Oleh : Je Osland

Adalah vulgar dan kontroversi beliau dalam memuntahkan kegelisahan menjadi aesthetic tersendiri dalam setiap goresan tintanya.

10 tahun silam pernah bertatap imaji dalam Ilmu Sosial Budaya Dasar sebanyak 2 SKS. Tak banyak yang saya keruk dari persembahan pemikirannya, “melacurkan” potensi diantaranya, menganalogikan kepantasan dengan persetubuhan, kiat melumat seteru tanpa bersentuhan, ataupun filosofi lingkar cincin yang tiada berpangkal dan berujung.

Saya melihatnya sebagai upaya meeufemisme bahasa-bahasa tabu agar mudah disadur dan dicerna oleh ubun-ubun para pemimpi literasi.

Dulu saya menyebutnya kelas inspirasi, ketidakcanggungannya dalam mengapresiasi semburan pemikiran mahasiswanya, menjabarkan pentingnya kedisiplinan sebagai keseimbangan mimpi, ataupun cerita pemimpin culas dan pemimpin cerdas adalah tayang yang selalu saya tunggu dimasa itu.

Dua tahun lalu sekejap bersua dengan beliau, dan saya menjamunya dengan gurami bakar berkawan jeruk panas di kota ini.

Benak saya mengingat letupan motivasinya, raungnya masih mengiang panjang ditelinga ini, didepan kelas lantai dua “Serigala tidak mampu menyembunyikan cakar dan taringnya, sementara manusia mampu menyembunyikan cakar dan taring dibalik dasinya, dibalik jasnya, dibalik kedudukannya, bahkan dibalik kecantikan dan cintanya”. Singkat namun mendefinisikan amukan amarah akan laku jiwa-jiwa penghuni dunia.

Benar saja, hari ini saya melihat lengkung penanya menyeret barisan-barisan kelana kata, panggung besar disediakan untuk menumpahkan segala kegundahan, segala apa yang dirasakan, segala meditasi pena penyair. Tumpahan karya melalang buana tak bisa dihenti, membubung menggunung keangkasa jingga.

Dua pekan silam, Sang Inspirator membukakan gerbang pusaran narasi bagi saya, tempat bersemayam para pencinta pena di rumah jiwa di angkasa, yang diberi nama Bengkel Narasi (BN). Saya melirik, ada ratusan orang dari lintas status, suku, dan agama, yang lihai menggoyangkan pena berhimpun disana.

Semoga ada kalanya meneguk kopi sembari bersenda dengan hayalnya.

Semangat inspirator kehidupan Bapak Ruslan Ismail Mage, bagi pencinta buku karyanya dipanggilnya Bang RIM.

Jangan pernah berhenti menjadi dosen “Universitas Kehidupan”, karena kami selalu merindu suntikan vaksin anti virus keputusasaan.

(Visited 94 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Je Osland

"Maka bermimpilah hingga gugusan antariksa terakhir dari bumi ini, setidaknya separuh dari planet ini akan terkunjungi"

4 thoughts on “Terima kasih Sang Inspirator, atas Panggung Angkasanya”
  1. Luar biasa. Narasi yang tersusun rapi,dgn susunan kalimat yg membakar jiwa sehingga pembaca larut di dalamnya. Bang RIM sekarang sudah punya lagi bibit unggul penulis masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.