Oleh : Imam Abdullah El-Rashied

Malam Purnama, bulan nampak tersipu malu tersenyum menatap semesta. Ada awan-awan nakal yang berupaya menahan senyumnya. Untungnya, gerombolan awan tipis itu tak bertahan lama mengusik keanggunan Sang Ratu Malam yang sedang bertahta. Mereka pergi, menyisakanku sendiri menatap utuh wajah rembulan yang begitu berseri, menjatuhkan benang-benang cahanyanya menghinggapi segenap gelap di bumi.

Saat ini Aku sedang berada di ketinggian 1000 MDPL, dekat pos pendakian pertama Gunung Ciremai, Cigugur, Kuningan – Jawa Barat. Aku sedang berlibur di rumah pamanku, untuk sejenak menghilangkan penat UN serta tugas-tugas akhir yang dibebankan oleh Sekolah & Pondok kepada para santri.

Malam ini Aku hanya sendiri, duduk termangu dekat cendela di lantai dua rumah paman yang menghadap ke hamparan luas kota-kota yang menghimpit Gunung Ciremai. Yah, dalam ketenangan menatap wajah bundar Sang Ratu Malam, kabar menggembirakan itu tiba-tiba merangsek masuk ke dalam Inbox Message di hp-ku, setelah beberapa detik sebelumnya terbang mengangkasa melalui menara BTS, ditembakkan ke Satelit dan ditembakkan lagi ke BTS yang ada di Cigugur – Kuningan, hingga akhirnya bersarang di ponselku melalui kinerja jaringan rumit yang kasat mata dan membingungkan.

“Dik, selamat kamu LULUS,” pesan sepanjang 23 karakter itu sudah cukup untuk meledakkan dinamit-dinamit kebahagiaan dalam hatiku. Hanya 5 detik berselang dari masuknya pesan itu, hidung dan dahiku sudah sempurna menyentuh lantai keramik rumah. “Ya Rabb, segala pujian hanyalah milik-Mu.” Yah, apa lagi yang mesti dilakukan oleh seorang yang beriman ketika mendapatkan nikmat selain bersyukur kepada Tuhan-nya. Dan, dengan bersujud syukur ini sebagai awal mula bentuk kesyukuranku, kuharap Allah akan menambahkan nikmat-Nya pada hamba-Nya yang penuh dengan segala bentuk kekurangan dalam menghambakan diri kepada-Nya. Bukankah adalah janji-Nya akan menambah anugerah bagi mereka yang bersyukur?

***

1

Lulus Madrasah Aliyah bukanlah akhir dari trip pengelanaanku, tapi ini adalah titik awal untuk menjelajahi dunia yang baru. Yah, Aku adalah seorang penjelajah. Ayahku dahulunya adalah pelaut ulung, hingga akhirnya membanting haluan membuka rumah makan yang ala kadarnya setelah kapalnya karam dan tak tersisa dari harta simpanannya selain sepetak sawah warisan dan semangat untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Bukan hanya ayah, tapi kakekku juga seorang pelaut, ayah hanya melanjutkan bakat yang ia dapat secara turun-temurun.

Ustadz Salim pernah bertutur kepada kami: Anak-anakku, fitrahnya seorang manusia adalah berkelana. Nabi Adam as, sebagai Bapak Umat Manusia juga seorang pengelana. Sebelum diturunkan ke Bumi, setelah sempat menikmati surga selama 40 tahun, Nabi Adam dibawa para malaikat untuk mengelilingi jagat raya selama 100 tahun, tak lama setelah selesai proses penciptaannya. Pun, setelah Nabi Adam diturunkan ke Bumi, hal pertama yang beliau lakukan setelah bertaubat adalah berkelana dari puncak tertinggi di India menuju Jeddah untuk menemui Sang Kekasih, Ibu Hawa. Setelah menempuh daratan sejauh 4000-an kilometer, akhirnya mereka Allah pertemukan di Jabal Rahmah, di area Padang Arafah, Mekkah Al-Mukkarromah. Yah, fitrahnya manusia adalah berkelana Nak!

Akupun masih ingat pesan Rasulullah Saw kepada Ibnu Umar dalam riwayat Imam Bukhari (no. 6053): “Jadilah kamu di dunia seperti perantau atau seorang musafir.”

