Oleh : Hamriani
Kini usiamu sudah 12 tahun anakku. Rasanya baru kemarin aku melahirkanmu di dunia ini. Masa balitamu engkau tumbuh menjadi anak yang memiliki keterbatasan fisik dan mental. Anak seusiamu harusnya bermain seraya belajar, namun tidak demikian dengan dirimu anakku. Ketika teman-temanmu bermain bola engkau hanya duduk sambil bertepuk tangan dan tertawa melihatnya. Ketika bola melambung ke arahmu engkau hanya mampu menyeret bokongmu untuk mengambil bola itu dan melemparnya kembali, sambil bersorak kegirangan “horee aku menang”.
Melihat pemandangan itu hatiku perih, hingga tak terasa air mataku menetes sambil membatin, “Apakah ini karma untuk kami orang tuamu yang telah mengorbankan masa kecilmu demi egoisme? Sejak engkau lahir hingga kini, hanya kesendirian yang membuatmu nyaman berdiam di rumah bagai burung dalam sangkarnya. Masa kecilmu telah hilang di renggut oleh penyakit yang menggerogoti tubuhmu. Kaki lumpuh dan daya ingatmu lemah. Namu ibu tidak pernah melihatmu rewel, mengeluh menjalani hidupmu. Engkau hanya terdiam dan sabar.
Hari itu, ketika engkau melihat temanmu memakai toga aku melihat air matamu menetes dalam diammu. Kudekap tubuh kecilmu, kubelai dan kuusap pipimu sambil membisikmu, “Apakah engkau ingin memakai toga itu anakku? Mendengar pertanyaanku tampak raut wajahmu berseri dan berkata, “Iya ibu” jawabanmu membuat aku tak sanggup menahan perih di dada. Aku memelukmu dan berbisik, “Ibu berjanji nak tahun depan akan memakaikanmu toga”.
Hari berganti minggu, berganti bulan, dan waktu itu pun telah tiba wahai anakku. Betapa gagahnya dirimu dengan memakai toga, impian semua anak yang usia enam tahun meski usiamu sudah 8 tahun (belum tahu calistung), namun ibu yakin kelak engkau akan tahu semuanya. Saat namamu di sebut ibu memapahmu ke depan. Diantara teman-temanmu yang berbaris, tampak dirimu berada di tengah memakai kursi.
Ketika ibu sendiri menyerahkan piagam kelulusanmu, ibu memelukmu sambil berkata, “maafkan ibu nak, hanya toga kecil ini yang ibu berikan sebagai kado ulang tahunmu”. Betapa hatiku bahagia bercampur haru ketika engkau berkata, “Terima kasih ibu, aku sayang ibu”.
Apa yang telah terjadi di potret masa kecilmu bagai tamparan keras buat diriku. Begitu berat dan sulitnya kehidupan yang kujalani saat itu, di mana aku harus membagi antara kesibukanku,memberimu perhatian khusus dan menjadi orang tua tunggal. Namun semua aku jalani dengan sabar dan ikhlas, karna aku yakin ada hikmah yang indah di balik semua ini. Rasa pahit yang aku rasa kelak akan menjadi manis bagai madu

Terharu banget… 😥😥😥