Cuti mungkin salah satu impian kita di rantau, tak terkecuali aku. Tetapi bukan hal yang mudah pulang di saat Covid-19 yang belum juga reda. Andai saja tidak penting, aku akan pending kepulanganku. Tapi ini hari bahagia putriku dan aku harus ada di sampingnya.Persyaratan pulang tanpa dikarantina adalah harus tes swab di Hongkong.Sementara syarat tes swab harus ada tiket di tangan.

“Sir, aku mau tes swab, tetapi dokter meminta mau tes swab jika aku sudah ada tiket” aku merajuk  ke majikanku walau sungkan.

 Di suatu sore aku telepon pihak klinik, dr.Shoong Roong Sheng yang buka praktek di daerah Causeway Bay . “Hallo Dok…aku mau cuti tanggal 21 November jam 19.00. Kapan aku bisa diswab?

“Kamu bisa ke sini besok pagi, jangan telat yaa…, terdengar jawaban seorang perempuan yang ternyata adalah asisten dr.Shoong. Keesokan harinya aku pergi ke klinik bersama anak asuhku, Sailo. Setelah daftar dan membayar $300, aku dipersilahkan ketemu dr Shoong yang ramah dan pandai berbahasa Indonesia.

“Besok Senin tanggal 16, kamu bangun pagi, tanpa makan , tanpa minum, kamu ambil ludah, tidak boleh kena air, lalu kamu masukan ke toples ini. Hati – hati harus rapat, lalu kirim ke klinik terdekat jam 8.30”, dr Shoong memberi arahan dengan sabar.

“Iya, siap pak dokter,  terimakasih” jawabku seraya pamit.

Keesokan harinya aku lakukan mandat dari dokter, hari Jum’at aku wapri dokter, dan hasilnya NEGATIF. Alhamdulillah.Di hari itu juga aku boleh ambil hasil tes swab. Dengan diantar teman yang part time juga Sailo, aku pergi ke MTR Nam Cheong. Disana temanku Nur sudah menunggu.Aku pilih naik Express berharap bisa cek in di sana, namun ternyata di masa Covid- 19 tidak ada cek in selain di Bandara.

Setibanya di Bandara, aku  langsung cek in. Barang – barangku over 15 kg, sehingga aku harus bayar $1400. Aku tertawa karena duit di dompet hanya $300 , itupun untuk ganti Octopus Nur. Akhirnya aku minta Nur yang membawa pulang barang – barangku.Saat cek in diwajibkan download aplikasi Ehac Indonesia, tapi banyak yang tidak bisa download termasuk aku. Bahkan ketika aku minta tolong sama petugas cek in dia tidak bisa juga

“Mbak , daripada susah-susah, mending bantu teman kita.  Cuma beli barang-barang dia koq . Harganya murah cuma $140.” Saran salah satu warga Indonesia yang biasa mangkal di situ (calo mungkin).

Aku tidak mau ambil pusing. Daripada lambat masuk akhirnya dibantu dengan membayar $140,barang yang kita dapat”1 minuman kotak, permen, masker, pelindung muka, anti virus.” Itupun aku pakai hp cadangan. Hp yang aku pakai tetap tidak bisa download aplikasi.Setelah cek in, aku masuk ke Imigrasi, dan  Alhamdulillah lancar.Rezeki nomplok,14 tahun di Hongkong, baru kali ini naik pesawat kelas bisnis.

Jam 10 .30 wib tiba di  Bandara Soetta. Aku dan penumpang lain diarahkan menuju tempat yang sudah tersedia.Kami diberikan selembar kertas untuk isi biodata. “Apa gunanya download aplikasi jika harus menulis biodata secara manual?” aku menggerutu dalam hati. Apesnya lagi, aku mencari pulpen tapi tidak ketemu. Untung penumpang di sampingku seorang wanita cantik bermata sipit memberikan  pulpennya  setelah dia selesai mengisi biodata.Selanjutnya aku cek suhu badan.Langsung ke depan lagi ada ruangan untuk menyetor biodata yang aku tulis.Di situ aku bertanya.

“Maaf pak, kalau tes swab dimana? nanti tanggal 1 aku harus tes lagi.” Tetapi jawabannya tidak ada kepastian.Dari situ aku antri ke bagian Imigrasi, lagi – lagi aku bertanya.

“Dimana aku bisa tes swab?” jawabannya sama tidak memuaskan.Langsung aku menuju pengambilan koper, terus pulang melewati Bea Cukai. Sikon disana persis kayak kuburan. Dari tempat Bea Cukai menuju pintu keluar, aku tak menemukan satu manusia pun. Merinding bulu kudukku, hiiiyyyy….

Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga dengan adik dan keponakanku yang sedang menunggu. Saat pulang antara rasa bahagia dan duka (karena kepergian ummiku 3 hari lalu). Untuk persiapan pernikahan putriku hanya hari Jum’at dan Sabtu, tanggal 29 hari pernikahan putriku, Bismillaah lancar walau banyak schedule yang tidak sesuai.

Tanggal 1 Desember, dengan diantar keponakanku Nurjanah, kami naik motor ke Pasar tempat angkutan pedesaan ngetem. Lalu naik Grab menuju Rumah Sakit Gatot Subroto Jakarta.

