
Selesai menyapu halaman dan memungut sampah, Kiai Maoelani melanjutkan membersihkan ruangan masjid. Saat Kiai Maoelani sedang memeras kain pel, lewat Mat Yuti, seorang pedagang sayur keliling.
Sudah satu bulan Mat Yuti memperhatikan kegiatan Kiai Maoelani yang sudah sepuh itu. Dalam hati Mat Yuti timbul pertanyaan, mengapa Kiai Maoelani yang dikenal alim itu rela memungut sampah? membersihkan toilet masjid? Kemana warga kampung ini?. Untuk menjawab pertanyaan itu, ia kemudian menghampiri Kiai Maoelani.
“Assalamuaalikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Maaf, Kiai. Saya mengganggu.” Mat Yuti mencium tangan kanan Kiai Maoelani. “Boleh saya bertanya, Kiai?”
“Silahkeun!”
“Setiap pagi, saya selalu memperhatikan kegiatan Pak Kiai. Mengapa Pak Kiai membersihkan masjid ini seorang diri? Kemana marbotnya? Kemana warga kampung di sini?” tanya Mat Yuti.
Kiai Maoelani tersenyum. Lalu ia berkata, “Perlu diketahui. Sebenarnya saya tidak membersihkan masjid. Saat ini saya sedang membersihkan hati dan jiwa penduduk kampung ini yang perlahan mulai meninggalkan Tuhan dan Rumah Tuhan.”[]