Yah, sebagai seorang yang lahir dengan darah petualang, Aku sangat berhasrat untuk mengelilingi kota-kota besar yang pernah menjadi pusat peradaban dunia Islam. Iraq dengan Baghdadnya, Siria dengan Damaskusnya, Palestina dengan Al-Qudsnya, Mesir dengan Kaironya, Andalusia dengan Cordoba & Granadanya, Turki dengan Istanbulnya, serta kota-kota lainnya yang pada abad-abad sebelumnya pernah menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban dunia Islam, tak terkecuali Makkah & Madinah yang menjadi saksi turunnya Al-Qur’an sebagai kitab panduan manusia di akhir zaman.

Lulus Aliyah bukanlah akhir dari segala perjuangan belajarku selama ini. Akan

2

tetapi adalah awal untuk menggapai cita-cita yang sudah kutulis secara rapi di lemari bajuku. Namun Aku masih bingung dengan langkahku setelah kelukusan. “Kemanakah kaki ini kuajak berpetualang?” pertanyaan itu terus terngiang-ngiang sejak Aku duduk di bangku kelas 3 Aliyah.

Pada dinding kamarku terdapat peta dunia berukuran 1 x 2 m. Peta itupun sudah penuh dengan berbagai coretan dan garis panjang seperti rute penerbangan. Salah satu tempat yang ingin Aku kunjungi adalah Taj Mahal, di Agra – India. Yah, Kota Agra kulingkari dengan spidol merah. Aku ingin melihat saksi-saksi bisu yang secara diam menceritakan betapa Shah Jahan sangatlah berjaya menguasai Tanah Hindustan, sebagai Sultan Kelima Dinasti Mughal Islam yang disegani. Yah, Aku ingin melihat jejak-jejak cinta Shah Jahan dengan Permaisuri Arjumand yang telah mengilhaminya untuk membangun monumen cinta abadi yang dikenal dengan nama “Taj Mahal”. Setidaknya Shah Jahan butuh 22 tahun (1631-1653) untuk membangun Istana Kuburan Sang Permaisuri setinggi 55 m itu.

Yah, pertanyaan demi pertanyaan menggaung di sudut terdalam hatiku. “Kemanakah kaki ini akan kulangkahkan?” “Apa saja yang harus dipersiapkan?” “Jika kuliah, universitas mana dan jurusan apa yang harus Aku pilih?Pertanyaan demi pertanyaan terus terngiang di telingaku. Tapi Aku tak pernah bingung. Kata Ustadz Salim: “Dalam Hadits Jabir yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no. 1096). Bahwasannya Nabi Saw mengajari para Sahabat Istikharah dalam segala urusan sebagaimana mengajari sebuah Surah dalam Al-Qur’an. Yah, kita harus senantiasa beristikharah dan tak lupa bermusyawarah. Karena, seseorang yang melakukan dua hal ini tak kan pernah merasa gagal atau frustasi meski pada kenyataan tak seperti yang diinginkan. Setidaknya setiap langkahnya diiringi oleh keridhoan orang tua, guru dan dalam bimbingan Allah SWT.”

Setelah melakukan lobi langit

3

dan lobi bumi, akhirnya pilihanku sudah matang. Yah, info beasiswa S1 Univ. Al-Azhar sudah mengendap di hp-ku sejak sebulan sebelum UN dilangsungkan. Sebenarnya sudah ada beberapa info beasiswa di selain Mesir yang juga mengendap di catatan penting di hp seperti Turki, Maroko, Tunisia dan Sudan. Setelah melakukan lobi langit dan bumi, akhirnya pilihanku mantap untuk melanjutkan studi di Negeri Kinanah. Negeri di mana Nabi Idris a.s. melanjutkan dakwah dan menyampaikan risalah langit setelah sebelumnya berdakwah di Negeri Sungai Eufrat & Tigris, Iraq. Negeri yang pernah dikunjungi Nabi Ibrahim a.s. saat Tanah Kan’an mengalami paceklik. Negeri di mana Nabi Yusuf a.s. pernah memegang pembendaharaan hasil panen buminya. Negeri di mana Nabi Musa a.s. membuat para penyihir Fir’aun tersungkur bersujud dan mengakui ke-esaan Allah swt.

Mesir sangat menarik perhatianku selama ini. Negeri yang ditaklukkan oleh Panglima ‘Amr Bin Al-‘Ash pada tahun 21 H (642 M) ini menyimpan banyak sejarah dan kebudayaan lama. Bukan hanya kedalaman sejarah dan budaya, lebih jauh dari itu di negeri Piramida ini Imam Syafi’i merekontruksi ulang sekitar 103 pandangan fiqihnya yang lebih dikenal dengan Madzhab Jadid sebagaimana terdata dalam Minhajnya Imam Nawawi, sedangkan pandangan lamanya disebut Madzhab Qodim dan tak boleh diamalkan kecuali 18 masalah saja. Madzhab Syafi’i tersebar di Mesir, Palestina, Siria, Somalia dan Asia Tenggara.

Yah, banyak yang menyarankanku untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir. Persiapan untuk mengikuti seleksi ujian penerimaan pun sudah kupersiapkan selama sebulan penuh. Pada tahun 2018 setidaknya ada 7527 peserta yang bersaing ketat mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru yang memilih melanjutkan belajar ke Mesir dan terbagi di beberapa Universitas Islam Negeri dan Pondok Pesantren di Indonesia. Dari tujuh ribuan peserta yang mengikuti seleksi, hanya 2200 saja yang diterima. Dan, dari dua ribuan yang lulus seleksi hanya 20 saja yang mendapatkan beasiswa penuh dari jalur Kemenag, sisanya pake biaya sendiri atau mencari program beasiswa dari jalur khusus baik Pemerintah RI, Swasta ataupun lembaga wakaf di Mesir dengan syarat dan ketentuan yang berbeda-beda.

Setelah semua persyaratan pendaftaran sudah kepenuhi. Seleksi ketat dengan

4

materi ujian tulis Al-Qur’an, Hadits, Fiqih, Nahwu, Shorof & Balaghoh kuikuti secara seksama dengan penuh keringat dingin membanjiri dahi. Dilanjutkan tes hafalan Al-Qur’an dan wawancara dalam Bahasa Arab yang kesemuanya memakan waktu hampir seharian penuh dari jam 9 pagi hingga menjelang Shalat Isya’.

Dua minggu setelah ujian, pengumuman hasil tes seleksi telah dipost di website Kemenag. Dengan sangat hati-hati kueja nama peserta yang lulus satu persatu tanpa terlewat satu hurufpun, sebab di situ banyak nama yang nyaris sama. Setelah yakin tak ada baris kata yang terlewat, Aku hanya berkata: “Alhamdulillah ‘Ala Kulli Hal”. Yah, nampaknya belajar ke Mesir bukanlah rejeki yang Allah gariskan untukku. Setidaknya Aku sudah Ikhtiyar semampuku. Toh ketentuannya tak ada yang salah. Semua sudah diatur sedemikian rupa oleh-Nya.

“Mati satu tumbuh seribu.” Ketika satu lentera harapan telah padam bukan berarti kehidupan akan tenggelam. Tugasku hanya berikhtiyar semampuku, sisanya kupasrahkan kepada Sang Maha Penentu. Kini Aku kembali melakukan lobi langit dan bumi. Mencari banyak relasi dan informasi.

Setelah seminggu dari pengumuman yang cukup membuat gundah di hati. Tepatnya di kamis pagi. Saat Mentari mencoba tuk menyinari. Saat kicau-kicau burung turut menemani. Di saat itulah tiba sebuah informasi. Sebuah lembaga pendidikan di Negeri Ratu Balqis memberi penawaran yang sangat berarti. Yah, pagi-pagi sekali Bang Riski memberiku kabar yang kutunggu ini.

“Dik, minggu depan ada seleksi beasiswa ke Yaman, barang kali mau nyoba?”

Singkat dan padat. Bang Riski tanpa basa-basi langsung ke pembicaraan inti. Ia-pun melampirkan brosur seleksi yang ia maksud. Yah, Bang Riski sudah 4 tahun di Yaman. Dia sekarang sedang sibuk-sibuknya mengerjakan skripsi. “Siap Bang, mohon do’anya semoga Aku bisa diterima, Aamiin.” Balasku atas pesannya.

Saat ini, meski Yaman masih berada di tengah gejolak perang khususnya di Sana’a, Sa’dah, Dzammar dan kota-kota lainnya di Yaman Utara, akan tetapi minat para pelajar Indonesia tak pernah surut untuk menuntut ilmu di Negeri yang dipuji oleh Nabi sebagai Negeri Iman, Hikmah & Fiqih, sebagaimana disebutkan dalam hadits: “Telah

5

datang orang-orang Yaman kepada kalian, mereka berhati lembut, Fiqih adalah Fiqihnya orang Yaman dan Hikmah adalah Hikmanya orang Yaman.” HR. Bukhari, diriwayatkan pula dari Muslim dengan tambahan: “Iman adalah Imannya orang Yaman”.

Yah, inilah salah satu alasanku memantapkan hati untuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru ke Yaman tahun ini. Selain terkenal dengan keteduhan dakwah Ulamanya, Yaman juga sangat kaya akan sejarah dan budaya. Nabi Hud a.s. meghabiskan sisa usianya di Lembah Hadhramaut untuk mendakwahi Kaum ‘Ad. Nabi Sulaiman a.s. setelah membuat Ratu Balqis takluk juga kerap mengunjungi negeri yang begitu eksotis ini.

***

Seminggu telah berlalu dari pesan WA yang dikirim Bang Riski kepadaku. Melintasi rel baja yang membentang ke Cirebon dari Jakarta. Duduk manis di gerbong kereta. Menempuh perjalan tiga jam lamanya. Membelah petak-petak sawah yang menghimpit rel kereta. Mengasyikkan rasanya. Yah, setiap perjalanan panjang Aku lebih suka menaiki kereta. Bukan hanya menghemat waktu semata, harga tiketnyapun sesuai dengan isi dompet yang kubawa. Dan, lebih jauh dari itu semua, ketenangan serta terminimalisirnya letih yang kurasa membuatku memilihnya.

Tiba di lokasi seleksi. Hanya sekitar 3 jam lamanya, 4 tahap ujian kuslesaikan dengan saksama. Tes baca kitab, tes hafalan Al-Qur’an, menulis artikel (Insya’) serta wawancara dalam Bahasa Arab. Kali ini tak aja ujian tulis materi seperti sebelumnya. Setidaknya ujian terasa lebih ringan, terlebih saingan yang hanya menyentuh angka 100-an.

Seminggu telah berlalu dari seleksi yang kuikuti. “Dik, coba cek hasil seleksi di FP Resmi Panitia.” Pesan seorang teman yang juga ikut seleksi bersamaku dari Kota Jakarta. Dengan membaca Basmalah dan penuh harap, kueja secara perlahan nama-nama yang berjejer rapi di layar hp. “Diki Fachrullah,” Yah, akhirnya nama itu bisa kueja dengan baik dan benar. Nama yang sebulan silam tenggelam di antara lima ribuan nama yang turut gagal mengambil kesempatan menginjakkan kaki di tepi Sungai Nil.

Ada jeda sebulan untuk mempersiapkan keberangkatan ke Republik Yaman.

6

Sambil lalu mempersiapkan barang-barang yang kubutuhkan, Akupun mencari banyak informasi tentang Negeri Ratu Balqis ini. Negeri di mana Imam Syafi’i juga pernah mengunjunginya.

Tak ada beasiswa penuh di Yaman. Setidaknya setiap pelajar yang lulus seleksi masih harus membayar biaya transport PP, akomodasi dan visa sekitar 30 hingga 50 juta. Terkecuali bila menggunakan jalur beasiswa khusus, baik Pemerintah ataupun Swasta. Nilaiku Ijazah dan Raportku ala kadarnya. Aku tak terlalu berani mengajukan beasiswa dan proposal ke sana-sini. Dengan modal yang sangat pas-pasan, Ayah memberanikan diri menjual sepetak sawah untuk membiayai keberangkatanku ke Yaman. Sebenarnya Aku tak tega Ayah harus menjual harta warisan satu-satunya yang ia miliki. Tapi, karena ini juga harapan Ayah dan Mamah, mau tidak mau Aku tetap menerimanya meski dengan berat hati.

***

Tak terasa kini sudah di bulan ketiga Kota Mukalla menerimAku sebagai penduduk barunya. Sejak pecah perang Yaman 2015 silam, perjalan ke Yaman harus melalui jalur darat dari Oman. Karena bus yang kutumpangi bermasalah, setidaknya butuh waktu 3 hari untuk bisa sampai ke Kota Mukalla yang seharusnya cukup sehari saja.

Yah, 3 bulan pertama yang penuh dengan perjuangan. Rasa tidak betah dengan beban materi pelajaran yang padat, setoran hafalan dan lain sebagainya terkadang mengerdilkan harapan yang sudah lama dipupuk dan dirawat. Rasanya ingin cepat-cepat pulang, tapi setelah mengingat betapa susahnya untuk menginjakkan kaki di Timur Tengah, terlebih besarnya biaya yang orang tua keluarkan, membuatku terus bertahan seberat apapun ujian yang datang menghadang.

Hidup adalah lading ujian dan terkadang pada titik tertentu akan membuat orang yang diuji ingin mengakhiri semuanya. Tiga bulan kucoba bertahan dengan kembali menata hati serta mencari kesibukan yang berarti. Kupikir tekadku masih seteguh karang, ternyata tidak. Yah, tekadku benar-benar diuji saat persis Aku melewati tiga bulan pertamAku.

7

Yah, jum’at pertama memasuki bulan ke-empat. Seperti bias kami makan siang dengan lauk kambing. Kumerasa ada panas yang menjalar di badanku. Malam harinya Aku makan Mie. Esok harinya ada rasa sakit yang bersarang di perutku, dan pada hari senin pagi rasa sakit itu mencapai puncaknya yang menyebabkanku dibawa ke Rumah Sakit. Setelah selesai didiagnosa, Dokter menfatwakan Aku wajib dioperasi. Tiada pilihan lain. Ada usus buntu yang harus dipotong. Setelah bermusyawarah dengan pihak kampus dan orang tua, keputusan operasi pun segera dilaksanakan oleh dokter bedah.

Di saat kembali ke asrama, rasa sakit bertubi-tubi menyerang bekas operasi di perutku. Untuk pertama kalinya Aku merasa tak sanggup lagi menahan beratnya ujian. Di mana jauh dari keluarga, beban pelarajaran dan setoran hafalan yang begitu terasa berat, ditambah rasa sakit yang dating bertubi-tubi siang dan malam. Terlebih mendengar desas-desus seorang pelajar yang sempat gagal operasi lantas pulang ke Indonesia. Namun tak lama setelah Aku konfirmasi, dia mengalami komplikasi bukan hanya apda usus tapi pangkreas dan hatinya.

Di tengah kesendirian yang menyebalkan. Setan selalu berupaya menggodAku untuk pulang. Aku mengiyakan ajakannya. Orang tuaku pun setuju agar Aku pulang. Akan tetapi, sebelum Aku mengambil jalan pintas ini, Aku berkonsultasi dengan Bang Riski selAku senior dan orang yang memberikan informasi beasiswa ini. Terlebih Abang sudah sering mengurus kepulangan pelajar beberapa waktu lalu. Sekalian Aku ingin Abang mengurus kepulanganku andai ia berkenan.

“Bang… Apakah ku akan tetap tegar menghadapi cobaan ini? Apakah ku akan tetap sabar sedang hatiku saja selalu merintih. Apakah ku akan tetap bertahan sedang pikiranku saja merasa bosan. Apakah ku akan kuat sedang diriku saja di landa rasa lemah. Rintihan hati ini membuatku tak nyaman, keadaan ini membuatku bosan, cobaan ini membuat lemah iman. Bang, izinkan Aku pulang!”

“Dik, satu hal perlu kau kau tahu. Tuhan tak pernah memberikan beban lebih dalam suatu cobaan. Sepertihalnya ujian sekolah, semua sesuai kelasnya. Sesungguhnya ketika Allah mencintai hamba-Nya, Dia akan mengujinya. Dan, tak ada ujian terberat selain ujian Para Nabi. Semua butuh proses Dik, kau tahu proses membuat perhiasan

8

emas? Ditambang, disaring, dibakar, ditempa berkali-kali hingga bisa dibentuk jadi perhiasan, itulah proses Dik.”

“Bang… Aku khawatir, Aku takut jika sampai Aku tak kuasa. Padahal Aku tahu, bahwa ini semua adalah tanda kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Rasa sakit yang terkadang menguasai akal sehatku, mengalahkan keimananku, serta menjadikanku lemah tak berdaya. Sekarang ini, jiwa ragaku sedang d monopoli oleh rasa sakit yang tak tertahankan.”

“Dik, dalam satu riwayat sabdanya, kelak ada beberapa dari hamba-Nya yang mendapatkan pahala yang begitu melimpah, padahal amalnya tak seberapa. Lantas ia bertanya pada Tuhan, dari mana asal pahala itu bermula? “Dari kesabaran yang kau punya saat menerima ujian.Dik, sabar ataupun tidak, ujian tetap berlangsung. Rasa sakit akan tetap menghujam. Bedanya, jika kita sabar ada pahala yang besar dijanjikan tanpa batas. Sedangkan, ketidaksabaran hanya menyisakan rasa sakit semata. Sakit, sangat. Tapi semua ada konsekwensinya.”

“Ilmu agamaku masih kurang Bang. Bahkan, untuk mengartikan makna sabar saja Akupun tak tahu. Apalagi merasakannya. Kesepian, kejenuhan, dan kesendirian ini membuatku berpikir untuk menyudahi jihad yang kuimpikan selama ini.”

“Dik, makin tinggi pohon menjulang, makin kuat angin menerjang. Makin tinggi cita-cita seseorang, makin sering ujian yang datang. Semua butuh proses Dik. Sabar tak perlu diterjemahkan dalam kata-kata, tapi diterapkan dalam penerimaan takdir. Sebab, tanpa kesabaranpun ujian tetap akan menggenggam dengan erat.”

“Bang… Tolong Aku. Bantu Aku. Aku ingin keluar dari ruang kenestapaan ini, apa yang Abang ucapkan benar adanya. Tapi mengapa Aku belum mampu berdiri tegar, belum kuasa mengikhlaskan diri, belum bisa mengokohkan dan menegakkan keimanan?”

“Semua butuh proses Dik. Kau bukan orang yang pertama yang mengalaminya. Dan kau bukan seorang diri yang merasakannya.”

“Ah… Ingin rasanya Aku teriak sekeras-kerasnya. Mengeluarkan keluh kesah yang dirasa. Kumerasa kasihan pada diri ini Bang. Semua ini bagaikan fiktif belaka,

9

padahal yang kuhadapi adalah realita dan fakta.”

“Dik. Setan mempunyai banyak cara untuk menjerat hamba-hamba-Nya. Termasuk dengan lintasan-lintasan dalam hati yang seolah-olah setan menemukan pembenaran atas godaannya, yaitu kesia-siaan apa yang sedang kita cari yang berhadapan dengan realita yang pahit sekali. Setan selalu punya celah untuk mengakhiri, segala sesuatu yang bernilai tinggi. Setan, berteman dengan hawa nafsu berkoalisi untuk menggrogoti, melemahkan semangat hati. Jangan beri setan peluang untuk menguasai. Tiap rasa sakit yang menghampiri, jejaki dengan Istighfar dan Sholawat pada Nabi.”

“Seberat inikah Bang? Kini ku harus berjuang sendiri melawan sakit yang menemani. Bisikan setan terkadang suka melalaikanku, terutama di kala kumerintih perih kesakitan disebabkan luka yang mendalam.”

“Yup, berat memang. Karena beratnya suatu ujian bergantung pada tingginya kelas yang ia masuki. Di sana, masih banyak orang yang jauh lebih berat ujiannya, dengan beban ekonomi yang lebih berat pula dan tak bisa berobat dan dengan beban kesepian tanpa keluarga atau kerabat. Dik, keluhan tak kan meringankan ujian. Dengan memandang kepada yang lebih nyaman, aman, sehat, kaya dan berprestasi, akan menghilangkan kata “Syukur” di lisan dan di hati. Tapi, ketika kita bisa melihat orang yang lebih tidak nyaman dari kita, kurang dalam banyak hal, kata Syukur akan mudah menyemai di lisan dan hati kita.”

“Terima kasih Bang. Engkau sudah menyadarkanku. Setidaknya Aku sudah sedikit bisa berdamai dengan waktu yang selalu membelengguku dalam perasaan pilu.”

“Allah yang menyadarkan, Abang hanya perantara.” [Selesai]

(Visited 19 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.