Oleh: Ruslan Ismail Mage*

Sebagai seorang ayah, bisa jadi aku jauh dari kriteria ayah impianmu. Namun yang pasti, sejak engkau dilahirkan, setiap tangisanmu wajib kupastikan tidak ada nyamuk yang menggigitmu; setiap langkahmu wajib kupastikan tidak ada duri di bawah tumitmu; setiap pergerakanmu, sekecil apa pun, wajib kuyakinkan bahwa engkau aman. Tidak ada detik, menit, jam, minggu, bulan, bahkan tahun, yang kubiarkan lewat tanpa menitipkan doa dan pengharapan atas keberhasilanmu. Inilah hukum alami semesta yang kupahami.

Bukan hanya engkau yang kuminta selalu mendengarkan nasihat orang bijak, ayah pun mendengar dan mempercayai nasihat bijak sang matahari sastra dunia, Khalil Gibran: “Orang tua melahirkan, merawat, membesarkan, menyekolahkan, dan menjaga anaknya, tetapi jangan pernah berpikir memiliki jiwanya.” Nasihat ini bukan hanya menjadi pedoman bagiku, tetapi ideologi tanpa syarat. Tidak akan pernah aku mencoba memiliki pikiranmu, apalagi jiwamu. Aku hanya menyiapkan pelampung untuk mengantisipasi badai dalam perjalananmu menjemput cita-cita dan cintamu.

Aku paham benar, dalam usia pertumbuhan, anak biasanya lebih mendengar kata gurunya atau sahabatnya. Kadang, dalam hal-hal tertentu, lebih percaya pada orang lain dibanding pada orang tuanya. Itulah sebabnya aku memintamu mendengarkan dan mematuhi nasihat orang bijak yang memahami peta perjalanan hidup dan kehidupan. Hal ini sangat penting, karena kehidupan itu bergelombang; hembusan angin kencang dan badai setiap saat bisa datang menyapu segalanya. Jika tidak memiliki pelampung, seseorang bisa tenggelam.

Sebagai mahasiswa, salah satu nasihat penting yang harus engkau pahami datang dari seorang penggerak perubahan yang telah melewati lika-liku perjalanan kehidupan keilmuannya di tengah badai bernama ARB (Anies Rasyid Baswedan). Berikut kurang lebih nasihat ARB kepada mahasiswa:

“Jangan mengambil rute perjalanan bolak-balik yang tampaknya nyaman, cukup dari tempat tinggal (kontrakan, kos) ke kampus. Jadilah mahasiswa yang sibuk, karena jika waktu mahasiswa banyak longgar, berarti berada di jalur yang salah. Sebaliknya, jika waktu mahasiswa sibuk, berarti berada di jalur yang benar. Sibuknya apa? Sibuk dengan minatnya, sibuk dengan bidangnya. Jadi, buat waktunya sibuk dengan berbagai kegiatan. Itu berarti latihan mengelola berbagai urusan. Latihannya sekarang, bukan besok. Masa kuliah adalah masa belajar kepemimpinan.”

Anakku, nasihat bijak adalah tongkat dalam gelap. Engkau pasti membutuhkannya. Biarkan nasihat ARB ini mengalir menelusuri urat nadimu hingga tenggelam di muara optimismu, untuk menuntunmu menggerakkan seluruh fungsi pancaindramu tanpa syarat. Sebab, satu-satunya hal di dunia yang tidak bisa didaur ulang adalah waktu. Jalani hari-harimu di kampus dengan menyibukkan diri belajar, menggali potensi diri, serta mengembangkan minat dan bakat. Insyaallah, jika engkau menahan lapar, lelah, dan berkeringat karena menyibukkan diri belajar, engkau akan tersenyum sebagai pemenang. Ayah mempercayaimu dan tidak pernah meragukan kemampuanmu.

*Akademisi, penulis buku-buku motivasi dan kepemimpinan.

(Visited 31 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.