Islamiati

Tahun 1998, di usia pernikahan kami yang ke tiga tahun dengan hadirnya dua orang anak yang tinggal di desa, kami menyadari bahwa anak-anakku  pasti akan tumbuh dan berkembang di desa juga. Dengan melihat kondisi sekolah  usia dini tidak dimiliki desaku, maka kami  berinisiatif untuk membangun sebuah wadah usia pra sekolah yang lebih dikenal dengan TK (Taman Kanak-Kanak) untuk menampung mereka membantunya tumbuh dan berkembang lebih baik  selain harus berinteraksi dengan keluarga  di rumah. Ada baiknya kalau mengenalkannya  kehidupan  di luar rumahnya, dengan sekolah formal. Karena kemajuan suatu daerah,  ukurnya bukan saja dari tingginya pendapatan daerah tersebut dan megahnya bangunan-bangunan atau fasiitas yang tersedia, tetapi juga tingkat kemajuan  pendidikan masyarakatnya. Kami ingin menyelaraskan semuanya meski hanya dari satu titik tempat, di desa kami.

Pada tahun 1999, dengan keterbatasan finansial yang kami miliki, kami bertekad  membangun TK  yang awalnya hanya  menggunakan teras rumah kami yang sempit, namun masih mampu menampung kursi panjang kapasitas tiga sampai empat anak kecil sebanyak sepuluh bangku. Masalahnya waktu terus berjalan, kalau bukan sekarang,kapan lagi, kalau bukan kita, siapa lagi. Alhamdulillah, perbuatan kecil telah kami lakukan untuk anak-anak kami, anak-anak di desa tempat tinggal kami dan TK itu masih beridiri sampai saat ini.  Kami merasa bahwa walau mereka  tidak terlahir dari Rahim kita, tapi mereka  adalah anak-anak kita juga.  Anak tetangga rumah adalah anak kita, anak tetangga desa juga adalah anak kita, anak tetangga kabupaten, anak tetangga provinsi,anak tetangga pulau anak kita juga, anak-anak dari berbagai pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Nias sampai Morote, mereka anak-anak yang terlahir dari perut bumi pertiwi, semua  adalah anak-anak kita, anak-anak Indonesia sebagai tunas-tunas harapan yang akan  menjadi pelanjut keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam Bingkai NKRI. Mereka  semua akan berinteraksi , baik skala desa, daerah, nasional, maupun skala global. Di kehidupan sosiallah kita bisa berbagi, saling memberi dan saling menerima, baik berupa  barang terlebih ilmu terhadap anak-anak dan juga terhadap kita para orang tua.  Ingin rasanya mengupayakan agar nilai-nilai Pancasila,  Bhinneka Tunggal Ika dan Ikrar Pemuda harusmelekat  bersemayam dalam jiwa setiap anak-anak bangsa Indinesia agar Indonesia tidak akan  tercerai berai, terlebih pada kondisi  bencana pandemic C19 saat ini.      

Tiga semester atau kurang lebih satu setengah tahun berlalu, di tempat kami, dan hampir semua wilayah di  Indonesia. Sejak Senin, 16 Maret 2020 sekolah-sekolah terlihat sepi, juga pada tingkat TK/pra sekolah, sepi dari dari teriakan anak-anak, sepi dari tangis-tangis mereka, sepi dari manja-manja mereka dengan sikap kekanak-kanakan mereka. Umur mereka seperti umur tunas-tunas kelapa yang masih butuh pembentukan dari pemiliknya. mereka  merupakan amanah yang harus dijaga, diupayakan tumbuh dan berkembang  secara normal agar menjadi generasi tangguh, cerdas dan bermartabat,  sebagaimana harapan  dan tujua berbangsa yang tertuang dalam mukaddimah dan UUD 1945 sebagai  pedoman dalam menata kehidupan  berbangsa dan bernegara, “…mencerdaskan kehidupan berbangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia….” Harapan inilah yang mestinya diwujudkan untuk mencapai tujuan berbangsa dan bernegara dalam bingkai NKRI. 2015 dengan penerapan K13 membuat saya kewalahan, sulit memberi ruang bagi saya untuk berbagi, maka perhatian untuk TK saya serahkan pada yang lain, regenarasi telah kami lakukan, terasa ada kepuasan tersendiri bila membuat yang  lain bisa berbuat minimal sama, juga beberapa guru asal TK kami mengantarkannya  mejadi PNS, Alhamdulllah, syukur yang tak terbatas.

Untuk memajukan pendidikan di tingkat dan di tempat mana pun, semua elemen harus terlibat, ada ibu dan ayah di rumah, ada pemerintah menyediakan regulasinya, ada pendidik yang memberi ilmu, ada murid yang dididik siap menerima ilmu.  Namun untuk merelisasikannya, khususnya untuk anak usia dini/pra sekolah, pelu ada wadah yang tidak harus bersumber  pemerintah melainkan masyarakat juga perlu ikut andil mengambil peran  walau hanya berskala kecil dengan perbuatan yang kecil pula. Pemerntah dan masyarakat bagai satu ikatan mata rantai kendaraan yang ketika satu saja  mata rantai yang rusak, maka akan mempengaruhi rantai-rantai yang lainnya. Ibarat motor, bila satu mata rantai yang rusak, pastilah motor tersebut tidak akan bisa berjalan menuju tempat yang dituju. Untuk mencapai tujuan bersama, perlu bersinergi dengan semua elemen, bekerja sama dengan cermat dan cerdas, penuh keikhlasan, semua mengambil peran secara simbang, karena bila perjalanan tidak berimbang,  maka  tujuan yang ingin dicapai tidak akan maksimal bahkan bisa gagal. Semua biasa dilakukaan dengan penuh tanggung jawab dan penuh keikhlasan bila semua berjalan secara adil. 

(Visited 38 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.