Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka adalah salah satu tokoh nasional yang saat ini namanya sering muncul di platform media-media. Bukan cuma karena statusnya sebagai orang nomor 2 di pemerintahan, tapi karena sikapnya di depan kamera yang memantik reaksi para warganet. Mantan Walikota Solo ini telah memunculkan sejuta fenomena. Ya, Gibran adalah fenomena, dengan segala dinamika dan romantikanya.
Sejak menjabat sebagai Walikota Solo, 26 Februari 2021, apapun kegiatan Gibran, selalu menarik perhatian publik. Wartawan, konten kreator, lalu ada juga buzzer mengikutinya ke mana-mana. Penggiat media sosial pun tak tinggal diam. Dan warganet selalu menanti untuk meng-klik, baca, berikan emoticon, lalu share dan repost banyak hal tentang Gibran.
Meski demikian, beberapa lembaga survei menyebutkan bahwa nama Gibran baru populer sejak penetapannya sebagai salah satu Bakal Calon Wakil Presiden oleh partai politik, lalu KPU menetapkannya sebagai Calon Wakil Presiden (Cawapres). Artinya, sebelum itu, nama Gibran hanya beredar di Kota Solo, lalu di kalangan Jokowers, dan di luar kedua lingkaran ini secara terbatas.
Nah sejak resmi jadi Cawapres itulah bermunculan kejadian-kejadian unik tentang dia. Satu demi satu terkuak, oleh kerja cerdas wartawan, respon cepat penggiat media sosial, dan bermacam reaksi pro kontra warganet. Tak kalah penting peran Artificial Intelligence (AI) dalam memoles media informasi.
Waktu itu banyak isu menarik tentang Gibran. Seperti salah ucap asam sulfat yang seharusnya asam folat, kebijakan penanganan stunting, dan penampilannya di 2 debat Cawapres.
Tentang asam sulfat, meski termasuk kesalahan fatal, tidak bisa serta merta sepenuhnya jadi kesalahan dia. Ada yang bilang, sekelas Cawapres tidak boleh membuat kesalahan seserius ini. Namun banyak pula menilai penyebabnya adalah karena Gibran memiliki keterbatasan wawasan tentang istilah ini.
Di sini, Gibran tidak sendirian. Sebagian besar masyarakat Indonesia, yang tidak konsentasi memperdalam tentang ilmu gizi atau kesehatan, merasa asing dengan istilah asam folat. Bahkan yakinlah, banyak baru dengar istilah ini setelah peristiwa ini. Lalu mempelajarinya.
Sayangnya, banyak yang terperangkap pada akibat. Mereka terlena dengan olok-olokan pada Gibran, tanpa melihat penyebab kejadian. Karena terjebak pada dukung-mendukung Cawapres, suka dan tidak suka, benci dan rindu, maka dikungkung oleh subjektifitas.
Salah ucap adalah manusiawi. Tidak paham makna istilah pun juga manusiawi. Kondisi ini tidak memandang status sosial. Mulai dari rakyat jelata sampai presiden sekalipun bisa mengalaminya.
Akan tetapi, Gibran saat itu berstatus Walikota salah satu kota besar di Indonesia. Ia memimpin penduduk sebanyak lebih 500 ribu jiwa. Sebagai tambahan, status sebagai calon orang nomor 2 di negara tercinta ini menuntutnya harus minim keliru. Sangat aneh ketika kekeliruan itu keluar ke publik lalu menjadi bahan cemoohan.
Kalaupun terucap salah, klarifikasi harus menyusul dengan segera. Dan tulus. Sebagai seorang Walikota, semuanya serba ada yang atur. Jangankan salah ucap yang punya dampak sosial dan psikologi, papan nama yang miring saja langsung diperbaiki oleh orang-orang di sekitar.
Begitu detail protokoler dan tim ahli mengatur pola hidup kedinasan seorang pemimpin sekelas Walikota. Salah ucap seperti ini, harusnya mendapatkan klarifikasi oleh orang di sekeliling beliau, yang paham maşalah. Mengabaikannya sama dengan membiarkan pemimpin negara jadi objek ejekan. Dan kalau sudah begini, tim Humas juga yang repot melakukan klarifikasi.
Lalu beberapa saat di awal pencalonannya sebagai Wakil Presiden, Gibran tampak begitu percaya diri dalam berbicara di depan publik, walaupun terkesan selektif. Dia tak pernah mau mendatangi undangan dari kalangan tertentu, katakanlah, akademisi. Entah apa alasannya.
Tapi, pada suatu kesempatan dia tampak sangat lantang menyebutkan bahwa salah satu program prioritasnya adalah penanganan stunting. Video yang menunjukkan Gibran bicara di depan ratusan pendukung tersebar luas. Dia langsung mendapatkan sambutan histeris dan suka cita oleh pendukungnya.
Sekilas, dia berbicara seolah-olah kegiatan ini baru, atau setidaknya sudah ada oleh Pemerintahan saat itu namun belum maksimal, sehingga akan memerlukan perbaikan atau peningkatan pada pemerintahannya.
Beberapa hari setelah video itu beredar, salah satu menteri Kabinet Jokowi – Ma’ruf, yaitu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dengan tegas mengatakan bahwa ucapan Gibran dalam video itu bukan hal baru. Itu sudah tercantum dalam Dokumen APBN 2024.
Entah ada hubungannya dengan penyampaian Menteri Sri Mulyani ini, perlahan video itu menghilang dari dunia maya.
Lagi-lagi kejadian ini membuat publik tercengang. Kalau Sri Mulyani benar, bagaimana mungkin seorang Gibran yang merupakan anak Presiden dan mendapat dukungan penuh ayahnya, bisa luput dari informasi ini. Lebih tepatnya, bagaimana mungkin tim sukses Praboro – Gibran, yang merupakan pendukung Pemerintahan Jokowi, kurang jeli dalam menyusun bahan kampanye, sehingga Gibran dianggap tidak tahu apa yang menjadi program kerja ayahnya. Ini ridiculous, alias konyol.
Sejak saat itu Gibran masuk dalam pusaran like and dislike (suka dan tidak suka). Jadi sekecil apapun kekeliruan yang dibuatnya, akan menjadi objek black campaign (kamoanye hitam) lawan politiknya, lalu jadi bahan ledekan orang yang tidak suka padanya.
Sampai saat ini, sudah dua tahun Prabowo – Gibran memimpin Indonesia, ternyata Gibran masih menjadi fenomena unik nan langka. Sikapnya yang kalem dan hati-hati dalam berbicara di depan publik selalu menarik perhatian. Publik langsung terbagi dua: pro dan kontra. Keduanya mati-matian berkelahi di dunia maya. Yang jadi objek, mungkin lagi ngopi sambil main mobil-mobilan, mendengarkan pembantu-pembantunya membacakan komentar warganet. Sambil tersenyum simpul. Penuh arti.
Fenomena ini akan berlanjut sampai Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan datang. Semakin dekat Pilpres, semakin ramai dan menarik pula topik ini. Bukan hanya di media sosial, namanya akan selalu muncul di ruang-ruang diskusi media televisi, radio, cetak, di pos ronda, warung-warung, tongkrongan, sampai arisan ibu-ibu.
Mari kita nikmati perjalanan pemerintahan saat ini, lalu lihat apa yang akan terjadi. Wait and see.
Paser, Kalimantan Timur, 31 Agustus 2026
