Oleh: Artati Latif*

Pembelajaran pada tingkat lokal masyarakat tani terkadang di selenggarakan oleh berbagai kalangan baik oleh organisasi pemerintah, swasta atau NGO domestik maupun luar negeri. Metode pelaksanaannya dilakukan secara langsung tatap muka, praktik lapang atau berbasis digitalisasi yang saat ini semarak diterapkan.

Salah satu kegiatan pemberdayaan peningkatan kapasitas petani yang diselenggarakan oleh Polbangtan Gowa Kementerian Pertanian di Kabupaten Barru adalah bimbingan teknis petani yang terhimpun di dalam Brigade Pangan. Bimtek yang berlangsung pada 29-31 Oktober 2026 merupakan implementasi program ICARE dengan berbagai materi penerapan teknologi, praktik digitalisasi, serta peralatan mekanisasi pertanian terkini seperti inovasi budidaya padi model Pertanian Modern- dvanced Agricultural System (PM-AAS).

Program ICARE ( Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment) adalah inisiatif kerja sama antara Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan Bank Dunia yang bertujuan untuk mendukung rantai nilai pertanian yang berkelanjutan dan inklusif. Sasaran utama ICARE adalah meningkatkan efisiensi, produktivitas, ketahanan iklim, dan daya saing sektor pertanian melalui pendekatan korporasi/kelembagaan petani di kawasan pertanian terpilih.

Kabupaten Barru merupakan salah satu daerah terpilih di Sulawesi Selatan selain Enrekang, Soppeng dan Gowa sebagai lokus pengembangan program ICARE. Bimbingan teknis yang dilakukan saat ini adalah memperkenalkan sistem pengairan air berselang atau AWD berbasis IoT, dimana sistem irigasi cerdas ini untuk budidaya padi yang menggabungkan metode pembasahan-pengeringan tanah sawah secara bergantian dengan otomatisasi sensor berbasis internet of things tanpa intervensi tenaga manusia.

Pembahasan terkait perangkat teknologi dan instalasi aplikasi IoT dibawakan oleh Tim BRMP Sulawesi Selatan, dimana implementasi teknologi AWD atau Alternate Wetting and Drying berbasis IoT untuk mendukung budidaya PM-AAS
guna mencapai produktivitas tinggi dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Materi PM-AAS yang disampaikan langsung oleh Pengkaji Basrum, S.P.,M.Si yang merupakan pelaksana diseminasi PM-AAS sebagai metode baru pengembangan tanaman padi di Kabupaten Soppeng tahun 2025 lalu. Ia menjelaskan syarat atau penciri utama PM-AAS adalah tanaman padi rapat dalam barisan hingga membentuk rumpun populasi besar yang memiliki potensi produksi tinggi. Ciri lain PM-AAS adalah penggunaan mekanisasi pertanian modern seperti mesin olah tanah dan panen, alat tanam drum seeder atau drone sprayer pemupukan/perlindungan tanaman.

Prasyarat yang lain PM-AAS adalah penggunaan varietas padi unggul yang memiliki potensi produktivitas tinggi, manajemen lahan secara intensif utamanya didalam pengetahuan status hara tanah maupun pH tanah melalui uji hara tanah hingga diperlukan perlakuan aplikasi dolomit (jika pH rendah 5,5-6), termasuk mineral silika hingga tiga kali aplikasi selama pertumbuhan, dan penambahan bahan organik kompos 1-2 ton per hektare.

Pengelolaan hara tanah bertujuan untuk mengkondisikan lebih awal kapasitas unsur hara yang dibutuhkan tanaman agar vigor tumbuh bertahan dan tidak mudah rebah, yang dimulai dari sistem akar yang terbentuk hingga batang atau postur organ tanaman lainnya lebih kuat. Mengingat metode PM- AAS adalah kerapatan dan pembesaran jumlah rumpun tanaman dalam skala luas hingga penggunaan unsur nitrogen dikendalikan pada bagian umur tertentu agar tidak menimbulkan gejala subur zat hijau daun berlebihan di awal pertumbuhan.

Berkenaan dengan penggunaan varietas padi unggul dalam penerapan PM-AAS dijelaskan oleh narasumber yaitu seorang Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Pangan, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Barru yang tak lain adalah alumni STPP/Polbangtan Gowa sekaligus kontributor media berbasis on line, Bengkel Narasi Indonesia
Muhammad Sadar,SST.,M.P., ia menjelaskan peran penting benih berkualitas untuk memulai budidaya tanaman padi.

Materi varietas padi dijelaskan sangat gamblang hingga riwayat penggunaannya di kalangan petani. Ia mengajak petani agar tidak lagi menanam jenis padi yang tidak rekomended dari pemerintah seperti galur tertentu yang memiliki banyak kelemahan. Lebih jauh, ia menjelaskan top five varietas padi unggul saat ini yang berkembang di Kabupaten Barru baik produktivitas maupun luas tanam setiap musim.

Presentasi materi varietas padi unggul, ia tampilkan melalui tayangan yang telah dirilis oleh website Bengkel Narasi sehingga memudahkan peserta untuk menyimak lebih jelas. Diantara varietas-varietas padi tersebut adalah Inpari 32, Inpari 49, Cakrabuana Agritan, Padjajaran Agritan, Mekongga dan Situbondo yang telah sangat berkembang di kalangan petani untuk mendukung proyeksi luas tanam PM-AAS 2026 di Barru.

Narasumber lain pada bimtek ICARE di Kabupaten Barru pada hari terakhir adalah Tenaga Ahli Menteri Pertanian Republik Indonesia, Prof.Dr.Ir.Arsyad,
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian BPSDMP, Dr. Muhammad Amin selaku Pj. Swasembada Pangan Kabupaten Barru, Kepala BBPP Batangkaluku Dr.Jamaluddin Al Afghani yang menyampaikan intisari program strategis pemerintah agar para pelaku pertanian terus berupaya meningkatkan produksi beras untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Pemerintah tiada berhenti mengalirkan perhatian penuh terhadap kebutuhan usaha tani para petani di Indonesia. Peningkatan kemampuan pelaku pertanian di dalam menerapkan inovasi baru selalu dikemas apik yang berwujud bimbingan teknis.
Penyelenggaraan bimtek yang diorganisir oleh Polbangtan Gowa melalui pendanaan program ICARE sangat keren memberi manfaat berupa ilmu terapan yang akan mudah dipraktikkan oleh pelaku pertanian di lahan usaha taninya.

Barru, 29-31 Oktober 2026

*PPL Desa Lalabata dan Desa Corawali

(Visited 10 times, 10 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.