Oleh: Yusriani Nuruse
Beberapa hari belakangan ini, aku diuji dengan berbagai cobaan. Mulai dari kecelakaan lalu lintas yang mengharuskanku mengeluarkan dana cukup besar untuk memperbaiki sepeda motor. Baru saja ingin bernapas lega, gawai yang selama ini kugunakan untuk mencari tambahan penghasilan melalui berjualan online tiba-tiba mati total setelah delapan tahun menemaniku. Gawai merek Vivo Y15 itu sudah tak sanggup lagi menampung beban kapasitas memori, juga mungkin beban hidupkuyang sering kusimpan dalam bentuk narasi. Bahkan casing-nya pun kini sudah langka.
Kerusakan gawai itu sama saja seperti kehilangan sebagian aktivitasku. Aku terpaksa merogoh isi tabungan yang sebenarnya kusimpan untuk masa depan pendidikan anakku. Sebab, gawai tersebut sangat membantuku mencari penghasilan tambahan.
Belum habis ujian itu, Allah kembali mengujiku dengan sakitnya sang buah hati. Anak semata wayangku harus dirawat di rumah sakit dan didiagnosis demam tifoid. Empat hari tiga malam ia dirawat, hingga akhirnya diperbolehkan pulang pada malam hari. Beruntung, pihak rumah sakit memintaku menyelesaikan administrasi keesokan harinya.
Pagi-pagi aku pergi ke bank untuk mengambil gaji terusan pensiun. Kebetulan hari itu tanggal 1. Sambil menunggu informasi dari pihak rumah sakit, aku sempat singgah di kantor tempatku mengabdi sebagai tenaga honorer di salah satu instansi pemerintah di Kabupaten Soppeng.
Menjelang sore, telepon dari pihak rumah sakit masuk. Mereka memintaku segera menyelesaikan administrasi rawat inap anakku, dengan mengirimkan rincian selisih biaya dari kelas 2 ke kelas VIP. Selisihnya cukup besar, hampir setara dengan sebulan gaji pensiun yang kuterima. Namun hal itu bukan masalah bagiku, asal anakku sehat kembali.
Beruntung, almarhumah nenekku pernah mewariskan keterampilan menjahit kepadaku. Di sela-sela waktu, aku menerima jasa potong baju, celana, dan permak. Penghasilan dari menjahit sangat membantu untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk uang jajan anakku. Dulu, aku sering menggratiskan jasa menjahit jika ada yang meminta tolong. Bahkan, uang hasil menjahit kerap kugunakan untuk sedekah subuh yang kusimpan di celengan khusus.
Hingga suatu subuh, selepas salat Subuh dan tilawah, dengan rasa malu di hadapan Allah dan hati yang bergemuruh, aku hanya mampu memasukkan uang seribu perak ke celengan sedekah subuh. Namun, siapa sangka, sedekah seribu perak itu justru menjadi pembuka pintu rezeki. Sesampainya di kantor, beberapa teman membawa pakaian untuk dipermak. Alhamdulillah, hasilnya cukup untuk uang jajan anakku hari itu.
Sepulang kerja, adikku yang mengajar di salah satu TK swasta mengirim brosur permohonan bantuan untuk sekolahnya di grup keluarga. Aku segera merespon dan mengambil bagian untuk bersedekah.
Keesokan harinya, tepat di hari Jumat, aku mentransfer sedekah tersebut. Setelah itu, aku menjemput anakku di sekolah. Di perjalanan, ia meminta dibelikan sepatu hitam polos untuk perlombaan gerak jalan keesokan harinya. Aku pun mengiyakan.
Dan benar saja, Allah kembali menunjukkan bukti janji-Nya: barang siapa yang bersedekah di hari Jumat, maka Allah akan melipatgandakan pahala dan rezekinya. Sesampainya di rumah, seorang teman—yang pernah bertemu denganku di acara Ramadhan Yatim Fest—menghubungi untuk menanyakan alamat. Tak lama kemudian, ia datang bersilaturahmi, menanyakan kabar, lalu menyampaikan maksud kedatangannya: mengantarkan sedekah Jumat berkah untuk anakku.
Dengan rasa haru, aku memanggil anakku untuk menerima berkah tersebut. Sungguh, Allah Maha Baik. Sesudah kesulitan, pasti ada kemudahan. Sedekah kami yang tak seberapa dibayar tunai oleh Allah, berlipat ganda, bahkan cukup untuk membeli sepatu baru yang diinginkan anakku.
“Fainna ma’al ‘usri yusra” — sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Watansoppeng, 9 Agustus 2025
