Oleh : Yusriani Nuruse

Setelah seminggu Ayu resmi menikah dengan Yudhi, Ia kemudian ikut ke tempat tugas suaminya. Pesawat Merpati si burung besi raksasa membawanya terbang tinggi ke angkasa selama kurang lebih 1 jam. Hingga menukik turun perlahan mendarat di Bandara Syukuran Aminuddin Amir. Bandara yang terletak dipinggir laut terasa indah dipandang mata. Dan itu adalah kali pertama Ayu menginjakkan kaki di daerah itu.

Ayu mengikuti suaminya turun dari pesawat dan kemudian menyewa mobil ke kontrakan suaminya yang belum ia tahu alamatnya. Ayu hanya ikut saja.

Saat mobil yang ditumpanginya keluar dari parkiran bandara, tiba-tiba ponsel suaminya berdering. Sebuah sms masuk. Ayu sempat melirik ke ponsel suaminya.Ternyata sms itu dari putrinya, yang menanyakan kalau ia hendak menjemput papanya bersama Ibunya.

Ayu sempat terperanjat dan merasa lidahnya kaku dan bergumam dalam hati ada apa semua ini. Tapi Ayu berhasil mengimbangi perasaannya. Ia tak mau bertindak bodoh.

Beruntung suaminya membalas sms putrinya bahwa ia sudah dijalan nggak usah dijemput , papa sedang bersama teman.

Putrinya membalas sms papanya menanyakan “, teman papa laki-laki atau perempuan”?

Sekilas ayu melirik suaminya dan minta ponselnya dinonaktifkan saja. Ayu tak habis pikir kenapa mantan istrinya mau menjemputnya.

Hingga mobil yang Ayu tumpangi bersama suami berhenti di sebuah rumah kost-kosan. Suami Ayu hanya tinggal di rumah kost yang juga dihuni oleh beberapa Mahasiswa setelah setahun yang lalu berpisah dengan Istri pertamanya.

Sebuah kamar yang mungkin berukuran 3X3 Meter.

Hingga hari menjelang sore, saat Ayu sedang bersih – bersih kamar , ayu mendengar ribut-ribut di luar. Tiba – tiba seorang anak kecil kira-kira berumur 10 tahun, masuk ke dalam kamar kos dan menyalami Ayu. Ia memperkenalkan diri kalau ia putri Yudhi yang sulung. Ia anak yang sopan dan mengatakan pada Ayu kalau Ia senang sudah ada yang temani papanya. Berbeda dengan Ibunya yang marah-marah pada papanya dan meminta semua barang-barang yang ia anggap miliknya seperti  motor, rice cooker, tempat tidur dan juga peralatan dapur lainnya. 

Setelah anak dan mantan istri Yudhi berlalu. Suami Ayu masuk kedalam kamar kos dan menceritakan perihal pertengkaran mereka. Ayu mendengar dengan seksama dan menguatkan hati suaminya yang sempat merasa kecewa atas permintaan mantan istrinya.

Hari berlalu,  sebagai pengantin baru,  Ayu melakukan segala aktifitas sebagai istri, menyiapkan segala keperluan suaminya .

Namun sesuatu hal mulai terasa aneh. Yudhi sering gelisah dan melamun. Sebagai Istri Ayu hanya bisa memohon perlindungan Allah SWt.Jauh dari keluarga adalah hal yang paling berat dirasa Ayu saat –saat seperti ini. Ayu rutin tadarus Al Quran setiap selesai sholat 5 waktu untuk mengisi jiwanya dan meminta perlindungan Allah. Suaminya bahkan memintanya untuk diajari mengaji karena Yudhi seorang Muallaf.

Hingga suatu hari saat Yudhi baru pulang dari kantor ,ia langsung tiduran dan meminta Ayu jangan meninggalkannya. Yudhi tampak ketakutan bahkan ditinggal sedetikpun  ia tidak mau. Ia terus memegang tangan Ayu.

Hari berganti malam ,saat Ayu baru saja selesai menunaikan sholat Magrib. Tiba-tiba Yudhi berteriak minta tolong pada Ayu, mendekap bantal berlari di sudut ruangan. Ia mengatakan bahwa melihat sesuatu di dalam kamar kos. Allahu Allam. Ayu hanya bisa bertawakal, entah harus bagaimana ditempat yang asing ini. Hingga keesokan harinya Yudhi berlaku aneh lagi. Menguncikan kamar Ayu dari luar dan pergi entah kemana. Bahkan saat melihat Ayu , ia kadang berjalan mundur dan menghindari Ayu. Entahlah…

Tapi disisi lain ia meminta Ayu tidak meninggalkannya. Ia seakan bergelut dengan perasaan dana alam bawah sadarnya.  Ayu hanya bisa menangis sedih saat itu melihat berbagai tingkah laku suaminya yang mulai aneh. Bahkan sering berhalusinasi. Beruntung tetangga di sekitar kos Ayu sangat baik, seperti keluarga sendiri. Memberi semangat pada Ayu dan berbagai hal untuk selalu meminta perlindungan Allah SWT.

Sungguh Ujian ini berat yang Ayu rasakan, namun ia sudah berjanji untuk tetap menemani suaminya. Mengarungi Bahtera rumah tangga kendati ombak tinggi mulai menerjang.

Luwuk Banggai , September 2009

(Visited 51 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *