Oleh : Yusriani Nuruse
Pagi itu Pak Aby bersama Tim salah satu organisasi kemanusiaan di kota kami sedang mengantar pasien Duafa yang hendak dibawa ke Rumah sakit. Di tengah jalan ia melihat seorang tuna netra yang ia kenal, namanya Pak Jusman salah satu Duafa yang sering Ia santuni bersama timnya. Pak Aby menghampirinya dan memberi tumpangan kepada Pak Jusman,istri dan anaknya. Pak Jusman bersama keluarga berjalan sejauh 2 kmhanya untuk beli pakan ayam dan lem untuk sandal istrinya yang putus. Diatas mobil Pak Jusman bersama istri tak henti-hentinya berucap syukur setelah diberi sedikit rezeki. Ia dan istrinya kelihatan sangat terharu bahkan sampai meneteskan air mata haru dan bahagia dipertemukan dengan orang-orang baik yang peduli dengan kehidupannya.
Bapak Jusman yang tuna netra tidak pernah putus asa menjalani kehidupannya. Ia sangat giat bekerja dengan bantuan istri yang setia menuntunnya ke sawah. Pak Jusman mampu bekerja sebagai petani penggarap sawah milik keluarganya yang luasnya kira -kira sekitar 5 Are dengan hasil gabah 3 sampai dengan 5 karung sekali panen. Hasil yang didapatkan sebagian dijual untuk belanja kebutuhan sehari – hari dan sebagian lagi untuk dikonsumsi.
Karena hasil dari Sawah tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan istri dan kedua anaknya, pak Jusman harus cari pekerjaan tambahan dan Alhamdulillah dia bisa bekerja sebagai Penggulung tali rapiah di perusahaan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, dengan upah rata – rata Rp 10.000 /hari . Dan juga dengan kepiawaiannya memainkan kecapi, Pak Jusman sering mengisi acara – acara syukuran untuk menghibur para undangan dengan bayaran seikhlasnya. Masya Allah ,Tabarakallah.
Walaupun memiliki keterbatasan karena kedua matanya tidak bisa melihat indahnya dunia ,namun pak Jusman tetap bersemangat untuk menafkahi keluarganya. Segala pekerjaan coba dikerjakan yang penting halal. Mulai bertani, berkebun, jadi karyawan pemintal tali rapiah , semua dia lakoni dengan ikhlas. Ia tak mau berpangku tangan hanya mengharap bantuan dari orang-orang yang baik.
Pak Jusman adalah salah satu potret Duafa yang ditengah keterbatasannya, terus berjuang mencari nafkah untuk keluarganya. Semoga saja kita yang diberi kesempurnaan panca Indra lebih bersyukur atas apa yang Allah beri pada kita. Jangan pernah berpangku tangan. Teruslah bekerja dan mensyukuri hasil dari usaha kita.
Watansoppeng, Oktober 2021
