Oleh: Rosita Samad*

Dingin masih menyelimuti sisa hembusan AC semalam yang lupa dikecilkan efek kecapean flight dinihari. Memandang keluar jendela yang berselimut kabut asap tebal. Mentari menyeruak diantara tebalnya kabut diantara gedung pencakar langit Jakarta. Sunrise pagi diketinggian biasanya nampak indah ber gradasi dengan langit biru kini berbeda jauh dari pemandangan biasanya.

Di tengah upaya Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan Norwegia untuk menurunkan efek GRK ( Gas Rumah Kaca) dihadang oleh badai elnino yang berdampak pada kekeringan hampir seluruh wilayah Indonesia. Kekeringan parah menyebabkan kebakaran hutan dan lahan parah di benerapa wilayah dan dampaknya asap memenuhi langit dan menyebar tak terkendali sesuai arah angin.

Upaya penurunan gas rumah kaca melalui berbagai kegiatan FOLU Net sink 2030 semakin melalui jalan panjang. Hutan yang diharapkan menyerap karbon dan melepaskan lebih banyak oksigen (O2) terancam mati akibat terbakar. Hutan alami semakin berkurang seiring bertambahnya hutan kritis. Tutupan lahan yang diharapkan meningkat dengan berbagai upaya penanaman oleh stakeholder terkait berbanding terbalik dengan kenyataan semakin rusak akibat ulah segelintir orang yang hanya mementingkan kepentingan pribadi. Tak pernah peduli pada dampak ekologis. Peningkatan suhu bumi kita akibat panas baik dampak kebakaran atau polusi dari aktifitas industri akan sangat mempengaruhi kualitas udara dan langit biru yang didambakan akan makin sulit terwujud.

Andai polusi seperti kilauan emas permata yang menarik, mungkin orang mudah melihat betapa buruknya dampak yang ditimbulkan kepada makhluk hidup dan alam pada umumnya. Merusak rantai ekosistem alami. Mikroorganisme pengurai akan mati akibat panas di luar batas toleransinya, daya dukung tanah menjadi menurun dan seterusnya berdampak pada ketersediaan unsur hara bagi tanaman juga akan semakin menurun. Rentetan ini tidak akan berarti apa-apa bagi orang yang kurang peduli pada ekologi sekitarnya. Orang mungkin belum menyadari betapa mahalnya oksigen andai kita harus membeli. Tapi Allah menyiapkan kita gratis melalui hasil dari proses fotosintesis tanaman. Bayangkan bila suatu areal hutan yang dibakar, berapa oksigen yang gagal diproduksi, sebaliknya justru produksi karbondioksida (CO2).

Langit biru bukan sekadar hamparan langit tak berawan, tapi juga menjadi penanda baiknya kualitas udara suatu wilayah. Jarak pandang maksimal polusi terkendali dan ketersediaan oksigen optimal untuk mendukung aktivitas manusia. Mari semua kita memberi dukungan buat kembalinya langit biru sesuai kapasitas kita masing-masing. Minimal tidak menambah beban polusi sekitar kita. Galakkan gerakan Stop bakar sampah, stop KARHUTLA dan mari hijaukan bumi kita walau hanya dengan beberapa tabulampot dan bougenville di halaman rumah kita masing-masing. Bumi ini warisan anak cucu yang perlu dijaga bersama oleh kita untuk kita.

Jakarta, 17 Oktober 2026
Elnino 2026
*) penulis Penelaah Teknis Kebijakan DLHK Prov. Sulawesi Selatan

(Visited 2 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.