Tiba di Rumah Sakit Gatot Subroto, aku langsung daftar dan tes Swab dengan membayar Rp 1.300 000.Ada perbedaan tes swab, di sana tidak peduli habis makan atau minum langsung tes swab.Ambil ludah cuma pakai cotton bath, juga di hidung.

Hasil tes swab bisa diambil hari berikutnya, tetapi aku merasa lelah,makanya aku bilang mau diambil hari Kamis, sekalian terbang.

Pertemuan yang tidak direncanakan aku bertemu dengan Trio kwek-kwek,(haha itu julukanku untuk orang – orang hebat)walau cuma dua personil.Setelah meeting hampir 1 jam lebih dengan jamuan Soto Jakarta dengan grab yang sama aku diantar sampai kerumah.Lumayan merogoh kocek (untuk orang sepertiku, termasuk besar) Rp1000 000 pp.

Hari yang dinanti tiba. Tanggal 3 Desember, aku menuju Rumah Sakit Gatot Subroto diantar putriku, adik dan ponakan.

“Permisi, aku mau ambil hasil tes swab, sapaku sama bagian resepsionis.”Silahkan bu masuk , belok kanan.” Aku dan ponakanku Nurjanah masuk, lalu aku sodorkan kertas pengambilan hasil tes.Tidak lama kemudian dari dalam seorang perempuan menyodorkan kertas hasil tes. Negatif.

“Permisi bu, mana surat keterangan dokter yang berbahasa Inggris?” Dia menyuruhku ke bagian kasir.

“Silahkan ibu tanya bagian resepsionis”. Dari tempat kasir aku dan ponakanku ke  resepsionis.

“Silahkan ibu masuk ke kamar no 5, dari sini masuk, belok kiri.” Lama aku menunggu di dalam tidak ada orang. Aku ketuk pintu tidak ada yang menjawab.

“Permisi bu,apa tidak ada petugas di kamar no 5?” Aku  bertanya kepada petugas yang kebetulan lewat.

“Oh kamar no.5 sudah tutup bu tadi jam 14.00.”  Sedangkan sekarang pukul 14.30.Aku merasa dipermainkan. Lalu ponakanku pergi lagi entah kebagian mana, aku dah gak bisa fokus.Dadaku sudah bergemuruh.Nampak sekali aku dipermainkan, kenapa aku di suruh ke sana kemari, tanpa ada kepastian?.Keponakanku ngotot minta surat itu. Aku lupa apa yang dia katakan dapat darimana, aku gak peduli.Lalu kami berangkat ke Bandara pas Maghrib. Setelah shalat Maghrib kami menuju ke tempat cek in.

“Permisi mbak, boleh aku cek in sekarang?” tanyaku bersemangat.

Maaf bu, cek in buka jam 9, silahkan ibu ke tempat validasi dulu.” Lalu kami pun menuju tempat validasi.

“Permisi pak,apa bisa validasi sekarang?” tanyaku sama laki – laki yang bertugas di counter validasi.

“Maaf bu, validasi buka jam 21.00.” Jawabnya acuh.

“Din, kita ke ATM saja dulu, nunggu 2 jam untuk validasi dan cek in.” Aku mengajak adikku ke ATM , sedangkan putri dan keponakanku menunggu koperku.

“Gue mau ganti nomer pin, luh yang mencet-mencet deh mata gue gak bisa liat kalau kagak pake kacamata.” Ujarku sama adikku dengan logat betawi.Lalu aku menyodorkan ATMku, ternyata nggak bisa.Di coba yang 1 ATM lagi juga tetap nggak bisa.

“Coba ATM yang ini transfer ke no ATM BT HOTIP.” Alhamdulillah bisa. Lalu kami pergi ke tempat ATM lain tetap gak bisa, malah di sarankan ke call center 14000.

Lalu kami mendatangi petugas Bank yang ada di sekitar situ, jawabnya sama harus telepon call center.

“Apes banget nasib gue Din, uang yang ada dah gue transfer ke ATM itu.” Gerutuku dalam kepanikanku.

“Luh ada duit cash di ATM?” tanyaku pada adikku.

“Gue gak punya duit” jawab adikku singkat.

“Mbak, bisa transfer uang ke no rekening mamah yang ini?” Aku telepon putriku yang saat itu sedang tahlilan ummiku di malam Jum’at.

“Ok mah, Lha ke tempat pengiriman duit sekarang karena gak ada duit di rekening”, jawab putriku cukup menghiburku.Setelah uang didapat , tinggal aku menuju tempat validasi.

Nampak di depanku ada seorang laki-laki yang aku lirik Pasportnya berwarga negara Philipina.

“Aku tidak tahu apa yang dia kerjakan, banyak yang antri hanya diam, ini sudah jam berapa?” Dia komplain sama petugas yang nunggu kami antri dalam bahasa Inggris.

Si bapak yang menunggu antrian tidak ada respon, mungkin tidak mengerti dengan bahasa yang disampaikan.Lalu aku berusaha membantu warga asing tersebut.

