Oleh : Samrin Samad

Setiap tanggal 22 Desember narasi pemuliaan dan penghormatan kepada IBU selalu memenuhi ruang publik. Hari dimana hampir semua anak merangkai dan mengungkapkan kalimat kasih sayang untuk sang ibu. Seakan semua rangkaian kata terindah hanya menjadi milik sang ibu.

Memang sebagai seorang anak yang berbakti kita diwajibkan untuk mengucapkan kata-kata yang santun nan indah untuknya. Mulai dari kalimat “I love you” sampai kalimat “Ibu adalah segalanya bagiku”.

Tapi pernahkah kita berpikir sejenak saja, apakah kata-kata indah yang kita persembahkan kepada sang ibu itu, seindah apresiasi kita secara nyata sebelum dan sesudah hari ibu? Atau jangan-jangan kalimat yang terucap dari mulut manis kita hanya sebatas ucapan belaka, tanpa aplikasi nyata dalam bersikap sehari-hari dalam menjaga dan merawat ibu.

Sahabat, di hari ibu ini coba luangkan waktu sejenak untuk merenung. Apakah selama ini kita lebih sayang sama ibu atau pasangan kita? Mungkin pertanyaan berikut akan menjadi referensi dalam memahami, sesungguhnya apa yang telah kita lakukan kepada ibu.

  1. Dalam sehari Kita lebih sering ingat ibu atau pasangan?
  2. Lebih sering ajak ibu jalan atau pasangan?
  3. Lebih sering beri hadiah untuk ibu atau pasangan?
  4. Lebih perhatian sama ibu atau sama pasangan?
  5. Lebih sering ucapkan “sudah makan” kepada ibu atau pasangan?
  6. Lebih sering update status tentang ibu atau tentang pasangan?
  7. Lebih sering ucapkan “I miss you, I love you” kepada ibu atau pasangan?
  8. Lebih sering nelepon, sms, BBM, WA, ke ibu atau pasangan?
  9. Lebih sering cium ibu atau pasangan?

Sahabat, pantaskah kita hanya memberi satu hari spesial dalam setahun kepada ibu yang bersusah payah mengandung, melahirkan dan membesarkan kita hingga saat ini? Pantaskah kita membalas semua itu hanya dengan ucapan saja tanpa tindakan yang nyata?

Sahabat, seandainya seisi dunia ini dapat kita berikan untuk mengganti pengorbanan sang ibu kepada kita, saya yakin tidak tergantikan. Saya rasa karena pengorbanan itulah yang menjadi alasan munculnya kalimat “surga berada di telapak kaki ibu”.

Sahabat, mari kita ubah pola pikir dan tindakan kita untuk ibu. Mari bersama-sama membahagiakan ibu, bukan dengan kata tapi dengan tindakan. Jadikan hari ini sebagai moment untuk lebih menghargai, menghormati, menyayangi dan berbakti kepada ibu kita masing-masing. Sehingga tidak ada paradoks terjadi antara indahnya ucapan cinta kita di hari ibu dengan perilaku kita kepada ibu.

(Seandainya ada selain Tuhan yang patut di sembah, maka dialah Ibu yang melahirkan kita)

Selamat hari ibu untuk semua ibu tangguh di seluruh dunia.

(Visited 239 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.