Baiklah, untuk menjawab rasa penasaranmu, akan aku tuturkan padamu Nak, mengapa diriku begitu suka mendendangkan lagu ini, saat mencoba menidurkanmu di bahuku, atau sementara mengayunmu. Aku rasa, ini adalah saat yang tepat untuk bertutur, tepat ketika air tercurah menjadi tuturan di pagi hari, dan tak ada alasan bagiku untuk keluar rumah.

Entah siapa yang menciptakan lagu ini, serta siapa yang menyanyikannya pertamakali. Tak ada yang tahu, akupun begitu. Lagu yang kemudian diberi nama Ongkona Bone ini, dikira dinyanyikan sejak tahun 1905, tepatnya ketika terjadi peristiwa Rumpa’na Boneperistiwa kekalahan Kerajaan Bone oleh pasukan Belanda, akhir Juli 1905.

Di samping lagu ini akan membangun kesadaranmu sebagai ‘to Bone’, harapku, engkau bisa mencerap semangat pantang menyerah yang meruap dari perpaduan lirik dan syairnya. Lagu ini dinyanyikan oleh jiwa-jiwa yang tak kehilangan asa di tengah tantangan hidup yang tepermanai.

Kau tahu, Nak? Akhir Juli 1905 menjadi pembuktian bahwa orang Bone bukanlah manusia bernyali kecut. Kolonel Van Loenen, Panglima Tentara Ekspedisi Hindia Belanda itu mengultimatum Batara Tungke’na Bone, La Pawawoi Karaeng Sigeri, tapi Bone tak menyerah, Nak. Bukannya mengkerut, di bawah kepemimpinan Petta PonggawaE, Andi Abdul Hamid Baso Pagilingi, rakyat Bone bangkit dan berjuang hingga akhir.

Kala itu, Petta PonggawaE mengucapkan osong pakkanna –ikrar pejuang– yang terkenal menginspirasi wija to Bone hingga hari ini:

Itawaq mai ponratu allingereng mangkauqku, tellui sia kutoddoq puli tellaraq: ata mémengngaq ri Bone; tajajiangngaq ri peri-nyamenna Bone; ta alasikaq mangkauq ri tengnga padang, méwai sipobali laputé mata Balandaé, patokkongngi sorong pessinna Bone. Rékko napasorokaq laputé mata Balandaé ri alauna lona, inang kupasang-manenni sampuq puté mallonjoqku kupaddengngi-i sungeqku mattékka ri pammassareng.

[Pandanglah kemari, hai junjunganku, tiga peganganku yang takkan goyah: aku adalah abdi Tanah Bone; aku dilahirkan dalam suka-dukanya Bone; aku diangkat menjadi panglima perang menghadapi Si Putih Mata – Belanda, menegakkan kehormatan Bone. Apabila aku dipukul mundur oleh Si Putih Mata – Belanda, sudah kulilitkan kafanku sejak semula, kusiapkan sukmaku menyeberang ke alam baka]

Saksikanlah Nak. Semangat sedemikian itulah yang membaluri segenap kata yang saling berkait dan berkelindan dalam ‘Ongkona Bone’. Seumpama akar Kait-kait mencengkeram bumi, begitulah lagu ini menyulam semangat perlawanan orang Bone terhadap musuh kemanusiaan: kolonialisme.

Lebih menarik lagi, waima belum ada penelitian yang secara serius mengungkap hal ini, namun masyarakat Bone meyakini bahwa lagu ini dinyanyikan oleh para wanita, ya para wanita. Kenapa para wanita? Seperti kata M. Aan Mansyur dalam novelnya, Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi (Gagas Media, Jakarta Selatan: 2015, hal. 3), masa depan terbaik bagi orang Bugis, adalah rahim ibu mereka. Fungsi menjaga asa dan mewariskan sumange’ tea lara’ –keyakinan yang kukuh, diamanahkan kepada kaum wanita.