“Tuan,,,itu counter hanya khusus untuk memeriksa yang domestik, sementara yang untuk Luar Negri itu counter sebelah.” Dia manggut-manggut masih dengan muka kesal.

“Apa susahnya cuma periksa?” semakin menunjukkan kekesalannya karena nunggu lama.

“Tuan, ini Indonesia, tidak bisa disamakan dengan Hongkong yang serba sistematis dan otomatis.” Dia hanya menggeleng – gelengkan kepalanya.

Kini saatnya aku menuju ke tempat cek in,,, lumayan banyak  PMI yang baru berangkat dari PT, juga warga asing.Kami disuruh download aplikasi dari departemen kesehatan Hongkong.Didepanku ada pasutri China dan Bule, lama dia cek in nggak bisa – bisa masuk, 3 jam lebih dia dah nampak kelelahan.Ada juga warga orang bermata sipit, mungkin orang Hongkong karena berbahasa Inggris juga 3 jam lebih gak bisa cek in.Selain itu juga ada pasutri Jawa Bule dengan 2 anaknya dua jam antri, baru bisa masuk.”Kalau mereka bermasalah kenapa tidak menangani yang lain dulu?” umpatan dalam hatiku.

Kini giliranku antri.

“Mbak, ini kontrak kerja dengan yang di Paspor beda .” Aku cek, deggg.Aku salah bawa.Minta foto kontrak kerja yang sesuai dengan yang di Paspor.” Kata petugas cek in.

“Hello sir, bisa kamu foto kontrak kerja yang baru, aku salah bawa?” dengan gugup aku telepon sir jam 23.00.

Tidak lama aku kasih ke kasir.

“Mbak, minta berupa PDF, bukan foto kayak gini.” sahut yang melayani aku cek in dengan nada kurang bersahabat.

“Sir, apa bisa di kirim berupa PDF?” aku telepon sir dengan rasa bersalah.Langsung aku perlihatkan sama petugas cek in.

“Mbak, tolong di Print.”dengan muka panik karena sebentar lagi lending.

“Dimana malam – malam begini bisa print?” Tanyaku lagi.

“Aku nggak tahu mbak.” dengan nada ketusnya, muka ditekuk.Beberapa kali aku tanya jawabnya tidak tahu.

“Mbak, dulu aku pernah ke China sendiri, bosku salah membawa Passport, tetapi itu nggak masalah karena cukup dengan ID Hongkong biodataku sudah lengkap di situ.” Aku mencoba bicara fakta yang pernah aku alami.

“Tidak bisa mbak,ini peraturan” rasain luh peraturan dibikin sendiri, kalau dipermasalahkan tidak mungkin aku bisa keluar Hongkong, dalam batinku nyerocos.

Aku berdiri, tiba-tiba yang mondar-mandir petugas seusiaku menghardikku.

“Jangan di jalan bu!” kaget juga dibentak orang macam ini, seharusnya aku yang berbuat seperti itu.

“Harus gue tendang kali nih.” Gerutu adikku sambil melirik ke arah kereta dorong koperku.

Aku coba tanya ibu yang judes itu.

“Coba tanya bagian cek in” masih dengan wajah paniknya, karena banyak penumpang yang belum berhasil masuk.

“Mbak, minta alamat emailnya.” Baru dia kasih .

“Astaghfirullah kenapa tidak dari tadi dikasih, beberapa kali nanya kamu gak ngasih, jahat amat sih kamu.” Jeritku dalam hati.

Setelah di print, baru di proses , aku masuk imigrasi, penerbangan delay, di belakangku masih banyak yang belum masuk.Kurang lebih 5 jam di atas Awan tiba aku di Negri Beton.Langsung kami diarahkan untuk download”stay home safety.”Semua teratur, tidak ada bentakan, atau raut kepanikan, padahal banyak PMI yang baru pertama kali ke Hongkong, bahasapun belum ngerti semua.Tapi petugas cukup dengan bahasa isyarat dan instruksi berupa tulisan yang sudah mereka persiapkan.

Kami antri untuk mendapatkan Gelang, biodata dicek, lalu tes swab.Setelah tes swab aku disuruh menunggu di ruang tunggu, di sana sudah disediakan  Roti Sandwich, Biscuit dan air mineral gratis.Setelah 14 jam menunggu, hasilnya negatif, aku diarahkan menuju imigrasi.

“Permisi, sorry sir aku lupa membawa yang asli, ini foto copy kontrak kerja.” aku pasang kuda-kuda duluan.Police petugas imigrasi tidak menyentuh kontrak kerja yang dibela mati-matian di Bandara Soeta.

Aku lolos tanpa ada satupun pertanyaan, langsung aku ambil koperku dan mencari bus menuju Yaumatei.Jam 21.00 tiba di hotel M1, aku di sana selama 14 hari.Tanggal 15 Desember tes swab lagi,  Alhamdulillah negatif, tanggal 17 aku freedom bisa masuk rumah majikan.

Alhamdulillah…..

(Visited 27 times, 1 visits today)
Ghinda Aprilia

By Ghinda Aprilia

Sebaik-baik hidup bisa berguna untuk diri sendiri dan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *