Oleh : Imam Abdullah El-Rashied
Bukan, bukan karena kesiapan tunanganku untuk menyambutku 2 bulan mendatang di pelaminan, aku bahagia. Bukan, bukan pula karena sebulan lagi wisuda perdanaku akan digelar, bersama puluhan kawan dari Indonesia di Mukalla – Yaman, aku begitu gembira. Tapi, tapi karena jerih payah selama 4 tahun itu, yang kini telah menuai hasil.
Kebahagiaan itu bermula dari sebuah perpisahan dengan keluarga dan orang-orang tercinta 4 tahun silam. Terpisah oleh jarak dan kerinduan, di tengah lembah nan gersang aku berjuang.
Tahu kah Kau akan keelokan Kota Son’a? Tak sempat kukecup seluruh keindahannya dengan mataku di awal kurebahkan diri di atas pangkuannya. Yah, kota eksotik itu telah luluh lantah oleh amukan perang di saat Aku baru menginjak semester ke-4 di negeri jauh ini. Bangunan-bangunan megah yang rata dengan tanah. Anak-anak tak berdosa kehilangan orang tua dan rumah. Serta harapan-harapan yang kian sirnah.
Untuk sementara waktu kami mengungsi ke Tarim, “Ibu Kota Kebudayaan Islam” sebagaimana UNESCO menobatkan. Mencari aman sesaat atau pulang untuk selamanya. Udin, kawan dekat yang berbadan gemuk itu sedikit memaksaku; “Haris, kau harus ikut evakuasi denganku. Malam ini kita akan menghadap Syeikh untuk izin pulang“.
Kau pun tahu sendiri, betapa mencekamnya keadaan Yaman saat itu. Pemberitaan media yang kian menggila dan orang tua yang mengemis-ngemis anaknya agar segera pulang. Meski demikian, Tarim merupakan zona teraman selama masa perang berlangsung di Yaman. Inilah yang membuat kami gigih bertahan.
Malam itu Si Udin menghadap ke Syeikh. Dia mencari-cariku namun tak kunjung menemukanku. Aku sengaja bersembunyi di kamar mandi selama berjam-jam agar Si Udin tak memaksaku untuk ikut evakuasi bersamanya. Jika saja batang hitungku nampak malam itu, habis sudah semua mimpi-mimpiku. Esoknya Dia marah-marah kepadaku. “Maaf, semalam aku sedang sakit perut, jadi tidak bisa menghadap Syeikh“, ucapku tuk mengelak dari mukanya yang mulai menyala.
Sudah 3 bulan rasanya keberadaanku di tempat pengasingan. Konflik perangpun enggan menurunkan debu-debunya. Setiap harinya Aku wajib meyakinkan orang tuaku bahwa anak kesayangannya ini aman-aman saja dan jauh dari konflik perang.
Di tengah gejolak perang yang kian melebar di Yaman itulah, seorang kawan membawa secercah harapan kepada kami. Kami memanggilnya Abdul, si anak Madura
yang hadir dengan inspirasi dan ide-ide segar. Di saat kebanyakan orang cemas dengan konflik perang, Ia justru memanfaatkan masa pengasingan itu dengan hal yang positif. Ia dengan keyakinannya yang kuat mengajak kami kakak-kakak kelasnya bergabung dengannya dalam Tim Jurnalis Muda.
Meskipun statusnya sebagai penggagas, namun ia nampak tak menggurui, malah memotivasi. Hebatnya, Baim yang selama ini tak pandai mengetik dan tak pernah menulis itu bisa sampai menelorkan banyak artikel terjemahan yang kesemuanya berawal dari ketelatenan Abdul. Firasatnya sangat tajam, Ia mampu menebak orang-orang dengan bakat menulis yang tersembunyi. Beberapa kawan yang ia ajak bergabung kini mulai aktif menulis artikel-artikel ilmiyah dan warta tentang kegiatan di Yaman, lantas mengirimkannya ke beberapa surat kabar dan website-website besar di Indonesia.
Dalam hal ini, menurutku Abdul telah sukses merubah masa kesedihan perang dengan sebuah harapan baru, yah Dunia Jurnalistik. Bukan sekedar menulis artikel, sebagian mereka telah mempersiapkan naskah buku untuk dicetak. Sebagian sedang tawar-menawar dengan beberapa penerbit dan sebagian lagi sedang sibuk merevisi setiap tulisan yang ia rangkai halaman demi halaman.
Yah, salah satu di antara mereka adalah diriku. “Penulis Muda dengan integritas yang mumpuni serta memiliki pemikiran-pemikiran yang masih baru dan segar“, sebagaimana pujian salah satu pimpinan ormas besar di Indonesia saat memberikan kata sambutan untuk buku perdanaku ini.
Yah, inilah sebab dari membuncahnya kegembiraanku saat ini. Berada di pengungsian 15 bulan lamanya tak membuatku mati langkah. Adalah Abdul yang giat menarik tanganku di saat kegelisahan menyelimuti hari-hari gelapku. Dialah salah satu sosok inspiratif yang membangkitkan semangat berkaryaku untuk umat. “Berkarya tanpa henti dengan segala kemampuan yang dimiliki walau keadaan tak berempati“. Itulah pesan yang ingin ditanamkannya pada diriku, pemuda yang nyaris terhenti menggapai cita-cita karena nestapa.
Dua minggu yang lalu naskahku sudah naik cetak, setelah berbulan-bulan lamanya bernego dan mencari kata sambutan. Dan hari ini, seribu exemplar buku yang berisi 67 masalah kekinian itu sudah siap dipasarkan. Aku sangat bersyukur kepada Allah atas segala kemudahan yang Ia limpahkan kepada hambaNya yang Dhaif ini. Syukur kepadaNya telah mengirimkan teman-teman yang mampu menguatkan di saat ujian kehidupan menghujam tak tertahankan.
Aku begitu bergimbira. Jerih payahku selama 2 tahun terakhir kini terbayarkan. Siang malam di tengah menumpuknya tugas kuliah, kusibukkan diri dengan mencari teks-teks klasik di perpustakan dan dari kitab-kitab yang aku dapatkan dari hasil
menabungku. Siang malam yang terlewatkan untuk mencari solusi permasalahan kekinian umat kini sudah bisa kutunaikan.
Itulah ceritaku pada seorang kawan yang bertanya sebab Di Balik Senyumku yang begitu merekah hari ini.[]