Maka ketika para lelaki Bone berjibaku menahan gempuran pasukan Belanda di sepanjang pantai timur Bone, dan lebih sengit lagi di Bajoé, para wanita menjaga garis belakang pertahanan sambil mendendangkan lagu ini, bukan sebagai lagu, tetapi sebagai mantra penghalau rasa takut.

Dengan semangat itu pulalah, setiap kali kantuk menghampirimu ketika kau kugendong atau kuayun, aku mengurapi jiwamu dengan mantra yang sama. Agar kau menyadari, lelapmu khusyuk memeluk kenangan dalam dekap rahim ibu. Di pagi berhujan ini, mari Nak, kita rapal-lafalkan bersama mantra suci ini.

O… Maté colli, maté colli’ni warué/ Ritoto baja-baja, alla, ritoto baja-baja/ Nariala kémbongeng//

O… Macilaka, macilakani kémbongeng/ Nappai ribala-bala, alla, nappai ribala-bala/ Namaté puangna//

O… Taroni maté, taroni maté puangna/ Iyapa kupettu rennu, alla, iyapa kupettu rennu/ Kusapupi mésana//

O… Mati pucuk, mati pucuk si pohon waru (orang Bugis menyebutnya kubba)/ Dipangkas dibersihkan, duhai, dipangkas dibersihkan/ Diambil, dijadikan kembongeng (penggulung rambut dari kulit pohon waru)//

O… Celaka, celaka si kembongen/ Barusaja diraut-dibentuk, duhai, barusaja diraut-dibentuk/ (sudah) meninggal tuannya//

O… Biarlah meninggal, biarlah meninggal tuannya/ Barulah aku berputus harapan, duhai, Barulah aku berputus harapan/ Bila (telah) kuelus nisannya//

Nak, jangan mengira bahwa ketika aku mengabarkan padamu tentang cerita masalalu, aku mengajakmu untuk meratapi kenangan, tidak, sama sekali tidak! Sesungguhnya, dengan itu, aku membawamu menjangkau masadepan.

Kau tahu, Nak? Masih melalui novelnya, M. Aan Mansyur juga mengingatkanku, “Jika melihat orang Bugis sering membicarakan masalalu mereka. Sesungguhnya, mereka tidak sedang mengenang. Mereka sedang membayang-bayangkan masadepan mereka.”

Mengapa demikian? Sebab orang Bugis itu manusia yang unik, Nak. Mereka menggunakan kata yang sama untuk menggambarkan masalalu (dimensi waktu) dan di depan (dimensi ruang): ri-olo. Begitupun dengan kata ri-munri yang bermakna di belakang (dimensi ruang) dan masadepan (dimensi waktu) sekaligus.

Maka, ketika kita terpukau mengenangkan masalalu (ri-olo dalam dimensi waktu), maka sesungguhnya kita sedang berikhtiar untuk menjadi yang terdepan (ri-olo dalam dimensi ruang). Begitupun saat kita terpikat mendaras soal ketertinggalan (ri-munri dalam dimensi ruang), sejatinya kita lagi menggagas pasal masadepan (ri-munri dalam dimensi waktu).

Tapi sudahlah Nak, nampaknya ini percakapan yang masih pelik buatmu, mending kita menikmati lagu ini, tentu dengan vokal yang lebih merdu dari suaraku, bisa kau dengar langsung atau unduh di tautan ini: Ongkona Bone. Namun bila kau memiliki selera musik instrumentalia, juga sudah bisa diunduh di tautan yang ini: Ongkona Bone Instrumentalia.

Muhammad Kasman, Pengasuh portal MakassarBuku

(Visited 287 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Kasman McTutu

ASN yang mencintai puisi, hujan dinihari, dan embun pagi. Menerbitkan kumpulan cerpen Mata Itu Aku Kenal (LeutikaPrio, Januari 2012), Kumpulan artikel Reinventing Tjokro (Ellunar Publisher, Oktober 2020), dan kumpulan cerpen Adikku Daeng Serang (Pakalawaki, Maret 2021)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.