Tetehku yang nomer dua bernama Sariyah,  panggilan kesayangan kami untuknya Ceu Oyoh. Zaman kecil dia sama seperti aku, mendapatkan perlakuan yang diskriminatif dari ummiku, menurutku.

Aku masih mengingatnya dia tidak boleh sekolah, melainkan harus nyabit rumput. Dia sering dimarahi sama ummi entah apa sebabnya. Namun aku ingat waktu itu, tetehku nangis lama banget sambil menghadap ke dinding rumah. Sementara ummiku menggendong adikku Sahrudin dan aku duduk di sampingnya.

Tetehku termasuk malang, setiap punya anak sakit-sakitan dan meninggal. Tiga anaknya yang masih bayi meninggal. Di kampung kami walau beragama Islam, tetapi masih menganut aliran kepercayaan yang kuat. Menurut kepercayaan tetehku harus ngasih anak itu ke orang lain, walau yang mengasuh tetap dia. Adalah Abah Idi (almarhum), dia orang yang kami tuakan selain pinter pencak silat juga pandai ngurut patah tulang.

Dia dipercaya sebagai bapak dari anak-anak tetehku. Tetehku punya anak tujuh, yang hidup empat orang dan yang meninggal tiga orang. Yang tiga orang sudah menikah dan yang bungsu masih kuliah.

Sibungsu Ramdhani kelahiran Bogor 30 Januari 1995. Juga sakit-sakitan, susah hidup.Upaya tentu bukan cuma kepada Pak Mantri berobat, tetapi orang pintar, dukun pun didatangi demi kesembuhannya.

Jampi-jampi, air dari orang pintar yang sudah didoakan, diurut plus herbal-herbal lempuyang dan bawang putihKonon pengusir setan, jin dan genderewo selalu terselip di badan lengkap dengan gunting.

Zaman itu ada Nini Armanah yang stress. Menurut cerita, dia dikawinkan dengan jalan, hidupnya cuma mapay jalan. Dipercaya bisa bikin kalung yang terbuat dari kain hitam,di dalamnya embuh apa. Hampir semua ponakan-ponakanku memakai kalung dari Nini Armanah.

Ponakanku Ramdhani termasuk yang paling parah sakitnya. Badan dia sudah kaku, jari-jari tangan dan kaki sudah mengkeret, menekuk. Bentuk tubuhnya yang kecil plus cuma tulang terbungkus kulit. Tetehku bahkan sudah menyediakan kain kafan untuknya.

Jujur, saat itu aku tidak menyangka dia bisa panjang umur, begitulah umur rahasia-Nya. Dengan telaten Abah Idi, memandikan dan memijit tubuhnya setiap pagi.

Alhamdulillah membuahkan hasil, walau dia tetap berbeda dari anak yang lainnya. Setahuku dia malas mandi, jadi kalau mandi nunggu semaunya saja.

Kalau dijewer kupingnya langsung merah dan sakit.Lulus dari SD Muara Tua, dia melanjutkan ke MTsM Ciasmara. Jarak rumah dengan sekolah lumayan jauh, harus melewati pematang sawah dan dua aliran sungai, yaitu sungai Ciparabakti, harus nyemplung.

Jembatan yang kedua yaitu Cianten, bisa dilalui dengan jembatan reyot, harus merangkak dan di bawahnya ada Leuwi. Sambil sekolah beliau aktif juga di pengajian remaja mesjidj, Reisma. Masih bocah ingusan tetapi paling aktif ikut pengajian, tanpa absen. Sehingga suatu hari diberi penghargaan “Bintang Reisma.”

Setelah pengajian ikut kumpul-kumpul sama orang dewasa, membantu membelikan rokok dan kopi, tetapi dia bukan perokok. Dia juga dengan suka rela rajin mijit teman-temannya.

Mengisi kekosongan waktu dibentuklah group Qasidah dan menguasai beberapa alat musik, mungkin itu berkahnya berkumpul dengan para remaja. Setelah lulus dari MTs dia melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya yaitu MA Darul Ihsan, Karacak sambil mondok.

Awalnya cuma santri biasa tetapi ponakanku yang satu ini punya prinsip manut kepada guru, mencari keberkahan dalam ilmu dan kehidupan.

Apapun perintah gurunya dia lakukan, salah satunya ketika membantu membangun pondok. Setiap hari Minggu belanja sayuran dan ayam untuk restoran milik sang guru. Di saat liburan semester ia bantu-bantu di restoran.

Di saat kelas 3 dia diajarin usaha jual beli kardus, pokoknya ponakanku yang satu ini orangnya rapekan, rajin. Lulus MA, lanjut kuliah di La Raiba sambil menjalankan bisnis jual beli kardus dan barang bekas. Semester pertama lancar, semester kedua cobaaan mulai menghampiri, ada rasa sakit di dada.

Dirujuk ke rumah sakit divonis paru-paru sebelah kiri kempes. Dari 100 orang hanya ada 1 orang yang sembuh tanpa harus di pompa. Bermodalkan keyakinan kepada Sang Pencipta, alhamdulillah sembuh total. Hingga kini keluarga tidak ada yang tahu dia pernah sakit.

Sembuh dari sakit ujian berikut, bapaknya sakit keras. Berawal dari sakit biasa yang menyebar ke seluruh tubuh. Beberapa kali masuk rumah sakit bukannya malah membaik, karena terlalu banyak kontradiktif obat-obatan malah semakin parah. Seminggu setelah di rumah sakit, keadaan bapaknya semakin memprihatinkan, Innaalillaahi wainnailaihi rooji’uun, hanya seutas kesabaran dan ketegaran menerima kenyataan. Semoga amal ibadahnya, diampuni dosa-dosanya, ditempatkan di syurga-Nya, amin.

Pada 28 September 2018 dia lulus dari Laa Raiba dengan IPK 3,51. Tentu aku sebagai bibinya ikut bangga dengan prestasinya. Sambil mengabdi di Pontren ia kuliah S2 Fakultas Tarbiyah jurusan Manajemen Pendidikan. Saat ini semester ke 3 semoga dipermudah sampai lulus ya A.

Saat aku cuti, dia yang mimpin tahlilan ummiku. Alhamdulillah tidak menyangka ponakanku yang satu ini bisa seperti sekarang. Saat pernikahan putriku, termasuk seksi yang super sibuk, mulai dari persiapan, mengatur waktu hingga belanja.

Semangat Aa, pantang menyerah dalam keadaan apapun.

(Visited 110 times, 1 visits today)

By Ghinda Aprilia

Sebaik-baik hidup bisa berguna untuk diri sendiri dan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.