IDUL QURBAN VERSUS KORBAN PERASAAN
Bagiku, pada hari ini adalah bagaimana aku belajar ikhlas dalam berkurban di jalan-Nya. Selamat Hari Raya Kurban.
sudirman muhammadiyah

Idul Adha 1442H, hari selasa, 20 Juli 2021M, sangat special bagi umat muslim, Covid 19 telah menjelmah sebagai dajjal yang nyata, karenanya Idul Fitri 1442H, tidak dilaksanakan di lapangan, begitu juga Idul Adha 1442H, atau Idul Qurban, Covid tampil sebagai super hero yang mampu mencuci otak pengambil kebijakan untuk tidak shalat Ied di masjid masjid, karenanya covidlah manivestasi Dajjal Iblis, yang buyutnya mampu menggoda Nabi Adam dan Hawa untuk mengingkari janjinya kepada Sang penciptanya, dan Iblis juga yang menggoda nabi Ibrahim AS,
Betapa berat ujian dan cobaan yang dialami Nabi Ibrahim AS. Beliau terpaksa berselisih paham dengan ayahandanya, dibakar hidup-hidup, berpisah dengan keluarganya, harus menyembelih anak semata wayang, anak yang sangat disayang. Namun dengan asas iman, tulus ikhlas, taat dan patuh akan perintah Allah swt, Nabi Ibrahim AS akhirnya lolos dan lulus dalam melewati berbagai ujian dan cobaan tersebut.
Secara etimologis Qurban diambil dari bahasa Arab, yaitu qaruba, yaqrubu, qurban, qurbanan, artinya dekat. Di samping itu, arti kata qurban berarti juga hewan sembelihan yang semakna dengan udlhiyah atau dlahiyyah.
Dalam beberapa ayat Alquran disebutkan bagaimana usaha nabi Ibrahim AS untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dimulai dari perenungan siapa yang patut disembah, karena pada masa itu orang-orang menyembah berhala, tapi pikirannya tidak bisa menerimanya, karena berhala tidak bisa berbuat apa-apa, keberadaannya pun dibuat manusia.
Lalu terlintas dalam pikirannya apakah tuhan itu bintang, bulan, atau matahari. Ketiga planet ini tidak bisa diterimanya juga, karena ketiganya terkadang ada muncul dan terkadang menghilang. Ia menginginkan Tuhan yang senantiasa hadir, hadir di pikirannya, hadir di hatinya, dan hadir dalam setiap perbuatannya. Tak lain dan tak bukan adalah Allah SWT semata.
Kehadiran dan kedekatan diri kepada Allah SWT. merupakan suatu keniscayaan.
Apalagi sekarang di musim Covid-19 yang cukup berat ini , kita harus selalu optimistik karena Allah terasa dekat dengan kita. Sebagaimana yang dialami oleh baginda Rasulullah SAW beserta sahabat Abu Bakar Shiddiq tatkala dikejar musuh kafir Quraisy, berkaitan dengan turunnya surat at Taubah: 40
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ
“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”.
Nabi Ibrahim AS dapat perintah Allah SWT untuk membawa istrinya Hajar dan anaknya Ismail yang baru dilahirkan ke suatu tempat yang sangat tandus, secara naluri kebapakan tidak sampai hati untuk mencampakan mereka di tempat yang tidak ada tanaman sama sekali, tidak ada hewan yang bisa diperah susunya, dan tidak seorang manusia pun yang bisa dimintakan pertolongannya.
Menghadapi pengorbanan ini nabi Ibrahim AS berdoa dan menyerahkan urusannya kepada Allah SWT, sebagaimana difirmankan dalam al-Baqarah: 126
و إذ قال إبرهــمُ ربّ اجعلْ هذا بَلدا ءامنا وارزقْ أهْلَه من الثمرت
“Dan ingatlah ketika Ibrahim berdoa:Ya Tuhanku jadikanlah negeri ini, negeri yang aman,dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya.”
qurban sebagai realisasi keadilan sosial
Idul Adlha yang juga lazim dinamai Idul Qurban mengandung konotasi pemaknaan dimensi sosial. Pemaknaan ini tergambar dari komponen pembagian hasil penyembelihan hewan kurban kepada fakir miskin. Di sini, ditujukan untuk menimbulkan nuansa egaliter dalam masyarakat. Sayangnya, pesan ini tidak banyak dipikirkan oleh kebanyakan kaum Muslimin. Padahal, seperti halnya daging kurban, kebaikan adalah sesuatu yang dapat ditularkan.
Kebanyakan kaum muslimin hanya terpaku pada pemberdayaan keimanan diri sendiri. Menjadi orang yang paling baik dari pada orang lain, mungkin menjadi prioritasnya. Tetapi lupa, bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat menjadi kata kuncinya.
Di musim Covid-19 ini, banyak saudara kita yang kurang beruntung, kehilangan pekerjaan, kesulitan mencari lapangan pekerjaan, selalu dihantui kecemasan. Maka di hari Idil Adha ini kepedulian kita kepada sesama sebaiknya tidak terbatas hanya pada pembagian daging qurban semata, tetapi lebih dari itu yaitu kita senantiasa ada kepedulian kepada sesama, antara lain mencari jalan keluar agar saudara-saudara yang kurang beruntung mendapat kehidupan yang layak.
SEBUAH PESAN BERANTAI DI MEDSOS YANG SANGAT FILOSOFIS
“Setiap kita adalah Ibrahim. Ibrahim punya Ismail. Ismailmu mungkin hartamu, mungkin jabatanmu, mungkin gelarmu, dan mungkin egomu.
Ismailmu adalah sesuatu yg engkau sayangi dan kau pertahankan di dunia ini. Ibrahim tidak diperintah Allah SWT untuk membunuh Ismail, tapi Ibrahim hanya diminta untuk membunuh rasa kepemilikan terhadap Ismail karena hakekatnya semua adalah milik Allah SWT.
Idul Adha adalah tentang percaya dan ikhlas, dua hal yg sungguh berat di masa pandemi ini. Banyak yg dulu biasa sekarang terasa mewah, banyak yg kita rasa sdh jadi bagian hidup kita namun ternyata harus kita lepas”.
Idul Adha butuh kesabaran, mengorban perasaan atas larangan sholat Ied di Masjid melalui surat edaran, saya luang kan waktu untuk pulkam demi untuk Idul Adha 1442H, di tanah kelahiran Soppeng, subuh2 ku jelajahi kampung2 hanya ada 2 masjid yang berani bersuara takbir lewat toa masjid, yang lain silent. Masjid di Belo Kecamatan Ganra, termasuk berani panitianya
Sholat berjamaah kayak dalam kondisi perang,
Berpositif thinking dan urut dada bersabar perang melawan covid, tapi waktu dhuhur semua masjid berjamaah, terus apakah covid cuma suka saat hari raya,
Wallahu a’lam bish–shawabi
( والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ )
Idul Qurban 1442 H.
Dikampung halaman 19 covid 19.
Cennoe, 20 Juli 2021 M.
Sudirman Muhammadiyah.
