“Tugas kita sebagai manusia hanyalah berikhtiar secara maksimal. Hasil akhirnya mutlak menjadi hak prerogatif Allah.”

Kalimat ini menjadi fondasi dari segala upaya yang tengah kami usahakan dan terus kami upayakan di Fakultas Ekonomi dan Hukum Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara. Hari ini, melalui Musyawarah Besar pertama Program Studi Manajemen, kita sedang menanam benih ikhtiar tersebut.

Dalam sambutan saya menyampaikan.
Program Studi Manajemen bukanlah sekadar tempat belajar berbisnis. Di sini, kita meramu seni mengelola sumber daya manusia, keuangan, waktu, dan informasi secara efektif dan efisien. Kita belajar tentang seni mengambil keputusan, memimpin tim, serta merancang strategi pertumbuhan yang tertuang dalam kurikulum berbasis Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. Saya meyakini, mahasiswa manajemen adalah orang-orang yang sedang ‘terancam sukses’ di masa depan.

Namun, kita tidak boleh menutup mata pada realitas zaman. Di masa depan, kecerdasan buatan (AI) akan mengambil alih tugas-tugas administratif yang repetitif. Banyak yang khawatir peran manajer akan hilang, tetapi saya justru melihat transformasi besar. Lulusan manajemen masa depan akan naik kelas menjadi seorang ‘Meaning Maker’ pengambil keputusan strategis yang memberi ‘nyawa’ dan nilai etika pada data hasil olahan AI. Jika organisasi adalah tubuh, maka manajemen tetaplah menjadi ‘otaknya’.

Karena sejatinya “kesuksesan masa depan milik mereka yang mampu berkolaborasi dengan teknologi untuk mendorong inovasi”.

Melihat tema Mubes hari ini, “Mewujudkan Himpunan Mahasiswa Manajemen yang Demokratis dan Berkepemimpinan”.

Dari tema yang ada saya menggarisbawahi dan menitipkan dua pesan kepada teman-teman mahasiswa.
Pertama, tentang Demokratis. Prinsip ini berakar pada teori kedaulatan rakyat yang dipopulerkan oleh Jean Jacques Rousseau dalam bukunya Du Contrat Social. Kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat, inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya demokrasi modern termasuk konsep “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”. Teman-teman mahasiswa sendiri yang akan menentukan, kemana akan melangkah dan kemana akan membawa arah HMJ Manajemen kedepan. Itulah semangat Demokratis.

Kedua, tentang Pemimpin. Jadilah pemimpin yang meneladani manusia mulia, Baginda Nabi Muhammad SAW. Nama beliau bukan sekadar nama. ketika disebut, lisan kita serentak bersalawat sebagai janji dan harapan akan syafaatnya. Beliau adalah Rahmatan lil ‘Alamin yang akhlaknya adalah Al-Qur’an, tutur katanya adalah hikmah, dan hidupnya adalah teladan.

Bagi siapa pun yang terpilih memimpin himpunan ini kelak, tanamkanlah empat pilar paripurna Rasulullah dalam diri kalian.
Pertama Siddiq (Integritas) Kesesuaian antara kata dan perbuatan. Kedua adalah Amanah (Dapat Dipercaya) menjaga mandat yang diberikan dengan penuh tanggung jawab. Ketiga Tabligh (Komunikasi Transparan) menyampaikan kebenaran dan aspirasi secara terbuka. Keempat adalah Fathanah (Cerdas & Bijaksana) kecakapan dalam mencari solusi di tengah tantangan zaman.

Jika keempat teladan ini menyatu dalam kepemimpinan mahasiswa manajemen, maka kita tidak hanya akan melahirkan organisasi yang kuat, tetapi juga pemimpin masa depan yang berintegritas tinggi.

Selamat ber-Mubes dan semoga semangat kepemimpinan Rasulullah senantiasa menjiwai setiap keputusan yang akan kalian ambil hari ini dan nanti.

#AH

(Visited 57 times, 57 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.