasi meluas hingga menutup 2026 yang diharapkan produksinya mampu menanggulangi defisit stok yang diperkirakan berkurang karena efek El Nino di tahun kuda api ini. Seakan berpacu dengan musim, semua daerah produsen padi di intervensi untuk menerapkan metode pertanian modern yang telah dicanangkan oleh Kementerian Pertanian. Program gerakan tanam padi serempak nasional dihadirkan pada semua lini lahan yang telah didesain sebagai fondasi produksi PM-AAS.

Aksi gerakan tanam padi serempak tingkat nasional dirancang oleh Kementerian Pertanian berupaya mendorong segenap pemerintah daerah dan pemangku kepentingan sektor pertanian lainnya agar mengoptimalkan potensi wilayah yang memiliki kemampuan untuk menambah indeks pertanaman padi setiap tahun. Dengan berbagai stimulan infrastuktur dan alat mesin pertanian yang telah digelontorkan pemerintah, maka tagihan perluasan areal tanam dan peningkatan frekuensi penanaman wajib ditunaikan.

Di berbagai pelosok tanah air telah menampakkan semangat maupun minat pelaku usaha tani didalam menyongsong gerakan tanam padi serempak, mulai areal yang tidak luas hingga menjadi hamparan tanam yang sangat signifikan keluasan tanamnya. Prilaku ini terlihat dari beberapa lokasi kelompok tani di Kabupaten Barru yang setiap musim tanam kedua berakhir akan dilanjutkan menjadi musim tanam ketiga. Percobaan menjajal budidaya padi pada musim ketiga memang memiliki potensi tantangan yang sangat berat. Namun, disadari pula dengan prilaku disiplin teknis budidaya padi yang adaptif bagi petani, maka tantangan tersebut akan mampu ditangani dengan baik.

Musim tanam padi ketiga yang sudah berkibar di Kabupaten Barru sejak lima tahun terakhir, akan mulai mengubah pola-pola tanam konvensional utamanya yang terkait dengan penggunaan varietas padi umur singkat, kemudian manajemen air irigasi dimaksimalkan bagi lokasi-lokasi berpengairan setengah teknis atau irigasi desa, lalu order pupuk subsidi yang akan disusun untuk muatan MT.III pada e-RDKK petani, selanjutnya pengaturan alsintan pra tanam dan pasca tanam akan dihitung kembali kebutuhannya terkait kesesuaian dan kemampuan percepatan olah tanah dan panen suatu alat mesin.

PM-AAS yang akan menjadi menu utama budidaya padi pada musim ketiga dalam Gerakan Tanam Serempak Tingkat Nasional Tahun 2026 di lahan sawah kelompok tani Labucai Desa Bojo Kabupaten Barru, yang diikrarkan oleh Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, S.H.,M.Si bersama Kepala Pusat Pendidikan Pertanian BPPSDMP Kementerian Pertanian, Dr. Muhammad Amin selaku Pj. Swasembada Pangan Kabupaten Barru, Direktur Polbangtan Gowa Dr. Ismaya Nita Rianti Parawansa, Forkopimda, Kepala Dinas Pangan TPHBun beserta segenap jajaran, Ketua Kelompok Substansi Penyuluh Pertanian Provinsi Sulawesi Selatan, Camat Mallusetasi dan Kepala Desa Bojo, Dr.Ir.Tuppu Bulu Alam, M.Si beserta unsur masyarakat petani se-Desa Bojo, sebagai trigger penguatan dan perwujudan kolaborasi antar komponen bangsa untuk mempertahankan capaian swasembada pangan nasional.

Dalam semangat sinergitas mewujudkan visi swasembada pangan berkelanjutan, maka langkah pengawalan program sangat penting dijaga agar berhasil mencapai sasaran produksi yang telah ditetapkan. Semua elemen petani bersama petugas teknis pertanian harus turut terlibat menciptakan ekosistem pertumbuhan padi menjadi aman dan terkendali. Jika diawal peluncuran metode PM-AAS, beberapa kalangan menyebutnya sebagai simbol nama “Pak Menteri Andi Amran Sulaiman” agar lebih mudah diingat untuk dikerjakan oleh kaum petani.

Simbolisasi PM-AAS sebagai Pertanian Modern Advanced Agriculture System, pada suatu waktu nanti bisa jadi akronim tersebut akan berubah pemaknaannya lebih jauh disebut PM-PAAS yaitu Pertanian Modern-ala-
Prabowo Andi Amran Sulaiman. Ikon tersebut berikutnya sebagai sebuah penyemangat baru untuk kemajuan sektor pertanian dan takdirnya akan ditentukan oleh sejumlah warga negara Indonesia yang memang merasakan dampak kebijakan pembangunan pertanian negeri ini.

Melalui visi misi swasembada pangan yang diusung pemerintahan sekarang, telah memperlihatkan kinerja tercapainya sasaran swasembada beras dalam masa satu tahun kepemerintahan, bahkan hingga kini negara telah hadir menutup kran impor beras dan malah melakukan ekspor beras ke manca negara. Dengan mengandalkan manajemen logistik oleh Bulog, ready stock beras saat ini tersedia di seluruh gudang penjuru tanah air.

Barru, 24 Agustus 2026

*Penelaah Teknis
Kebijakan Dinas
Pangan, TPHBun
Kabupaten Barru

(Visited 7 times, 7 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.