Oleh : Ghinda Aprilia
Sejak awal tahun 2007 tinggal di Negeri Beton, banyak cerita unik yang tidak pernah saya rasakan di kota Hujan, Bogor.
Ya salah satunya adalah perbedaan cuaca. Disini saya suka musim dingin (winter) daripada musim panas (summer). Ketika kedinginan cukup pakai jaket tebal, kaos kaki dan sarung tangan, walau saat bekerja kurang nyaman.
Musim panas, harus berdamai dengan panas teriknya matahari yang menyengat kulit dan jika kepanasan kulit saya terasa gatal dan ada bintik-bintik merah.
Suka atau tidak, di Hong Kong saya harus berdamai dengan TaiFung (Badai Topan) yang setiap tahun menghampiri. Momen TaiFung yang sangat berkesan dan tak terlupakan manakala saya dan teman-teman akan mengadakan wisuda kelulusan kejar paket B dan C yang diadakan oleh Dompet Dhuafa Hongkong pada tahun 2017.
Pagi itu saya bimbang harus keluar atau tidak. Kebetulan saya tinggal di daerah Taiwai dekat bukit yang cukup menyeramkan jika badai datang, persis di kamar langsung menghadap ke bukit. Nampak curah hujan yang sangat lebat dan suara angin yang sangat kencang.
Sebagai ART tentu persiapan sebelum menyambut TaiFung adalah jendela-jendela kaca dilapisi lakban, semua jendela dan pintu harus tertutup dan terkunci.
Dan yang tak kalah hebohnya yaitu membeli persediaan bahan makanan untuk stok selama badai. Seperti halnya yang saya lakukan kemarin, tanggal 12 pagi setelah membuat sarapan, pergi ke pasar dengan meninggalkan Sailo yang masih tertidur pulas. Turun ke bawah , angin sudah lumayan kencang sambil tergopoh-gopoh berjalan dengan badan sempoyongan.
Suasana di pasar lumayan rame, banyak toko yang tutup termasuk toko-toko Indonesia yang ada di pasar Sham Shui Po. Di pasar harus rela antri rebutan membeli sayuran, daging dan ikan. Harga melambung karena minimnya pasokan, sementara yang pembeli seolah-olah berlomba membeli sebanyak-banyaknya. Saya sendiri membeli bahan makanan untuk dua hari ini.
Dikutip dari Hong kong Observatory, ramalan cuaca Hong kong pada tanggal 9 Oktober 2021 bahwa selain angin topan Lionrock yang membawa cuaca sangat buruk di Hong kong saat ini, angin topan yang dinamai Kompasau telah menguat menjadi sebuah badai tropis dengan kekuatan angin sekitar 75 km per jam. Diperkirakan Kompasau akan menguat menjadi sebuah badai tropis kuat dengan kecepatan angin sekitar 105 km per jam pada tanggal 11 Oktober 2021.
Kompasau akan memasuki wilayah 800 km pada tanggal 12 Oktober 2021. Dan pada saat itu kecepatan angin Kompasau sekitar 110 km per jam.Kompasau akan melintasi wilayah 350 km Hong kong bagian selatan pada 13 Oktober 2021 dan memasuki wilayah daratan pulau Hainan pada tanggal 14 Oktober 2021 dengan kecepatan angin 90 km per jam. Diperkirakan wilayah Hong Kong akan mengalami gelombang pasang dan hujan lebat.
Kencangnya angin sangat terasa walau topan di level T3, itu diakibatkan oleh adanya pertemuan arus angin Monsun Timur dengan pergerakan tekanan cincin di luar pusaran topan Kompasau semakin mendekati wilayah Hong Kong.
Menurut Otoritas Rumah Sakit, setidaknya empat pria dan dua wanita mengalami luka-luka saat Kompasau menyapa Hong kong. Diantara mereka satu orang pria berusia 31 tahun dinyatakan meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan medis di Departemen Kecelakaan dan Darurat rumah sakit umum pada Rabu 13 Oktober 2021.
Sementara itu Pusat Panggilan Pemerintah 1823 telah menerima 15 laporan pohon tumbang pada pagi hari ini. Departemen Layanan Drainase telah menerima tujuh kasus banjir.
Departemen Dalam Negeri sejauh ini membuka 24 tempat penampungan sementara di berbagai distrik, dan 218 orang telah mengungsi ke tempat-tempat penampungan tersebut. Keren kan Hong Kong saling bahu membahu.
Hongkong Observatory menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk menjauhi bibir pantai dan meninggalkan seluruh aktivitas di air. Hindari berada di tempat terbuka, serta pantau terus cuaca melalui Televisi atau kanal online.
Salut bagi pemerintah Hongkong yang selalu siap siaga di setiap keadaan. Bagi petugas di area jalan biasanya banyak pohon-pohon tumbang, banjir dan longsor, mereka tanggap dengan cepat merapikannya kembali.
Semoga badai cepat berlalu. Lumayan membuat bosan penghuni rumah terkurung di dalam 2 hari ini. Sekolah, toko-toko, dan perkantoran tutup. Harus berdamai dengan alam termasuk mensyukuri fenomena alam yang tidak bisa dihindari.Tetapi bagi saya tidaklah merasa bosan. Masa pandemi lebih banyak bersyukur. Banyak acara webinar termasuk pagi ini ikut pengajian Pejuang Subuh, dilanjut Morning Bos, selain itu juga tetap melakukan pekerjaan rumah rutin, membersihkan rumah dan memasak.

Naaaah, baguslah memotretnya dalam literasi.Penglataran itu sungguh mahal,Ghinda. Tak setiap orang pernah ke Negri Beton, maka patutlah dijepreeeetm diolah dengan penamu.
Salam Literasi, teruslah berjuang dan menulislah!
Siiiiaaaapppp Manini, ulah bosen kritiknya.
Kalau foto itu dapat dari teman, karena saya gak bisa keluar.