Oleh: Ruslan Ismail Mage
Selamat dan tetap semangat, Sahabat! Di tengah kehidupan sosial yang tercabik-cabik, rasa kemanusiaan diperkosa, tali-temali silaturahmi digunting-gunting dan dipotong-potong, denyut nadi kehidupan saudara-saudara kita di bawah berhenti dan tersumbat oleh serangan COVID-19 yang membabi-buta. Jiwaku menjadi liar memberontak dalam sunyi. Mataku pun basah dalam kekeringan rasa #wajibPCR.
Seorang sahabat pena di ibu kota yang memahami liar dan tajamnya mata penaku bertanya, kenapa RIM belum mengeluarkan tulisan-tulisan yang mengkritisi gentayangannya “PengPeng (Penguasa-Pengusaha) Berbisnis PCR”?
Kalau belum bersuara atas maraknya protes masyarakat terhadap wajib PCR bagi penumpang pesawat, padahal sudah memiliki bukti vaksin dua kali, sudah terdaftar di aplikasi PeduliLindungi, itu karena keterlibatan PengPeng berbisnis PCR di tengah pandemi benar-benar sudah melumpuhkan akal sehat.
Karena itu, untuk memfungsikan akal sehat, RIM lebih tertarik menjahit waktu dan menyulam masa di rumah jiwa Bengkel Narasi di angkasa dengan merekontruksi ulang tulisan bersambung, “Petarung Cinta Sejati”.
Maha karya La Galigo adalah salah satu karya sastra terbesar di jagad ini, bisa jadi adalah naskah klasik terpanjang yang pernah dihasilkan umat manusia. Tersusun sekitar 300.000 larik sajak dengan berbagai cerita berangkai. Menurut peminat sastra Nirwan Ahmad Arsuka (Kompas 1/2/2000), dari segi jumlah larik saja, La Galigo sudah melampaui lebih panjang satu setengah kali epos terbesar anak benua India yang kerap dianggap terpanjang di dunia “Mahabharata”.
Alkisah, seorang putra mahkota Kerajaan Luwuk bernama Sawerigading tengah gembira bermain bola raga (maraga) di halaman istana. Di kalangan lingkungan istana, sang putra mahkota dikenal punya hobi dan piawai memainkan bola sebesar buah kelapa itu yang terbuat dari anyaman rotan. Suatu waktu, ketika sedang riang maraga, tanpa sengaja bola raganya tertendang tinggi sampai memecah salah satu jendela kaca di lantai dua istana.
Ketika Sawerigading menengok ke atas mengikuti arah bola, terlihatlah seorang gadis di lantai dua istana yang kecantikannya melebihi kecantikan semua bidadari di langit biru. Seketika kecantikan sang gadis itu mencabut seluruh fungsi-fungsi pancaindra Sawerigading. Matanya yang tajam tidak mampu lagi melihat benda selain raut wajah putih seputih kapas itu. Telinganya tidak mampu lagi mendengar suara selain bisikan kalbunya yang mendayu-dayu. Bibirnya tak sanggup lagi menyebut sepata kata pun selain decak kagum tak terbahasakan dalam kebisuannya. Kedua kakinya yang selama ini lincah memainkan bola raga tak mampu lagi ia gerakkan. Hatinya pun yang selama ini kokoh laksana batu karang kini meleleh, mencair, dan mengalir menelusuri urat nadinya hingga tenggelam di muara rindu.
Rindu tak terbatas ke dara kelewat cantik yang menghabiskan waktu dengan mabuk mandi dan bercakap dengan segala jenis burung. Seorang makhluk langit yang dititipkan ke bumi. Sang putra mahkota telah jatuh cinta kepada gadis yang membuat seluruh ruang dan waktu memancarkan cahaya karena kecantikannya. Makhluk paling cantik dan paling cendekia dalam seluruh kosmologi Bugis.
Pangeran muda itu sesungguhnya sudah punya beberapa istri. Tetapi, setelah melihat kecantikan gadis itu, lumpuh semua ingatannya. Dia tidak pernah merasakan cinta sekuat dan sedalam ini sebelumnya. Inilah cinta sejatinya yang dicari dan diperjuangkan, walau harus menghancurkan hukum dan segala jenis norma. Baginya, cinta adalah hukum atau norma itu sendiri. Ketika sedang jatuh cinta, tidak ada lagi hukum atau norma yang berlaku, karena hukum atau norma tertinggi adalah CINTA itu sendiri.
Sejak melihat sepintas kecantikan wajah gadis itu, sukmanya terbang dan rohnya memberontak memporak-porandakan kenyataan. Karena itu, dengan berbagai cara Sawerigading terus mencari jalan untuk menemui dan memiki cinta gadis pujaannya. Namun, seluruh arah mata angin tertutup rapat tak memberinya celah.
Kenapa Sawerigading sang putra mahkota yang perkataannya adalah hukum tak terbantahkan sulit memiliki cinta sang gadis yang selama ini tinggal di lantai dua istana? Siapakah sesungguhnya gadis itu yang tidak mudah mabuk dalam gelombang cinta sang pengeran muda bermata elang itu?
Bersambung

Penasaran sekali…
Ketika sedang jatuh cinta tdk ada lagi hukum atau norma yg berlaku ,karna,hukum atau norma adalah cinta itu sendiri ,tak ada yg bisa mengalahkannya ,bahkan rindu itu akan selalu datang menyerang bertubi tubi
Keseluruh arah ,membuat sipemuja cinta lemas tak berdaya,,sangat nenarik u/ dibaca
Aku bisa meroga kocek u/ berburuh buku sawerigading si pemuja cinta,,penggila cinta