Human library

Proyek The Human Library adalah suatu gerakan (movement) dan organisasi kemanusiaan internasional yang pertama kali digagas oleh Ronni Abergel di Copenhagen, Denmark pada tahun 2000. Proyek ini dimaksudkan untuk menghilangkan segala macam prasangka buruk (prejudice) terhadap orang orang yang beda agama, ras, pendapat, pemikiran, life style dan lain lainnya. Hal ini juga terkait dengan pendapat tentang “don’t judge a book by its cover” — jangan menilai sebuah buku dari sampulnya–  yang kalau diasosiasikan kepada manusia maksudnya, adalah kita tidak boleh menilai seorang manusia dari penampilan luarnya, agamanya, sukunya, rasnya, pola pikirnya dan lain lain.

Lalu bagaimana pelaksanaan proyek ini? Gerakan ini menggunakan analogi perpustakaan dimana yang dipinjamkan bukanlah buku, melainkan orang yang dianggap sebagai ‘buku’. Dengan kata lain, manusia yang dipinjamkan, bukan buku. Orang orang yang dianggap berbeda, lain dari yang lain, dan unik diedukasi untuk menjadi ‘sebuah buku’. Manusia yang dijadikan buku di perpustakaan ini dapat di ‘pinjam’ oleh para pemustaka/pengunjung perpustakaan, atau peneliti untuk diajak berbincang bincang tentang siapa, apa dan bagaimana dirinya. Pemustaka dapat menanyakan tentang apa saja kepada orang yang diwawancarai. Jangka waktu peminjamannya juga ditentukan, sekitar satu atau dua jam, dan bisa diperpanjang dilain waktu. Kedua belah pihak, yaitu pemustaka dan ‘manusia buku’ tersebut masing masing punya hak untuk menghentikan wawancara atau bincang bincang, kapan saja jika dirasa sudah cukup atau ada sebab lain.

Siapa saja yang dijadikan buku? Informasi dari majalah Readers Digest edisi Australia yang pernah kubaca, ada orang Muslim, penganut Buddha, Vegetarian, korban kekerasan rumah tangga (KDRT), pecandu alcohol, pengidap HIV, orang buta-tuli (deafblindness), mantan tentara dari Afganistan, pengidap Bipolar, Body modification extreme, muallaf, pengangguran, ibu muda, korban pelecehan seksual, pengidap ADHD, Autisme, dan lain lain yang dianggap ‘lain dari yang lain’ di negeri tersebut (di Denmark).

Orang orang ini dengan sukarela menjadi ‘buku’ sumber informasi di perpustakaan. Mereka bisa dipinjam selama waktu tertentu, biasanya 2 jam, oleh pemustaka untuk diwawancarai. Mereka adalah sukarelawan (volunteers) dan tanpa bayaran. Organisasi ini menganggap, jika mereka dibayar, bisa saja kualitas informasi yang diberikan tidak sesuai yang diharapkan. Bahkan mungkin akan banyak yang mengajukan diri menjadi ‘buku’ karena ada bayaran tertentu. Organisasi ini aktif mencari orang orang yang bersedia dan sukarela dijadikan sumber informasi, dan pihak perpustakaanlah yang mengatur jadwal pertemuan antara pemustaka dan ‘buku’ yang ingin dipinjamnya.    

Proyek yang awalnya dilaksanakan di salah satu perpustakaan di Copenhagen, Denmark ini, kini sudah dilaksanakan di 85 negara. Bagaimana dengan Indonesia? Apakah organisasi ini sudah ada? Beberapa waktu lalu, saya tanyakan ke Perpustakaan Nasional lewat chanel Ask The Librarian, dan jawabannya ternyata belum ada di Perpustakaan Nasional RI. Fitur Ask The Librarian ini dapat digunakan oleh siapa saja yang ingin bertanya kepada pustakawan tentang dunia kepustakawanan. Ada sejumlah Pustakawan professional dari Perpustakaan Nasional RI yang siap sedia setiap saat menjawab pertanyaan kita. Bagi yang tertarik silakan masuk ke link www.perpusnas.go.id pada bagian bawah ada aplikasi iPusnas, Indonesia One Search, Ask The Librarian, dan lain lain.

Jika ingin mengenal lebih jauh tentang organisasi atau gerakan the human library ini silakan baca di www.humanlibrary.org.  

signature
(Visited 24 times, 1 visits today)
One thought on “The Human Library”
  1. Menarik sekali Pak tulisannya.Jadi dapat ilmu tambahan lagi. Baru tahu kalau ada juga perpustakaan seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *